Meninggal Usai Mengumandangkan Adzan Jum'at

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Tak seorang pun yang tahu, kapan dan dimana ia akan menemui ajal. Juga, dalam keadaan apa kematian itu nanti menjemput.

Ilustrasi

Kematian adalah rahasia Allah. Oleh sebab itu, orang yang bernasib mujur adalah orang yang menemui ajal ketika ia sedang menjalankan ibadah, entah itu menunaikan shalat, haji atau ibadah-ibadah yang lain, seperti akhir kisah dari seorang muadzin di bawah ini yang tiba-tiba tersungkur, lalu menutup mata seusai mengumandangkan adzan Jum'at.

Kisah yang terjadi di awal Desember 2005 lalu di desa Rajabasat, Kecamatan Lama, Kabupaten Lampung Timur, provinsi Lampung ini semoga saja bisa menjadi satu ibroh atau teladan bagi kita semua dalam menjalani hidup ke depan.

MENINGGAL TIBA-TIBA

Siang itu hari Jum'at awal Desember 2005. Matahari sudah berada di atas kepala. Panas menyengat dan gerah. Tetapi, orang-orang muslim di desa Rajabasat, tak urung beranjak dari rumah, berbondong-bondong pergi ke Masjid At-Taqwa yang terletak di tengah kota.

Waktu Shalat Jum'at pun tiba dan seorang muadzin, Ahmad Sholeh (45 tahun) beridri dari tempat duduk menuju ke mihrab. Dengan suara lantang, dia mengumandangkan adzan.

Jama'ah yang ada di masjid terpaku diam, dan khusuk mendengarkan dan juga menghayati alunan adzan Ahmad (demikian dia biasa dipanggil oleh warga desa) yang merdu, menyentuh hati. Suara adzan itu mendayu-dayu dan ritme yang terdengar pun bahkan serasa seperti siraman air yang menyejukkan hati, ada semacam sentuhan ghaib yang merenggut qalbu, sehingga tercipta keteduhan dan suasana yang tenang.

Hingga kemudian, adzan yang dikumandangkan oleh Ahmad berakhir. Jama'ah memanjatkan doa (usai adzan berakhir), lantas serentak berdiri melaksanakan shalat sunnah dua raka'at. Sejurus kemudian, sang khatib beranjak ke mimbar, mengucapkan salam dan memulai berkhutbah.

Tetapi, Ahmad yang saat itu duduk di shaf pertama entah kenapa tiba-tiba roboh di samping kiri, menyandar di bahu seorang jama'ah yang berada tepat di sampingnya. Dan orang yang berada di samping Ahmad itu, hanya mengira kalau Ahmad sedang disergap kantuk. Ia pun hanya diam, karena tak enak jika harus menyentil bahu Ahmad.

Tetapi beberapa saat kemudian, Ahmad ternyata tidak kuasa menahan diri. Dia tak bangun atau sadar sehingga lepas dari sandaran bahu orang yang ada di sampingnya. Tubuhnya tiba-tiba tersungkur jatuh, roboh ke depan. Tubuh Ahmad terlihat lemas, mengundang heran jama'ah dan juga setangkup rasa curiga. Apalagi, dia dalam posisi yang seakan-akan sedang sujud sekaligus juga sedang tengkurap. Hanya saja tampak dahi Ahmad tidak persis menempel di sajadah.

Seketika itu, para jama'ah yang berada di shaf awal dekat tempat Ahmad pun tersentak kaget, terperanjak. Lama, Ahmad tidak juga bangun. Kontan, seorang jama'ah yang bernama Bahron segera membopong Ahmad untuk dibawa ke luar ruangan atau dibawa ke beranda masjid dengan dibantu oleh beberapa orang jama'ah.

Di beranda itu, Bahron kemudian berusaha mengusap-usap wajah Ahmad, juga menempelkan telapak tangannya tepat di dada Ahmad, "Eh, jantungnya masih berdetak," seru bahron pada orang-orang.

"Kalau begitu, cepat-cepat dibawa ke rumah sakit!" timpal jama'ah lainnya.

Ahmad pun dibaringkan dengan kaki membujur. Napas Ahmad tampak lemah, ritmis dari detak jantung yang nyaris tak berdegup dengan kencang. Orang-orang panik dan sungguh dicekam bingung.

