Kekuasaan Dan Pangkat

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Imam Hasan al-Bashri sering memberi nasihat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, salah seorang penguasa pada zaman Bani Umayyah. Isinya, terutama sekali, mengingatkan agar Khalifah tidak terseret ke dalam arus mencintai dunia secara berlebihan. Karena pada masa itu, kekayaan tidak lagi menyebarkan manfaat kepada masyarakat dan pemiliknya, bahkan menyebabkan bencana. Dan yang paling ditakuti oleh sang Imam adalah bertimbunnya dosa-dosa sehingga menguapkan akar iman. Semua itu bisa timbul apabila hati sudah berkiblat kepada dunia.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Antara lain tertulis dalam salah satu suraynya sebuah pesah: 'Hati-hatilah terhadap dunia. Ia seperti ular. Sentuhannya amat lembut tetapi bisanya mematikan. Menghindarlah dari pesonanya. Sebab, sedikit saja engakau terpikat, pasti engkau akan terjerat. Dan jika manusia terpesona lalu bersujud kepadanya, dunia akan menghempaskannya kedalam dosa-dosa'.

Keprihatinan sang imam ini wajar karena cintanya kepada Khalifah yang budiman itu sangat tulus. Ia khawatir kalau gemerlapnya kekuasaan yang dimilikinya akan mencampakkan sahabatnya ke lembah penuh nista seperti yang terjadi atas sejumlah penguasa terdahulu.

Bukankah sejak Muawiyah merampas kekhalifahan dari Madinah ke Damaskus seolah sudah tergambar betapa aspirasi batiniah yang mengental di bumi tempat Nabi dikubur akan dirampas oleh pandangan duniawi yang menyesatkan di kota bekas jarahan bangsa Persia itu?

Dan yang lebih parah lagi bahkan menimpa pewarisnya, Yazid bin Muawiyah, yang berkuasa dari tahun 680 hingga 683 M. Ia tidak saja berlaku lalim, sampai terjadilah petaka Jum'at berdarah, ketika cucu Rasulullah, Husain bin Ali dibantai bersama anak buah dan keluarganya di Padang Karbala. Akan tetapi, Yazib bin Muawiyah juga hidup berkubang maksiat sehingga namanya tersohor sebagai pemabuk berat.

Sungguh tidak dapat dimengerti, mengapa kekuasaan kadang-kadang sama artinya dengan kesewenang-wenangan. Sungguh tidak dapat dipahami, mengapa kedudukan harus selalu bergandengan dengan penyelewengan. Padahal, tatkala Rasulullah Saw memproklamasikan kedaulatan Madinah, beliau juga mencanangkan asas-asas keadilan dan persamaan hak atas setiap warga negara.

Dengan tegas beliau menyatakan bahwa pada hakikatnya seluruh umat manusia mempunyai hak asasi yang sama, tanpa membedakan keturunan dan warna kulitnya. Oleh karena itu, Islam yang ramah selalu mengajak manusia agar berdamai.

Agama kita juga mengajarkan agar kita menyebarkan kabar gembira tentang surga yang luasnya melebihi langit dan bumi serta segala isinya. Tetapi celakanya, manusia justru sibuk membagi-bagi neraka.

Memang dosa dan maksiat harus dicegah, dikutuk, dan dilaknat. Tapi, adakah sejarah ajaran Islam yang berusaha menyebarkan rahmat bagi seisi alam apabila kita justru menajiskan para bekas penempuh jalan hitam yang tengah berusaha mencari kebenaran?

TIDAK PEDULI PANGKAT

Pada waktu Fatimah, putri Rasulullah Saw meninggal dunia, enam bulan kemudian ayahnya wafat. Ali bin Abi Thalib ra., suaminya, sangat berduka cita. Tiba-tiba, Ali teringat cerita Rasulullah Saw. bahwa suatu ketika malaikat Jibril turun dan berkata pada beliau, "Hai, Muhammad! Hiduplah sesukamu! Tapi ingat engkau pasti berpisah dengannya. Dan berbuatlah semaumu! Tapi ingat engkau akan dibalas atas perbuatan itu."

Ali pun sadar bahwa kematian dan perpisahan adalah hukum Tuhan. Namun, yang masih tetap merusuhkan perasaannya, dapatkan kelak ia berjumpa lagi dengan istri yang amat ia cintai itu?

Sekonyong-konyong ia teringat ucapan Nabi Saw. tatkala seorang Badui merasa sedih setelah tahu bahwa ia akan berpisah dengannya, Sebab maut juga akan menjemput sang kekasih Allah bila sudah tiba saatnya. Sabda Nabi, "Besok, pada Hari Kiamat, setiap mukmin akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di dunia."

Maka, dengan hati lega Ali mengantar jenazah Fatimah ke pemakaman beserta para sahabat besar dan umat Islam lainnya. Salah satu di antaranya, yang paling akrab dengan keluarga Rasulullah, adalah Abu Zar al-Ghifari. Lantaran sangat kehilangan dan cemas akan nasib Fatimah, menjelang jenazah putri Rasulullah Saw itu dimasukkan ke liang lahat, ia berpesan kepada bumi yang akan dihuninya, "Hai, kuburan! Tahukah kamu siapa yang kuantarkan ke lubukmu hari ini? Ia adalah Farimah Az-Zahrah, putri Rasulullah, istri Ali al-Murtadha, dan ibunda cucu Rasulullah, Hasan dan Husein."

Mendadak kuburan seperti bergerak. Suara ghaib lantas menyusup ke dalam hati semua yang hadir. Suara itu berbunyi, "Aku bukanlah tempat untuk membanggakan pangkat atau keturunan. Pangkat apa saja, keturunan siapa saja, aku tidak peduli sebab aku ini tempat menyimpan amal saleh. Tidak ada terbebas dari siksaanku kecuali orang yang banyak kebijakannya, yang ikhlas amalnya, dan yang bersih hatinya."

Lihatlah, tidak ada yang diistimewakan. Nasib manusia tergantung pada perbuatannya. Jadi, mengapa manusia lebih suka membagi-bagi neraka, padahal Allah membuka surga seluas-luasnya? Gerbang ampunan-Nya tidak pernah terkunci, tangan kasih-Nya selalu terbentang lebar bagi hamba-hamba-Nya yang mau bertobat. Wallahu'alam.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...