TInggalkan Jihad Demi Orang Tua

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - Jihad merupakan ibadah utama bagi umat Islam, terlebih ketika di zaman awal Islam. Namun, kisah berikut ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih utama daripada berjihad.

Ilustrasi

Ketika Umar bin Khattab menjadi amirul mukminin, ada seorang laki-laki bernama Kilab bin Umayyah bin Askar. Dia memiliki ayah dan ibu yang sudah tua. Dia merawat orang tuanya dengan baik, menyiapkan susu untuk keduanya setiap pagi dan petang hari.

BERJIHAD

Kemudian datang dua orang menemui Kilab untuk mengajak bergabung pergi berperang. Ternyata Kilab tertarik dengan ajakan tersebut. Kemudian dia membeli seorang hamba sahaya untuk mengasuh kedua orang tuanya. Setelah itu Kilab pun pergi berjihad.

Suatu malam, hamba sahaya tersebut datang dan membawa gelas jatah susu petang hari kepada ibu dan bapaknya, namun kedua orang tua tersebut sedang tidur.

Budak tersebut menunggu beberapa jam dan tidak membangunkannya, lalu pergi. Di tengah malam, kedua orang tua Kilab terbangun dalam keadaan lapar. Mereka kecewa karena tidak mendapati anaknya.

"Dua orang telah memohon kepada Kilab dengan kitabullah. Keduanya telah bersalah dan merugi," ujar bapak Kilab.

"Kilab telah meninggalkan bapaknya yang kedua tangannya gemetar dan ibunya yang tidak bisa minum dengan nikmat," ujar sang ibu mengenang putra tunggalnya.

Saat dua orang yang membujuk Kilab mendatangi kedua orang tua kilab, mereka menunjukkan sikap kecewa. "Wahai hamba-hamba Allah, kepergian kilab telah menyusahkan kami berdua, Apakah ada kebaikan setelah menyia-nyiakan kedua orang tua?" ujar orang tua Kilab.

Mendengar kata-kata tersebut dua orang ini menjadi sedih atas apa yang telah dilakukannya. Mereka menyesal karena telah membujuk kilab untuk berjihad.

Jika ada orang luar Madinah yang datang ke Kota Madinah, Umar bin Khattab selalu menanyakan tentang berita-berita dan keadaan mereka. Umar bertanya kepada salah seorang yang datang, "Dari mana?" Orang itu menjawab, "Dari Tharif." Umar bertanya, "Ada berita apa?" Orang itu menjawab, "Aku melihat seorang laki-laki berkata (laki-laki ini menyebut ucapan bapak Kilab di atas)." Umar menangis dan berkata, "Sungguh Kilab mengambil langkah yang keliru."

DIPULANGKAN

Umar menangis, lalu beliau menulis surat kepada Abu Musa Al Asy'ari agar memulangkan Kilab ke Madinah. Kilab pulang ke Madinah. Ketika Umar bertemu dengannya, beliau bertanya, "Sejauh mana kamu berbuat baik kepada orang tuamu?"

Kilab menjawab, "Aku mementingkannya dengan mencukup kebutuhannya. Jika aku hendak memerah susu untuknya, maka aku memilih unta betina yang paling gemuk, paling sehat, dan paling banyak susunya. Aku mencuci puting susu unta itu, dan barulah aku memerah susunya, lalu menghidangkannya kepada mereka."

Umar mengutus orang untuk menjemput bapaknya. Umar menanyakan kabar dan keinginan orang tua tersebut. "Aku ingin melihat Kilab. Aku ingin mencium dan memeluknya sebelum aku mati." Umar menangis dan berkata, "Keinginanmu akan tercapai Insya Allah."

Kemudian Umar memerintahkan Kilab agar memerah susu unta untuk bapaknya seperti yang biasa di lakukan. Umar menyodorkan gelas susu itu kepada bapak Kilab sambil berkata, "Minumlah ini, wahai Bapak Kilab." Ketika bapak Kilab mendekatkan gelas ke mulutnya, dia berkata, "Demi Allah, aku mencium bau kedua tangan Kilab."

Umar mengatakan, "Ini Kilab, dia ada di sini. Kami yang menyuruhnya pulang." Bapak Kilab menangis dan Umar bersama orang - orang yang hadir juga menangis. Mereka berkata, "Wahai Kilab, temani kedua orang tuamu." Maka, Kilab tidak pernah lagi meninggalkan mereka sampai wafat.


loading...