Malam Rahasia Bernama Lailat Al-Qadr

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Kerahasiaan kapan turunnya malam yang didambakan ini, sebenarnya, jsutru membawa hikmah agar manusia yang beriman berusaha keras mencarinya serta bersemangat menunaikan ibadah sepanjang malam di bulan Ramadhan.

Ilustrasi Malam Seribu Bulan

Lailat al-Qadr atau malam seribu bulan selalu menjadi buruan kaum muslim setiap bulan Ramadhan tiba. Janji Allah bahwa kebaikan malam itu akan diganjar sebanding dengan seribu bulan merupakan alasan logis jika para shaimin (orang yang berpuasa) mendambakan malam tersebut.

Dalam al-Quran, surat al-Qadr, ayat 3 disebutkan, "Lailat al-Qadr lebih baik dari seribu bulan." Lebih-lebih lagi, Al-Quran juga menyebutkan bahwa pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan seizin Allah untuk mengatur berbagai macam urusan. Pada sepanjang malam itulah kesejahteraan dianugerahkan oleh Allah SWT. sampai terbit fajar.

Sebagian ulama mengartikan kata lailat al-Qadr sebagai malam penentuan atau penetapan. Maka itu, terkadang lailat al-Qadr juga dipahami sebagai malam penentuan atas segala macam perkara kehidupan manusia dan bangsa-bangsa untuk setahun mendatang.

Sebagaimana yang disebutkan dalam surat ad-Dukhan : 3-4, "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah."

Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini adalah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti: hidup, mati, rezeki, keberuntungan, keburukan, dan lain sebagainya. Ketentuan-ketentuan itu sifatnya ghaib dan hanya Allah saja yang Maha Tahu.

Mengerjakan amal saleh pada lailat al-Qadr pahalanya akan lebih banyak jika di bandingkan dengan amal saleh yang dilakukan pada malam lain. Seribu bulan sebanding dengan 83 tahun, 4 bulan. Namun demikian, menurut Imam al-Maraghi, bilangan seribu bulan boleh jadi hanya untuk menunjukkan bilangan yang sangat banyak menurut penuturan orang-orang Arab. Ia tidaklah mesti tepat dalam jumlah seribu bulan.

Meski lailat al-Qadr diyakini pasti turun di bulan Ramadhan. Namun, tidak diketahui secara pasti kapan malam yang penuh berkah itu turun. Allah sajalah yang secara pasti memiliki pengetahuan tentang hal itu. Adapun keterangan bahwa lailat al-Qadr turun pada hari atau malam tertentu juga berbeda-beda. Itulah yang menyebabkan lailat al-Qadr senantiasa menjadi malam rahasia.

Sebagian ulama menyebutkan lailat al-Qadr turun pada malam ke-17 (HR. Ahmad bin Hanbal). Sebagian lagi menyebutkan pada malam ke-27 (HR., Bukhari). Ada pula yang menyebutkan pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan (HR Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, dan an-Nasa'i dari Abu Hurairah). Bahkan, ada yang berpendapat bahwa Lailat al-Qadr turun pada suatu malam di antara malam-malam sepanjang bulan Ramadhan. (HR. Ahmad bin Hanbal).

Barangkali, menganut pendapat yang terakhir ini akan lebih memungkinkan kita untuk menjumpai lailat al-Qadr, karena kita akan selalu terjaga setiap malam dari awal sampai akhir Ramadhan.

Kerahasiaan kapan turunnya malam yang didambakan ini, sebenarnya, justru membawa hikmah agar manusia yang beriman berusaha keras mencarinya serta bersemangat menunaikan ibadah sepanjang malam di bulan Ramadhan. Semalan saja ia meninggalkan amalan baik atau tidak melakukan ibadah, maka kemungkinan ia tidak mendapatkan berkah lailat al-Qadar bisa saja terjadi.

Kerahasiaan kapan datangnya lailat al-Qadr itu seperti halnya kerhasiaan kapan doa kita dikabulkan. Juga kerahasiaan keridhaan Allah terhadap kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Dan seperti halnya juga rahasia-rahasia Allah yang lain.