JENAZAH ENTENG

Akhirnya, salah seorang dari jama'ah memberitahu keluarga Ahmad. Keluarga Ahmad datang, lalu membawa laki-laki yang biasa menjadi muadzin itu ke rumah sakit. Tapi, sayang seribu sayang dan semua itu tak bisa dielakkan lagi.

Belum sempat Ahmad sampai di rumah sakit, belum sempat tubuh Ahmad itu disentuh dokter, belum sempat tangan Ahmad tersentuh jarum infus, Ahmad ternyata sudah menghembuskan nafas terakhir. Ahmad tak tertolong lagi. "Innalillahi wa inna ilahi rajiun," ucap salah seorang keluarga Ahmad.

Suara tragis istri dan juga kerabat dekat Ahmad yang mengantar ke rumah sakit seperti tidak terbendung lagi. Tangis mereka pecah, dan derai air mata yang tumpah itu menyiratkan kesedihan yang berat. Ahmad, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.

"Sungguh kejadian yang menimpa Ahmad ini tidak diduga sebelumnya," ungkap Bahron yang juga masih kerabat dekat dengan Ahmad.

Hari itu juga, Ahmad segera di urus. Karena itu setelah sampai di rumah, jenazah Ahmad segera dimandikan, dikafani dan kemudian dishalati. Setelah jenazah Ahmad siap, iringan-iringan para pelayat memberangkatkan almarhum ke tempat pemakaman umum, yang letaknya di ujung bagian barat kampung Rajabasat. Saat diberangkatkan ke pemakaman itu, jenazah Ahmad terasa enteng dan ringan.

Kepergian Ahmad yang tidak terduga itu, tentu tidak membuat keluarga Ahmad saja yang merasa sedih, melainkan juga hampir semua warga kampung Rajabasat Lama. Karena mereka merasa kehilangan atas kepergian seorang muadzin yang punya suara merdu dan indah itu.

Warga sungguh tak menyangka Ahmad akan pergi secepat itu. Dan kalau ada salah satu hal yang membuat kesedihan itu dapat terhapus dan bahkan tergantikan dengan sebuah harapan untuk tidak hanyut di dalam suasana duka yang berlarut-larut adalah cara kematian Ahmad yang terjadi usai mengumandangkan adzan Jumat sebagai pertanda sebuah kematian yang husnul khatimah sehingga orang-orang yang kebetulan melihat wajah Ahmad sebelum diberangkatkan menuju pemakaman di siang itu tampak putih berseri, tidak lagi mengundang rasa heran.

BANYAK MENOLONG ORANG

Semasa hidup, Ahmad dikenal warga kampung Rajabasat Lama sebagai seorang yang mudah bergaul, murah senyum dan banyak menolong orang. meskipun profesi Ahmad sebagai seorang petani lada, akan tetapi itu tidak menjadi penghalang baginya untuk menyempatkan diri berbau dengan masyarakat di kampung.

Hampir seminggu sekali Ahmad selalu berkunjung ke rumah sanak famili atau tetangga dekatnya. Tujuannya tak lain adalah hanya untuk melihat-lihat keadaan mereka, sehat atau sedang sakit. Karena Ahmad tidak ingin tali silaturrahmi dengan keluarga itu terputus.

"Ahmad itu disenangi banyak warga kampung karena ia tidak pernah membuat masalah. Bila di ajak bergotong royong guna membuat jembatan misalnya, Ahmad biasa datang lebih awal dibanding dengan warga yang lain. Selain itu, ia juga suka membantu orang-orang yang kesusahan, terutama anak-anak yatim piatu dan para janda yang ada di kampung Rajabasat Lama," cerita Bahron tentang almarhum.

Sebenarnya, Ahmad anak seorang lurah di kampung itu. Akan tetapi, jabatan orang tua nya sebagai lurah tidak membuat dia sombong atau congkak, juga tak membuat dia kaku bergaul dengan warga. Seperti yang dituturkan Bahron, selain murah senyum, ia juga terbilang orang yang tergolong dermawan.

"Padahal ia itu bukan termasuk orang yang kaya. Tapi, karena dia senang bersedekah, maka Allah pun selalu menambah rezekinya. Saya hanya dapat mendo'akan semoga ia mendapat tempat yang mulai di sisi Allah," lanjut Bahron.

