Sikap Terbaik Saat Dizalimi

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Dizalimi, ya, mungkin kita pernah merasakannya. Masalahnya, bagaimana kita harus menyikapinya? Tentu saja kita harus bercermin dari akhlak Rasulullah Saw ketika beliau disakiti, dihina bahkan diancam keselamatannya.

Ilustrasi Dizalimi Orang

Aisyah Ra menuturkan, "Rasulullah Saw tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasulullah Saw tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. 

Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah. Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah di langgar orang, maka beliau akan membalasnya semata-mata karena Allah," (HR Ahmad).

Pada riwayat yang lain tergambar betapa kesabaran baginda Nabi Saw meski pribadi beliau disakiti tiada henti. 

Aisyah Ra pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, "Apakah ada hari yang engkau rasakan lebih berat daripada hari peperangan Uhud?"

Beliau menjawab, "Aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaumku, yang paling berat kurasakan adalah pada hari Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal, namun dia tidak merespon keinginanku. Akupun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa'alib (sebuah gunung di Kota Makkah). 

Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengan memayungiku. Aku perhatikan dengan seksama ternyata Malaikat Jibril ada di sana. Lalu ia menyeruku, "Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu.

Kemudian melaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata, "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Allah telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku.

Sekarang, apakah yang kamu kehendaki jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!" 

Beliau menjawab, "Tidak, justru aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya," (Muttafaq 'alaih).

Subhanallah, dari riwayat tersebut tergambar dengan jelas bagaimana kesabaran Rasulullah Saw demikian luas bagai samudera yang luas. Lagi-lagi, sedahsyat apapun ujian yang menerpa pribadi beliau, beliau selalu memaafkan.

Baca Juga Yang Lainnya: