Cerita Di Balik Tiga Wanita Gila

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - "Barangsiapa salah satu di antara kalian, lama masa lajangnya, lalu Allah menganugerahkan kepadanya seorang suami, memberikan anak yang menyejukkan pandangan. Lalu pada suatu waktu dia sangat marah dan bersumpah atas nama Allah, bahwa sesaat pun dia tidak pernah mendapatkan kebaikan dari suaminya. Maka itulah bentuk kufur terhadap nikmat Allah, itulah kufur terhadap nikmat Allah, dan itulah kufur terhadap nikmat ALlah." (HR. Bukhari, Ahmad, dan Thabarani).

Ilustrasi

Suasana di kampung ini begitu tenang. Sebut saja kampung ini dengan nama Kampung Kayu. Letaknya yang persis di bawah kaki gunung menjadikan kampung ini terasa begitu sejuk.

Hawanya juga dingin jika malam telah tiba. Kampung ini letaknya diapit oleh dua hulu sungai yang jauh dari keramaian kota. Karena itu, suasananya begitu hening dan sepi. Namun, di tengah kesunyian kampung ini, seorang wanita berpakaian compang-camping tampak sedang melintasi sebuah jalan setapak. Ia terlihat murung dan sedih. Namun, seketika ia pun tersenyum sendiri. Seakan ia sedang bersenda gurau dengan lawan bicaranya. Meski, ia hanya berjalan seorang diri.

Ia begitu asyik dengan jemarinya. Meskipun tubuhnya kotor, ia tak begitu mempedulikannya. Tatapan kedua matanya sangat berbinar dan menerawang. Ia tampak begitu asyik dengan dirinya sendiri. Tak seorang pun tahu, apa yang ia pikirkan. Hanya ia sendiri yang bisa merasakan itu semua. Masa kelamnya ia simpan begitu rapat dengan hati. Orang kampung menyebutnya 'Wadon Edan', alias perempuan gila.

Bagi sebagian orang, kampung ini cukup dikenal lantaran banyak warga yang mengalami gangguan jiwa. Namun, setelah diselidiki, yang gila hanya ada tiga keluarga saja. Anehnya, dalam keluarga itu hanya istri dan anak-anaknya saja yang gila. Sementara itu, sang suami justru tidak gila. Lebih anehnya lagi, penyakit yang berkaitan dengan gangguan syaraf otak itu menimpa warga yang rumahnya berdekatan dan bertetangga satu sama lain. Tiga keluarga itu berada dalam satu lingkungan RT.

Memang, kampung ini tak bisa lepas dari pembicaraan mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Ada yang bilang, itu merupakan kutukan dari para leluhur. Pada zaman dulu, kutukan itu dilontarkan leluhur kepada orang-orang tua mereka yang membangkang hukum adat dan tradisi.

Ada juga yang beranggapan bahwa kejadian aneh ini merupakan kebetulan saja. Di samping itu ada juga asumsi yang mengatakan bahwa mereka menjadi gila lantaran depresi berat karena tak kuat menghadapi kehidupan sosial ekonomi dalam rumah tangga mereka.

Gila adalah sebuah penyakit yang menutupi atau mengganggu akal, sehingga akal tak mampu menangkap suatu objek dengan benar dan disertai kebingungan dan kekacauan pikiran. Orang yang akalnya tertutup atau terganggu, tidak dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, dan antara yang baik dan yang buruk.

Terlepas dari itu semua, AkuIslam.ID mencoba mencari sumber kisah dari peristiwa aneh ini. Bagi M. Rois (30 tahun, nama sengaja disamarkan), yang menjabat sebagai Ketua RT setempat, mengaku, kejadian yang menimpa warganya itu tak selalu terkait dengan mitos. Maksudnya, jika itu dihubung-hubungkan dengan unsur mitos yang berkembang, itu tak selamanya benar.

Mitos itu muncul sejak ratusan tahun silam. Sementara, perempuan-perempuan itu hidup di abad ini. Yang jelas, apa yang menimpa warganya itu merupakan cobaan dan ujian yang diberikan oleh Allah. Semuanya harus dikembalikan kepada Allah.

bagi dirinya, dan mungkin juga orang lain, peristiwa ini bisa dikatakan sebagai teguran dari Allah SWT. Sesuatu yang datang dari Allah, akan kembali kepada Allah.

MUSIBAH TIGA KELUARGA

Rusmiah (sekitar 42 tahun), sebut saja begitu, terlihat cukup kelelahan. Mungkin, ia sudah cukup lama berjalan kaki sejak pagi. Seperti biasanya, ketika mentari pagi telah terbit, ia akan keluar dari rumahnya. Pada sore hari, ia akan pulang ke rumah. Ia akan menghabiskan hari-harinya dengan berjalan perlahan menyusuri hulu sungai dan jalan di kampungnya.