Ternyata, Ahmad tidak hanya dikenal sebagai dermawan saja. Soal lain, dia juga termasuk orang yang suka berbagi ilmu. Ia senang menasihati pemuda di kampung itu agar tidak berhenti dalam menuntut ilmu.

"Ilmu itu bukan hanya kita dapat dari sekolah atau tempat kuliah. Tetapi ilmu itu bisa kita cari di mana dan kapan pun, selagi kita mau mencarinya," ujarnya suatu ketika sebagaimana diceritakan bahron.

Meskipun pendidikan Ahmad boleh dikata hanya sampai di tingkat SMA, tetapi semangat Ahmad untuk belajar dan menuntut ilmu tak pernah pupus. Ahmad ikut aktif dalam pengajian seminggu sekali yang diadakan warga kampung Rajabasat di Masjid At Taqwa. Dan dalam setiap pengajian itu, Ahmad kerapkali dipercaya untuk menjadi pembawa acara (amir majlis).

Pernah, pada suatu saat Ahmad diminta warga untuk tampil sebagai pembicara. Tetapi dengan amat tawadhu' (rendah hati) Ahmad menolak. Ia menolak tampil sebagai pembicara bukan lantaran ia tidak mau berbagi pada jama'ah pengajian di kampung itu, tetapi ia menolak hanya semata-mata karena ia merasa ilmu yang dimiliki masih sangat minim.

"Dia itu orangnya sangat rendah hati. Padahal kami (Warga) tahu kalau Ahmad itu alumnus dari salah satu pondok pesantren di Tanah Jawa," ucap Bahron. "Tapi karena warga itu terus meminta, Ahmad pun mau tak mau harus tampil sebagai pembicara di pengajian malam itu", Lanjut Bahron.

Selain aktif mengikuti pengajian rutin yang diadakan seminggu sekali, Ahmad juga dipercaya warga untuk mengajar TPA di Masjid At Taqwa. Ada sekitar 50 anak didik yang diajar oleh Ahmad tentang tata-cara membaca dan menulis Al-Qur'an serta tentang cara mengambil wudhu dan shalat yang sesuai dengan sunnah Rasul SAW.

Di luar itu, Ahmad memberi teladan dan menekankan pentingnya moral kepada setiap anak, dan mengajarkan bagaimana cara berakhlak yang baik dan benar seperti menghormati yang tua, menyayangi yang muda dan hal kecil lain, semisal menebarkan salam saat hendak masuk dan meninggalkan rumah. Juga mengajari cara berdoa ketika mau makan, ketika mau belajar, mau keluar rumah dan doa'doa lain lagi yang sudah ia amalkan dan ajarkan kepada anak-anaknya sendiri di rumah.

Dengan bekal ilmu yang Ahmad peroleh dari pondok pesantren di pulau Jawa, dia cukup dibutuhkan masyarakat. Ahmad dianggap warga banyak menyumbangkan hal-hal positif yang bersifat membangun, sehingga warga kampung Rajabasat pun kian simpati kepada Ahmad termasuk kepada keluarganya pula.

Dalam kehidupan bermasyarakat, Ahmad dikenal warga sebagai orang yang tak pernah berbuat ulah. "Tidak pernah ada seorang atau kelompok warga kampung yang hendak menyakiti mereka. Sebab mereka tak pernah ada masalah yang sifatnya dibenci warga. Ahmad termasuk orang yang berhasil dalam membina anak-anak dan isterinya," cerita Bahron.

Karena itu, kepergian Ahmad benar-benar dikenang warga kampung. Memang, Ahmad sudah pergi selama-lamanya, tetapi jasa-jasa dan segala kebaikannya tetap akan dikenang selalu oleh warga kampung, terutama anak dan isteri Ahmad sendiri.

Hampir semua warga, masih merasakan Ahmad hidup dalam kenangan. Dan mereka berharap, semoga kepergian sang muadzin itu, termasuk kematian yang khusnul khatimah (akhir dari kematian yang baik), karena kejadian itu terjadi usai Ahmad mengumandangkan adzan Jum'at. Sebuah akhir kisah yang memang menjadi dambaan bagi setiap muslim.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...