Sebutir Kelapa Milik Pak Kyai

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Sebutir kelapa memang bisa menggairahkan selera makan kita. Sebaliknya, bisa menjadi pil pahit yang terus membekas sepanjang hidup.

Ilustrasi

Ada saja ulah para santri pondokan. Ada yang lucu, konyol, kocak serta kampungan. Meski hidup di lingkungan yang notabene relijius, ada saja kenakalan-kenakalan mereka. Mereka menganggap, tanaman-tanaman yang ada di perkebunan kompleks pesantren milik sang kyai dianggap sah dimanfaatkan oleh santri. Asalkan sang kyai tidak mengetahuinya, menurut mereka telah diikhlaskan.

Rupanya tanpa disadari sang Kyai, ada santri nakal yang sama-sama mengincar buah-buah yang telah masak tersebut. "Masak sih kita ambil mangga Pak Kyai yang tidak dibolehkan?" begitu celetuk santri.

**********************************

Tahun 1994, kampung pesantren itu tak seramai seperti sekarang ini. Malam itu, hujan rintik-rintik. Kediaman Pak Kyai pun sudah gelap. Lampu penerangan di dalam rumah sudah padam. Itu tandanya, Pak Kyai dan keluarganya sudah beristirahat dalam pembaringannya.

Tiba-tiba beberapa santri yang masih melek timbul ide untuk mengadakan mayoran, masak-masak ala pondok. Biasalah kalau malam larut ditimpa gemercik hujan, perut mereka seringkali dihantam keroncongan.

Mau beli makan di warung, sudah pada tutup; lagi pula kalau ada warung yang masih buka, sayang mengeluarkan duitnya. Maklumlah, mereka harus irit karena keterbatasan ekonomi hingga harus bisa menyiasati uang kiriman orang tua cukup selama satu bulan.

Mereka sepakat, memasak ala kadarnya dengan memanfaatkan yang ada. Yang terpenting, perut terisi dan kenyang malam itu. Sebagian bumbu-bumbu sudah tersedia, sisa pagi hari, demikian halnya dengan beras, masih cukup.

Bagaimana dengan kayu bakar? Kalau kayu yang mereka beli masih ada, mereka akan mempergunakannya. Tetapi jika tidak ada, kayu-kayu bongkaran renovasi milik Pak Kyai yang ada di sekitar dapur akan menjadi kayu bakar buat mereka. Terong tampaknya menjadi menu andalan malam itu.

"Ambil saja kayu di atas itu! Itu punya Pak Kyai, pasti halal. Masak sih tidak di ikhlaskan oleh beliau!" kata santri senior

"Iya, Kang," kata santri yang masih muda. Yang lain pun tak mempersoalkan, menganggap bahwa kayu bongkaran milik Pak Kyai sah saja dipakai anak-anak santri.

Mereka mulai sibuk. Ada yang tengah mencari-cari makanan tambahan, rambutan yang ada di sekitar pengimaman mushalla sebagai buah pencuci mulut. Ada juga yang diam-diam mengambil buah kelapa dengan bambu panjang untuk campuran sambelnya. 

Beberapa lainnya berada di dapur menyiapkan segala sesuatunya. Membersihkan baki yang akan digunakan untuk tempat nasi dan lauknya.

Lima santri yang kelaparan itu akhirnya berkumpul, membentuk satu lingkaran. Di tengahnya terhidang baki ukuran besar berisi nasi, sambel terong dicampur dengan parutan kelapa, dengan asap yang masih mengepul.

Lebih istimewa lagi, ada buah rambutan yang masih segar dan baru dipetik. Meski sebagian buah itu masih berwarna kuning-kuningan, belum matang betul, tapi tetap menambah selera makan mereka.

Sebentar lagi perut mereka yang keroncongan pastilah akan segera terisi. Setelah itu kenyang dan dapat tidur dengan lelap sampai Shubuh menjelang.

Baru sesuap nasi meluncur ke mulut, Pak Kyai muncul mendadak. "Boleh aku ikut makan? Tadi aku juga iuran sebutir kelapa," kata Pak Kyai santai, sambil masuk dalam lingkaran tersebut. 

Sontak para santri salah tingkah. Wajah mereka berubah pucat. Sebagian nasi yang telah masuk ke dalam mulut itu tak berani mereka kunyah. Gerakan-gerakan mereka tertahan, ragu-ragu untuk terus melanjutkan makannya. Selera makan yang tadinya menggebu-gebu kini malah hampir redup.

"Ayo, kita lanjutkan makan!" kata Pak Kyai memecah kebuntuan.

Melanjutkan makan atau menghentikan makan sama saja menanggung malu yang luar biasa. Toh perbuatan mereka, mengambil sebutir kelapa dan buah rambutan, ternyata sudah diketahui oleh kyainya. 

Mereka yang tadinya berseloroh bahwa apa pun yang dimiliki Kyai bolehd imanfaatkan oleh santrinya, diam seribu bahasa. Mereka bisa berkata, tapi mulut mereka terkunci rapat-rapat.

Kini, apakah mereka tetap beranggapan bahwa memanfaatkan barang milik sang Kyai tetap halal? Meski tanpa meminta izin lebih dulu agaknya terjawab sendiri dengan sikap diam mereka.

Baca Juga Yang Lainnya: