Suami Guna-Guna Istri

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Selama ini ada pertanyaan yang selalu mengganjal hati saya dan mohon untuk mendapatkan penjelasannya secara gamblang.

Ilustrasi Sihir / Guna-Guna

Bagaimana hukum Islam menggunakan sihir demi mendapatkan orang (wanita) yang dicintai?

Jika wanita tersebut berhasil diguna-guna, kemudian berlanjut pada pernikahan, apakah pernikahan tersebut bisa dikatakan benar dalam Islam? Karena dalam keadaan kena guna-guna, seseorang tidak mampu berpikir jernih tentang apa yang dilakukannya?

Setelah pernikahan tersebut terjadi, namun dikemudian hari pengaruh guna-guna tersebut hilang, otomatis perasaan si wanita kembali seperti sedia kala; tidak ada suka/cinta.

Rumahtangga jadi tidak normal. Yang ada hanyalah perasaan menyesal, ditambah pula ternyata suami tidak mampu menjadi imam dalam keluarga, sering menyakiti istri, padahal istri sudah berusaha menerima kenyataan dan menjalankan kewajiban. Apakah berdosa jika istri menuntut cerai?

Bagaimana pandangan Islam jika seorang suami menuntut hal yang berlebihan (uang misalnya) tapi istri tidak mampu lagi memberi dan suami mengeluarkan kata-kata kotor dan menyakitkan (seperti, pelacur!, Penjual Diri!)?

Diatas adalah pertanyaan yang dikirimkan oleh Sahabat AkuIslam.ID dari Taiwan.

Itu dilarang dalam Islam. Barangsiapa yang datang kepada seorang dukun, 'orang pintar', bertanya tentang suatu masalah kemudian kita meyakini apa yang dikatakan dukun tadi, maka shalat orang tadi tidak diterima selama 40 hari.

Sesuatu yang dilarang oleh agama, awalnya tidak baik kelanjutannya pun tentu saja tidak baik. Jadi awalnya dengan guna-guna, dengan kebohongan selanjutnya tidak baik. Tapi mudah-mudahan jika menyadari bahwa perbuatannya itu salah dan bertaubat dengan taubat nasuha, semoga Allah mengampuninya.

Dari awal pernikahan suami sudah melakukan kebohongan dan ketika sudah menikah ternyata suami sering menyakiti istri. Kalau istri menuntut cerai karena merasa sudah tidak tahan disakiti, boleh saja, yang tidak boleh adalah jika istri nusyuz, lalu minta cerai sementara perlakuan suami sangat baik sebagaimana mestinya.

Pernikahan yang seperti itu menurut ilmu fikih tetap terhitung sah karena memenuhi syarat dan rukun, yakni ada mempelai laki-laki dan perempuan, ijab-kabul, saksi dua orang laki-laki yang baligh dan berakal.

Dalam Islam, suami tidak boleh menghina istrinya. nabi saja memanggil istrinya humairah, wahai yang kemerah-merahan. Kalau panggilannya binatang, hati istri mana yang tidak terluka. Lagi pula, dalam pembacaan at'lik talak, ketika menikah dulu, 'kalau saya menyakiti istri saya dan dia tidak ridha maka jatuh talak saya, kalau saya tidak memberi nafkah lahir-batin 3 bulan berturut-turut dia tidak ridha, jatuh talak saya.'

Jadi kalau istri sudah tidak ridha datanglah ke Pengadilan Agama, mengajukan apa yang terjadi, jangan dikurang atau ditambah keterangannya pasti Anda akan mendapat nasheat dari BP4.

Baca Juga Yang Lainnya: