Karena Keterlaluan Menghajar Anak

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Peristiwa ini terjadi 4 tahun yang lalu, tepatnya sewaktu aku habis melahirkan anak ketigaku. Saat itu usiaku telah mencapai 34 tahun. Aku pun harus berjuang melahirkan secara normal dan alhamdulillah akhirnya selamat.

Ilustrasi

Hanya sayang tak dapat diduga, belum genap delapan hari anakku lahir, mendadak di malam Jumat aku merasakan tubuhku lemas semua. Aku seperti mau pingsan. Tetangga yang mengetahuinya mengatakan bahwa aku terkena angin duduk.

Mereka membantu dengan mengerok punggungku untuk meringankan sakitku. Lalu aku muntah, tetapi setelah itu aku tak mampu lagi untuk memasukan sesuap nasipun ke dalam mulutku.

Esoknya, aku periksa ke bidan. Di sana kutahu tensiku telah mencapai angka 180. Aku mendadak lumpuh sementara dan terus-menerus aku muntah disertai kejang yang berkepanjangan.

Berbagai cara telah kutempuh. Pengobatan alternatif pun kujalani. Selama 4 bulan itu aku hanya tergolek lemah di tempat tidur. Oh Tuhan, rasanya aku seperti mayat hidup saja.

Aku pun teringat kembali masa-masa hamilku dulu, dimana emosiku sering labil. Aku suka marah dan mudah tersinggung. Kuingat aku sering sekali memarahi anak-anakku, terutama sekali anakku yang terbesar.

Anakku ini seringkali membuat ulah, yang membuatku marah. padahal, kutahu anak ini mempunyai penyakit kelainan darah, sehingga dia sering menjalani transfusi darah. Kalau anakku nakal, aku suka menyiramkan air ke tubuhnya.

Pikirku, kalau kupukul maka bekas pukulan itu pasti akan berbekas karena penyakitnya itu. Sering juga mulut ini melontarkan kata-kata yang mungkin tidak sepantasnya aku ucapkan di hadapannya. Ya Allah, pada saat itu anakku sering menangis. Bahkan menggigil kedinginan kala kuguyur.

Selama sakit selalu terbayang wajah anakku ini. Sementara bayiku diurus sama kakak iparku. Bagaimana tidak, untuk bangkit berdiri saja aku harus dituntun. Masa sakit kulewati dengan banyak introspeksi diri.

Pertama yang kulakukan adalah memohon ampun dengan bershalat taubah, berzikir dan memulai belajar menjadi seorang ibu yang penyabar.

Alhamdulillah, kini aku telah sehat dan anak-anakku tumbuh menjadi anak yang saleh. Bagaimanapun adanya keadaan anak, tetaplah ia seorang anak yang dititip Allah dan harus kita kasihi.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...