Tentang Sebuah Kebebasan Dan Hak Orang Lain

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Suatu malam, di Kufah, suara gaduh terdengar nyaring. Suara itu bersumber dari sebuah rumah kecil di tengah pemukiman penduduk. Rumah itu milik seorang tukang sepatu.

Ilustrasi Sebuah Kebebasan

Sepanjang hari ia bekerja dan menjelang malam ia baru pulang ke rumah. Biasanya ia membawa oleh-oleh berupa daging untuk dimasak atau seekor ikan besar untuk dibakar.

Selesai makan, ia lalu bernyanyi sambil menari. Ia berhenti bernyanyi setelah ia merasa terkantuk dan tertidur pulas. Di sebelahnya terdapat rumah seorang sufi ternama.

Ia tentu merasa terganggu atas perilaku laki-laki itu. Ia tidak dapat menjalankan ibadah dengan tenang di malam hari. Namun begitu, ia diamkan saja.

Pada suatu malam, sang sufi tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi seperti biasanya. Sesaat ia keluar untuk mencari kabar. Ternyata, menurut keterangan tetangga lain, ia baru saja ditangkap polisi, ia tengah ditahan.

Selesai shalat Shubuh, ketika hari masih pagi, sang Sufi berangkat ke istana. Ia ingin menemui Amir Kufah. Di sana ia disambut dengan penuh khidmat dan hormat. Sang Amir sendiri yang berkenan menemuinya.

"Ada yang bisa aku bantu?" tanya sang Amir.

"Tetanggaku tukang sepatu kemarin ditangkap polisi. Tolong lepaskan ia dari tahanan Amir," pinta sang Sufi itu.

"Baiklah," kata sang Amir yang segera menyuruh sipir penjara untuk melepaskan tetangganya yang baru ditangkap kemarin petang.

Sang sufi lalu pulang. Sementara itu, si tukang sepatu berjalan kaki di belakangnya. Ketika tiba di rumah, sang Sufi berkata, "Bagaimana? Aku tidak mengecewakanmu kan?"

"Tidak, bahkan sebaliknya," jawabnya.

Ia menambahkan, "Terima kasih. Semoga Allah memberimu balasan kebajikan."

Sejak itu ia tidak lagi mengulangi kebiasaan bernyanyi dengan suara keras sampai larut malam. Setelah itu, sang Sufi merasa lebih khusyuk menjalankan ibadahnya setiap malam. Sufi itu tak lain adalah Imam Abu Hanifah.

Sekelumit kisah ini memberi pelajaran berharga bagi kita. Pertama, tentang toleransi. Sang Sufi dengan sikapnya yang penuh sahaja, memberi pengajaran secara aplikatif tentang toleransi.

Kedua, tentang dakwah bilhal (berdakwah dengan tindakan). Dakwah seperti ini merujuk pada dakwah yang dilakukan Nabi dalam mengingatkan orang yang berperilaku salah.

Ketiga, tentang hidup bertetangga. Dalam hidup bermasyarakat, kita harus saling memahami dan mengerti tentang kondisi tetangga kita. Dalam kebebasan hidup yang kita miliki, ada hak orang lain yang juga harus kita hargai.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...