Beda Prinsip Dengan Suami

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - Saya seorang ibu rumah tangga berprofesi sebagai bidan merangkap berdagang di rumah. Sudah menikah selama 7 tahun dan punya anak satu berumur 5 tahun.

Ilustrasi

Suami saya seorang sarjana bekerja sebagai pedagang. Semua kebutuhan keluarga dan anak, saya yang urus (membiayainya), sedang suami saya tidak mau tau dengan alasan belum mampu.

Uangnya hanya cukup setor bank, itu pun tetap dibantu (barengan) dengan saya.

1. Apakah keinginan saya ingin suami lebih berkembang usahanya bisa disamakan dengan kufur nikmat? Dan pekerjaan saya selama ini dikatakan dengan hubbud dunya? (ini menurut suami saya).

2. APakah doa-doa meminta dilapangkan rezeki tidak perlu dilakukan? katanya kita akan mendapat kulitnya saja. Lakukan saja wirid Asmaul husna, kalau ALlah sudah sayang sama kita, apapun akan diberi.

3. Menurut suami saya rezeki itu sudah ada takarannya, bagaimanapun kita berusaha, sudah takarannya segitu, tetap tidak akan mendapat lebih banyak lagi, apakah pendapat ini benar?

Diatas merupakan pertanyaan yang dikirim dari Brebes oleh Sahabat AkuIslam.ID 

1. Kalau suami Anda berpendapat begitu, artinya suami Anda itu orangnya ahli ibadah, nggak usaha terlalu mengejar-kejar dunia, hidup sederhana sajalah dan syukuri atas apa yang sudah Anda miliki sekarang.

Buat apa kita terlalu mengejar dunia kalau suami sendiri tidak tertarik dengan hal itu? Nggak usah terlalu sibuk dan iri terhadap suami yang bersantai-santai.

2. Itu betul, tapi doa juga perlu. Itu tergantung sama Allah. nggak usah terlalu ngoyo, sedih dan kecewa. Ikhlaskan dalam menjalani kehidupan ini.

Kalau Anda mau bekerja, bekerjalah dengan ikhlas, dapat duit untuk rumah tangga juga kan harus ikhlas, itu pahalanya 700x lipat. Ikhlaslah walaupun suami tidak memberi duit, biarlah suami yang berdosa.

3. Usaha dulu, baru kita katakan takdir. Salah kalau belum usaha sudah bilang tidak bisa.


loading...