Oleh karena itu, mencari lailat al-Qadr di bulan Ramadhan hukumnya sunnah (mustahab). Sebab malam itu adalah malam mulia, diberkahi dan diutamakan. Di dalamnya, kemungkinan besar doa dikabulkan.

Hadits riwayat Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Barang siapa bangun pada lailat al-Qadr karena iman dan penuh keyakinan, maka dosa-dosanya yang silam akan diampuni," Demikian, kemurahan Allah turun pada malam itu.

MATAHARI TERBIT DALAM KEADAAN PUTIH

Lailat al-Qadr adalah malam di mana al-Qur'an diturunkan. Dalam surat al-Qadr memang tidak disebutkan bulan Ramadhan, namun dalam ayat lain disebutkan bahwa "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk-petunjuk itu, serta sebagai pembeda..." (QS. 2:185). Dari ayat ini dapat diketahui bahwa lailat al-Qadr itu terjadi pada salah satu malam di bulan Ramadhan.

Jumhur ulama berpendapat bahwa lailat al-Qadr itu terulang setiap tahun di bulan Ramadhan sampai hari kiamat. Alasannya, ketika ALlah SWT. berfirman bahwa pada malam itu "tanzzal al-malaaikah wa ar-ruuh" (para malaikat dan malaikat Jibril turun ke bumi, Allah menggunakan bentuk kata fi'il mudhari (kata kerja yang berarti sedang atau akan), yang menunjukkan bahwa malam itu berlangsung terus menerus.

Selain itu, pendapat ini dikuatkan oleh hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Abu Zarr al-Ghifari. Abu Zarr berkata kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, lailat al-Qadr itu hanya berlangsung pada masa nabi-nabi, dan setelah berlalunya masa nabi-nabi itu, berhenti pulalah lailat al-Qadr." Nabi Saw. menjawab: "Tidak, tetapi ia berlangsung terus sampai hari kiamat."

Lalu, sepertia pa sesungguhnya gambaran lailat al-Qadr itu? Beberapa riwayat hadits memberikan keterangan. Yang paling populer adalah keterangan dari Ubay bin Ka'ab, dari Nabi Saw. ia menggambarkan bahwa tanda-tanda lailat al-Qadr telah turun adalah pada pagi harinya matahari terbit dalam keadaan putih, tidak memiliki pancaran sinar (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan Turmudzi). Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa putihnya matahari itu seperti tembaga.

Dalam keterangan lain, tanda-tanda lailat al-Qadr itu adalah jika malam terlihat jernih dan nyata, seakan-akan di dalamnya terdapat bulan yang memancarkan (sinarnya). Ia merupakan malam yang hening dan sunyi; di dalamnya tidak ada rasa dingin dan panas.

Di dalamnya tidak ada benturan meteor sampai pagi. Dan pada pagi harinya, matahari muncul dalam keadaan tenang, tidak memiliki pancaran sinar seperti halnya bulan pada malam purnama. Pada saat lailat al-Qadr, setan tidak berhak keluar.

MALAIKAT-MALAIKAT DITURUNKAN

Pada ulama enggan menjelaskan apa makna sesungguhnya dari turunnya malaikat pada malam itu. Mereka, misalnya, hanya menyebutkan bahwa para malaikat dan malaikat Jibril turun dari alam ruhani sehingga nampak oleh Nabi, terutama malaikat yang menyampaikan wahyu.

Menurut mereka, kita tidak perlu menyelidiki bagaimana cara dan rahasianya. Yang dapat diketahui oleh manusia tentang hal ini amatlah sedikit sekali. Sebagaimana dalam firman Allah: "Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit." (QS. Al-Isra: 85).

Kita boleh saja tidak puas karena tidak memperoleh informasi siapa saja dari jenis malaikat itu yang turun di dunia. Bahkan menurut sebagian pandangan ulama makna dari al-Qadr itu sendiri salah satunya adalah sempit. Hal ini disebabkan pada malam itu malaikat begitu banyak yang turun sehingga bumi menjadi penuh sesak. Namun demikian, kita dianjurkan untuk mengimaninya saja.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...