Ketika Arah Kiblat Bergeser

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - Kiblat merupakan hal yang sangat urgen. Di sanalah kita menghadap setiap kali menjalankan shalat. Karena itu ketika arahnya bergeser akibat pergerakan lempeng bumi, tentu menjadi masalah bagi kita.


Belum lama ini kita dikejutkan oleh berbagai pemberitaan tentang tidak tepatnya arah kiblat masjid-masjid di Indonesia. Ketidak-tepatan ini terjadi terutama di daerah-daerah yang rawan gempa, seperti : Yogyakarta, Tasikmalaya, Sumatera dan sebagainya.

Tentu saja pemberitaan ini meresahkan umat Islam. Tidak sedikit kemudian yang ragu-ragu tentang shalat yang mereka lakukan, apakah benar-benar menghadap ke arah kiblat atau tidak?

Melencengnya arah tersebut disinyalir karena dua hal: pertama, pengukuran yang tidak akurat, dan kedua, bergesernya lempengan bumi akibat gempa.

Nah, yang pertama tentu murni kesalahan manusia (human error) yang tidak teliti mengukur arah kiblat yang sebenarnya. Kesalahan ini tidak bakal terjadi jika pengukurannya dilakukan dengan benar, menggunakan alat yang memadai dan orang yang benar-benar ahli.

Akan tetapi yang kedua disebabkan faktor alam. Berubahnya posisi lempengan bumi itu biasanya ditandai dengan peristiwa gempa bumi sebagaimana terjadi di beberapa wilayah di Indonesia yang berlokasi di daerah gempa.

Pergeseran bumi karena gempa sehingga mengakibatkan arah shalat yang semula tepat menghadap kiblat, bisa saja kemudian melenceng beberapa derajat dari posisi awalnya. Malahan pergeseran ini bisa terjadi hingga 20 derajat. Faktor yang kedua ini tentu di luar jangkauan manusia. Bila ini terjadi, tentu perlu dilihat dan disesuaikan dengan arah kiblat yang sesungguhnya, tidak bisa kemudian membiarkan terjadinya pelencengan itu terus-menerus.

Di Jawa Tengah, misalnya, kesalahan arah kiblat diketahui terjadi di Masjid Raya Baiturrahman, Semarang. Kesalahan ini terungkap saat dilakukan pengukuran ulang dengan menggunakan alat theodolit oleh Tim Sertifikasi Arah Kiblat Jawa Tengah.

Menurut Muhammad Syafiq, Kasi Pengembangan Kemitraan Umat Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Depag Jateng, masjid yang dibangun pada 26 Januari 1968 dan diresmikan pada 27 Februari 1969 itu bukan satu-satunya masjid yang arah kiblatnya salah. Bahkan seluruh masjid agung di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, arah kiblatnya salah.

Masjid Agung Demak yang merupakan peninggalan walisanga pun mengalami hal yang sama. Masjid Agung Demak mengalami pergeseran arah kiblat 14 derajat kurang ke Utara. Ini sangat besar karena pergeserannya berkisar 1.498 km dari Ka'bah.

Kemungkinan faktor bergesernya lempengan bumi di sejumlah masjid di Indonesia ini juga diamini oleh pakar gempa ITS Surabaya, Amin Widodo. Menurutnya, akibat gempa, tanah di Indonesia mengalami pergeseran sekitar tujuh centimeter per tahun.

Memang secara tektonik, posisi Ka'bah tidak berubah, tetapi akibat gempa, masjid di belahan bumi yang mengelilingi Ka'bah bisa bergerak dan berubah posisi.

Bahkan data Kementerian Agama menyebutkan, saat ini sebanyak 20 persen atau 160.000 masjid yang mengalami pergeseran arah kiblat. Angka ini, menurut Rohadi Abdul Fatah, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, bisa terus bertambah seiring dengan permintaan pengukuran ulang terhadap masjid-masjid yang ada.

Jumlah daerah terbesar yang mengalami pergeseran arah kiblat masjid adalah Sumatera, karena wilayah ini merupakan daerah yang kerap mengalami gempa bumi.

MAKNA KIBLAT

Kiblat merupakan posisi arah untuk shalat. Dan semua masjid di belahan dunia arah shalatnya menuju ke sana (kiblat Ka'bah Mekkah). Syarat sah shalat yang harus dilakukan sebelum melaksanakannya di antaranya adalah menghadap kiblat. Karena itu jika terjadi pergeseran arah, tentu menjadi masalah bagi umat Islam.

Dasar harus menghadap arah kiblat ini bisa ditemukan dalam QS. al-Baqarah: 144, "Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya." Nabi Saw juga menguatkan, "Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah," (HR. Bukhari dan Muslim).

Hanya ada dua alasan seseorang boleh tidak menghadap kiblat tatkala menunaikan shalat. dalam kitab Matan al-Ghayat wat Taqrib karya Abu Syuja' disebutkan: "Ketika keadaan sangat takut dan ketika shalat sunnah di atas kendaraan saat bepergian."

Dispensasi ini mengacu pada firman Allah QS. al-Baqarah: 239, "Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan." Ayat ini mengisyaratkan bahwa seseorang yang tidak mampu shalat dengan sempurna karena takut yang luar biasa (bahaya), boleh menjalankan shalatnya dengan cara yang mudah, bisa dengan berjalan atau dengan menaiki kendaraan.

Kecuali dalam keadaan darurat seperti dijelaskan di atas, tentu saja arah kiblat tatkala shalat adalah sebuah keharusan. Karenanya, bila pergeseran arah itu terjadi karena faktor intensitas gempa yang ada, seperti di Indonesia, maka semakin jauh pula pergeseran dari arah yang sesungguhnya.

Dan nyatanya beberapa ahli kemudian merekomendasikan untuk meneliti kembali posisi-posisi masjid dengan alat-alat yang memadai, adakah terjadi pergeseran arah kiblat ataukah posisinya masih ajeg seperti semula. Bila ada yang salah, harus dibenarkan pada arah yang semestinya agar tidak terjadi keragu-raguan dalam menjalankan ibadah shalat.

PENGUKURAN KEMBALI

Mengetahui adanya ketidaktepatan banyak masjid di Jawa Tengah yang ditengarai akibat peristiwa gempa, maka Depag Jawa Tengah mendata ulang masjid-masjid yang ada dan selanjutnya melakukan sertifikasi. Masjid-masjid yang kurang tepat atau bergeser arahnya akan diukur ulang yang kemudian akan diberi sertifikat.

Langkah ini didukung oleh MUI Jawa Timur. Ketua MUI Jatim, KH. Abdusshomad Bukhori, mengatakan, tidak masalah untuk menentukan kembali arah kiblat asalkan dilakukan dengan ilmu falak. Dan jika diketemukan posisi kiblat telah berubah, menurut Bukhori, maka bangunan masjidnya tidak perlu dibongkar. Cukup dibetulkan saja shafnya. Sebab pembongkaran masjid membutuhkan biaya besar apalagi bangunan - bangunan tua masjid memiliki nilia sejarah.

Gayung bersambut. Kementerian Agama pun telah wanti-wanti agar seluruh kantor wilayah di tiap kabupaten/kota diminta memberikan laporan tentang penelitian arah kiblat masjid dan mushalla. Di samping itu, Kementerian Agama juga telah membentuk sebuah tim yang siap turun ke daerah-daerah untuk mengukur kembali arah kiblat itu. Peralatan yang digunakan adalah theodolit, GPS, dan kompas serta pengamatan terhadap matahari.

Saat ini Kementerian Agama telah memiliki alat ukur yang disebut theodolit (salah satu alat ukur tanah untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak) yang tersebar di 15 provinsi, antara lain; di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Maluku, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Terakhir, dengan berkoordinasi dengan kementerian agama bagi yang hendak membangun masjid/musholla baru dan kembali melakukan pengukuran ulang terhadap bangunan ibadah yang sudah ada, terutama daerah-daerah yang sering diguncang gempa, maka keragu-raguan umat Islam dalam menjalankan shalat insya Allah tidak akan terjadi lagi. Sebab pergerakan lempeng bumi yang bisa mengubah arah kiblat telah diketemukan jalan keluarnya.


loading...