Begitulah aktivitas keseharian yang ia jalani. Ia begitu sibuk dengan dunianya sendiri. Bila ia di ajak bicara, ia tak akan bisa menangkap pembicaraan orang lain dengan baik dan benar. Ia hanya akan membalas dengan senyuman, atau bahkan diam saja. Namun, bagi anggota keluarganya, ia bisa diajak berkomunikasi dengan baik dan lancar.

Rusmiah adalah satu di antara tiga perempuan yang mengalami gangguan jiwa di kampung ini. Sudah sekitar lima tahun, dia menderita penyakit itu. Semula, ia sempat dipasung di rumahnya. Namun, setelah penyakitnya itu dianggap sudah cukup membaik dan tak begitu mengganggu orang lain, ia pun dibebaskan dan diperbolehkan berkeliaran di kampung sekitar.

Nasib Rusmiah, mungkin masih tergolong sedikit lebih baik bila dibanding dengan dua perempuan lain yang senasib dengan dirinya. Arianti (28 tahun), bukan nama sebenarnya, justru lebih parah. Ia justru masih berada dalam pasungan. Menurut M.Rois, ia masih dipasung karena dikhawatirkan dapat mengganggu warga sekitar. Soalnya, sesekali ia merejang dan meronta-ronta seperti orang kesurupan. Siapa pun yang ada di sekitarnya akan di jadikan pelampiasan kemarahannya. Itulah sebabnya, ia tak diperbolehkan keluar dari rumahnya.

Beda lagi dengan nasib Wati (30 tahun, juga bukan nama sebenarnya), ia harus mendekap di panti rehabilitasi jiwa. Keluarganya menyerahkan wanita itu guna disembuhukan dan dibina di yayasan rehabilitasi mental dan jiwa di pusat kota. Wati, mungkin, tak seberat beban Arianti maupun Rusmiah. Soalnya, ia belum dikaruniai seorang anak. Sehingga, pihak keluarga pun tak begitu memikirkan beban hidup yang ia tinggalkan.

Sementara itu, Rusmiah sudah dikaruniai anak. Dua dari anaknya juga mengalami nasib yang sama. Mereka mengalami gangguan mental. Mereka sering melamun dan merenung sendirian. Namun begitu, menurut keterangan dokter, mereka belum dikategorikan gila. Mereka hanya mengalami depresi yang cukup berat.

Akibatnya, kedua anaknya itu tak lagi melanjutkan sekolahnya. Mereka tinggal di rumah, dan jarang keluar. Sedangkan yang satunya lagi, ia tidak mengalami gangguan mental. Ia hidup dengan normal dan wajar di tengah-tengah masyarakat.

Kondisi Arianti memang yang paling memprihatinkan. Musibah yang menimpa dirinya juga menimpa kedua anaknya. Beberapa bulan setelah dirinya mengalami depresi berat, ia sudah tidak bisa diajak bicara layaknya orang normal. Kedua anaknya pun akhirnya mengalami hal yang serupa. Anaknya tak sanggup berbicara dengan normal. Mereka sering bicara ngelantur dan tak teratur. Mereka mengalami tekanan jiwa yang cukup berat.

Namun, kondisi itu tak berlangsung cukup lama. Anaknya yang pertama akhirnya bisa disembuhkan setelah diobati secara tradisional. Beberapa bulan kemudian, anaknya yang kedua juga bisa disembuhkan. Namun, Arianti tetap saja Arianti. Meskipun sudah menjalani terapi mental dan jiwa, ia tetap sulit disembuhkan. Lalu, kemana saja suami-suami mereka?

BILA SUAMI TELAH KECEWA

Tiga keluarga ini memiliki latar belakang kehidupan berbeda. Meskipun mereka hidup dalam satu lingkungan yang sama, mereka berasal dari keluarga yang memiliki status ekonomi dan sosial yang berbeda.

Sebut saja, Rusmiah, misalnya. Wanita ini berasal dari kalangan keluarga yang kekurangan. Sejak kecil, menurut Janin (26 tahun, nama samaran), Rusmiah hidup dalam keluarga tak mampu. "Dia pernah menjadi pembantu rumah tangga di Kota (maaf, nama kota tak bisa disebutkan)," jelas tetangga Rusmiah itu menuturkan.

Faktor ekonomi membuat dia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota. Kemudian, setelah beberapa lama bekerja sebagai pembantu, dia kemudian dilamar oleh seorang pemuda dari kampung tetangga. Akhirnya, mereka pun resmi menjadi sepasang suami istri. Sang suami, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, bekerja sebagai buruh pabrik di kota. Berapa tahun kemudian, mereka berdua dikaruniai seorang anak.

Setelah itu, anak kedua dan ketiga pun menyusul lahir dalam tahun yang berbeda. Nah, di saat itulah persoalan keluarga kemudian perlahan-lahan datang membeliti mereka. Sang suami, sebut saja Ahmad, menerima PHK dari tempat kerjanya.

Desakan ekonomi dan kenaikan harga bahan pokok yang melambung tinggi mengakibatkan mereka sering bertengkar. Pertengkaran pun sering terjadi setiap hari. Pasalnya, penghasilan sang suami yang tak menentu mengakibatkan Rusmiah seakan tak bisa mensyukuri rezeki yang Allah limpahkan kepadanya.

Akhirnya, Rusmiah pun sering mengusir Ahmad dari rumah jika ia pulang tak membawa uang. Puncaknya, suatu hari Ahmad di usir oleh Rusmiah lantaran tak bisa memberinya uang belanja. Seusai peristiwa itu, Ahmad kemudian pergi ke ibukota bersama dengan temannya.

Ketika istrinya mengalami gangguan jiwa, Ahmad tidak sedang berada di rumah. Namun, beberapa bulan setelah itu, ia pulang ke rumah orang tuanya dan menyaksikan istrinya telah gila. Sepulang dari ibukota, ia yang akhirnya merawat kedua anaknya yang juga mengalami gangguan mental.

Apa yang menimpa Rusmiah berbeda dengan Arianti. Dia gila justru setelah dirinya melakukan perselingkuhan dengan temannya. Kisah perselingkuhan itu ternyata telah membawa petaka bagi dirinya.

Arianti mengalami depresi berat setelah diintrogasi oleh suaminya. Pada suatu malam, suaminya meluapkan kemarahannya kepada Arianti. Pasalnya, ia melihat Arianti berboncengan mesra dengan seorang pemuda. Kala itu, suaminya sedang melintasi jalan tersebut. Alhasil, perang urat dan syaraf pun terjadi pada malam harinya. Siang harinya, sang suami memutuskan untuk menceraikan Arianti.

Nah, beberapa bulan setelah perceraian itu, Arianti mengalami depresi berat. Ia tak habis pikir kalau ia akan menjalani hidup sendirian tanpa suami. Pemuda yang ia taksir pun akhirnya menikah dengan wanita lain. Depresi yang berat itu kemudian mengantarkan jiwanya hingga mengalami gonjang yang cukup berat.

Pada suatu hari, orang tuanya melihat Arianti sedang tertawa sendirian. Terkadang, ia meronta menangis dengan histeris. Lebih anehnya lagi, dia sering melempari orang yang sedang melewati depan rumahnya. Kala itu, keluarganya kemudian memasung dia di rumah. Sejak saat itulah, ia menjalani hari-harinya di bawah pasungan.

HIDUP DI PANTI

Lain Arianti, lain pula Wati. Wanita ini justru gila lantaran ulahnya sendiri. Namun begitu, nasib Wati tak sepedih Arianti maupun Rusmiah. Maklum, wanita ini berasal dari keluarga yang cukup berada, sehingga ia pun diperhatikan dengan baik oleh keluarganya. Kasih sayang orang tuanya tak pernah usang.

Orang tua Wati merupakan juragan perkebunan dan memiliki ladang persawahan yang sangat luas. Mereka merupakan orang yang cukup disegani di kampungnya. Tapi, garis nasib ternyata berbicara lain. Ia justru harus menerima kenyataan pahit ini. Ia harus hidup di tempat rehabilitasi jiwa untuk beberapa lama.

Menurut Ketua RT, M. Rois, pada awalnya ia cukup bahagia dengan keluarga yang ia miliki. Namun, setelah beberapa tahun ia menjalani hidup bersama suaminya, ia belum juga dikaruniai anak. Inilah awal keretakan rumah tangga mereka. Sejumlah keluarga menyarankan dirinya untuk memeriksakan kandungannya ke dokter. Namun, ia lebih suka percaya kepada dukun daripada seorangd okter.

Persoalan anak memang telah menjadi pemicu keretakan keluarga Wati. Sang suami telah lama berharap ingin memiliki anak. Anak merupakan harapan yang mereka idam-idamkan setelah beberapa tahun mereka menikah. Berbagai cara pun mereka lakukan. Namun, Tuhan mungkin belum mengabulkan keinginan mereka.

Suatu waktu, Wati pergi ke salah seorang paranormal. Di sana, dia mengkonsultasikan perihal persoalan keluarganya yang tak jua terselesaikan. Pendek kata, ia melakukan apa yang disarankan sang paranormal itu.

Memang, tak ada yang tahu apa yang disarankan oleh sang paranormal itu. Masyarakat sekitar hanya tahu saat ia telah gila. Waktu itu, ia dikabarkan mengalami keguguran. Ini, bagi Wati, memang bukan pertama kalinya. Ia sudah beberapa kali mengalami keguguran kandungan. Musibah yang menimpa dirinya tak ia imbangi dengan kedekatannya kepada Allah SWT.

Hingga akhirnya ia mengalami stres yang cukup berat. Ia menangis seharian dengan terus menerus. Kemudian, pihak keluarga pun membawa Wati ke rumah sakit. Di sana, dokter menyarankan agar mental dan jiwa Wati dipulihkan. Caranya, ia harus menjalani terapi untuk memulihkan rasa percaya diri dan mentalnya. Namun begitu, sang suami masih bisa menemani dirinya di saat-saat Wati menjalani terapi di panti rehabilitasi mental dan jiwa. Semoga saja, derita itu bisa segera berakhir!. Amin

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...