Dan Nabi Pun Tidak Menolak Hadiah

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Sore itu, Anita menimang-nimang sebuah kado yang terbungkus rapi. Ia disergap ragu untuk membuka hadiah yang baru saja ia terima dari tetangganya, karena ia merasa belum kenal dekat. Maklum, Anita baru dua hari menghuni komplek perumahan itu, setelah Adi, suaminya, mendapatkan jatah rumah dinas dari Kantor.

Ilustrasi Memberikan Hadiah Kepada Teman

Saat Anita masih menimang kado itu, Adi datang dari kantor. Anita menyambut Adi, dan keduanya kemudian duduk di ruang tamu. Anita lalu bercerita. "Tadi ada tetangga datang memberi kado," ucapnya seraya menunjukkan kado itu kepada Adi.

"Kenapa tidak dibuka?"

Anita memandang Adi. Ia digulung setangkup keraguan, "Kita tidak kenal akrab dengan mereka, apa tidak sebaiknya kita kembalikan?"

Adi geleng-geleng kepala, "Tak baik mengembalikan hadiah dari orang, Nabi pun mau menerima hadiah."

Apa yang diucapkan Adi itu memang tidak salah. Sebab, Nabi pun mau menerima hadiah. Sebab hadiah bisa mendatangkan perasaan akrab, kecintaan dan dapat menghilangkan dendam. Untuk mempererat hubungan sosial itulah, Nabi menganjutkan saling memberi hadiah dan tak menolak hadiah. "Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR Bukhari).

Dalam hadits lain, Nabi Saw juga bersabda: "Penuhilah undangan orang yang mengundang, janganlah menolak hadiah...." (HR Ahmad dan Bukhari). Bahkan Nabi membentangkan tangan untuk mendoakan seseorang yang memberi hadiah.

Diriwayatkan dari Aisyah, "Rasulullah Saw menerima hadiah dan mendoakan pahala bagi (pemberi)-nya." (HR Bukhari).

Hadiah dari seseorang sekecil atau sesepele apa pun tetap harus dihargai. Tak baik melihat hadiah dari segi harga atau bentuknya, tapi harus di lihat dari perhatian dan kecintaan yangd ilimpahkan oleh si pemberi hadiah.

Rasul selalu rendah hati menerima undangan dan pemberian yang dihadiahkan kepada beliau, sebagaimana sebuah hadits yang berbunyi. "Andaikata aku diundang untuk menyantap makanan (yang berupa) bagian hasta atau bagian di bawah tumir, niscaya aku penuhi undangan itu, dan andaikata aku dihadiahi hal yang sama juga niscaya aku menerimanya." (HR Bukhari).

Nabi tak menolak hadiah, tetapi Nabi tak mau menerima sedekah. Abu Hurairah meriwayatkan, "Bila Rasulullah disuguhi makanan, ia selalu bertanya: apakah ini hadiah atau sedekah? Jika dijawab, 'sedekah' maka ia berkata kepada para sahabatnya, 'Makanlah oleh kalian' sementara ia tak ikut memakannya. Sedangkan bila dijawab 'hadiah' maka beliau mencuci tangannya lalu memakannya bersama mereka." (Muttafaqun 'alaih).

Dari teks hadits di atas, jelas bahwa hadiah tidaklah sama dengan sedekah. Jadi hadiah dan sedekah memiliki perbedaan makna. Jumhur ulama berpendapat, hadiah itu hukumnya mustahab (sunnah, disukai). Sebab Nabi mau makan hadiah namun tak mau makan sedekah.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...