Tak Jadi Bunuh Diri Karena "Setetes Hidayah"

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - Jujur saja, ini adalah pengalaman yang memalukan. Dan aku menyebutnya sebagai Aib. Di usia 14 tahun, aku pernah mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari saudara dekatku sendiri. Itulah awal kejadian yang menghantarkanku pada lembah dosa.

Ilustrasi

Sejak peristiwa itu, selain trauma, hatiku di selimuti oleh rasa dendam dan benci yang mendalam. Akibat dari sikap permusuhanku itu, orangtuaku, saudaraku, bahkan tetanggaku mencaci maki dan mencercaku sebagai gadis yang tidak tahu etika/moral.

Hatiku perih sekali. Tapi apa dayaku, aku tak berani mengungkapkan apa yang sudah terjadi. Tak tahan dengan segala hinaan, kuputuskan untuk pergi dari rumah dan mengadu nasib ke kota lain. Aku berusaha melupakan kejadian itu walaupun keputusanku ditentang oleh orangtua.

Namun Allah SWT kembali mengujiku atau lebih tepatnya menghukumku karena tak patuhi larangan orang tua. lagi-lagi, aku hampir diperkosa oleh menantu ibu kos. Demi menjaga hubungan baik, akupun pindah kos.

Di tengah kepedihanku, aku berkenalan dengan seorang pria (sebut saja Imam). Awalnya, Imam sangat baik dan perhatian, dia banyak membantuku dalam segala hal.

Sebagai gadis desa yang bodoh akan agama, di samping aku mendambakan sosok pengayom atau pelindung, aku terlena oleh rayuan Imam.

Kesucian dan kehormatan yang selama ini kupertahankan goyah terbujuk rayu dan nafsu. Tak terasa 3 tahun, aku dan Imam membina hubungan terlarang, kami hanyut dalam aliran dosa yang menyesatkan.

Aku tak pernah sadar. Apa yang sudah aku lakukan itu hanya membunuh keimananku yang pada akhirnya akan mempersulit jalan hidupku di kemudian hari.

Pada tanggal 22 Februari 2014 tepatnya, semua harapan dan cita-citaku kandas. Ikrar janji Imam adalah kebohongan belaka. Hari itu, Imam menikah dengan wanita lain.

Kenyataan itu sangat memukul jiewaku, tapi aku tak berdaya (Karena sedari awal orangtua Imam memang menolakku dengan alasan perbedaan status dan derajat).

Aku putus asa dan berniat untuk bunuh diri dengan minum obat tidur. Sebelum meminum obat tidur itu, iseng-iseng kubaca kertas pembungkus obatnya. Di situ ada tulisan "Setetes hidayah" yang menyebutkan firman Allah SWT, "Bahwa sesungguhnya bersama kesulitan datang kemudahan. Dan Allah Maha Pengampun serta menerima taubat bagi hamba-Nya yang ingin bertaubat."

Bagai mendapat setetes air, aku tak kuasa menahan tangis. Tubuhku gemetar, seketika aku bersujud, memohon ampunan-Nya.

Alhamdulillah, kini jiwaku mulai tenang dan bisa menerima ajaran agama. Aku bersyukur dan berterima kasih masih diberi kesempatan. Semoga kisahku ini bisa dijadikan pelajaran serta bisa diambil hikmahnya. Terutama untuk para remaja, pandai-pandailah menjaga diri, agar tak terjerumus dalam pergaulan bebas karena itu hanya akan merugikan diri sendiri.


loading...