Perut Membuncit Di Akhir Hayat

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Balasan bagi orang yang serakah dan tidak amanah akan selalu ada. Demikianlah lakon perempuan yang begitu rakus menguasai harta warisan dalam kisah ini.

Ilustrasi

Ini kisah tentang bibiku yang terkenal rakus pada harta warisan. Namun, untuk menjaga muruah (kehormatan) keluarga kami, sengaja kusamarkan namanya. Sebut saja, bibiku itu namanya Ibu Rohmah. Wajahnya bulat, rambut agak ikal, tubuh sedang, tidak gemuk dan tidak kurus, dan tinggi lumayan, sekitar 165 cm. Dimata kelurga, bibiku memang terkenal pelit dan rakus harta.

Puncak kerakusan bibiku terjadi ketika nenekku atau orang tuanya meninggal. Sebagai orang yang cukup berada, nenek banyak meninggalkan harta warisan. Nah, di situlah justru malapetaka muncul.

Bibiku ingin menguasai semua harta peninggalan nenek. Jatah ibuku, sebuah rumah dan tanah, juga dikuasainya hingga anak-anaknya sudah besar.

Ibuku berkali-kali berusaha menuntut haknya. Tetapi, tak pernah dihiraukan oleh bibi. Karena bibi, yang didukung oleh suaminya, memang tidak main hati untuk urusan harta warisan, termasuk pada saudara kandungnya sendiri, yaitu ibuku.

Ia tega bermain kasar. Bapakku, yang memang tak punya hak untuk turut campur, juga tidak berani bertindak lebih jauh. Maka, jadilah bibiku menguasai seluruh harta peninggalan nenek, termasuk hak yang diberikan pada saudara-saudara kandungnya yang lain.

Suatu kali, ibuku pernah menuntut haknya, namun yang diterima justru hardikan. Malah, ibuku diusirnya dan menuduhnya tak punya hak apa-apa atas harta yang ditinggalkan oleh nenek. Bibiku memang anak tertua, hingga ia merasa punya power (kuasa) untuk menguasai seluruh harta warisan nenek.

Tragisnya, bibiku kemudian mengaktakan seluruh peninggalan nenek atas nama dirinya. Maka jadilah, harta warisan itu benar-benar menjadi miliknya. Kini, rumah dan tanah yang semestinya menjadi hak ibuku, sudah diambilalih bibi dan ditempati anak-anaknya.

KELUARGA BERANTAKAN

Gara-gara kasus harta warisan itu, hubungan kekerabatan keluarga kami hancur berantakan. Bibi dan ibuku dan saudara-saudaranya yang lain tidak akur. Justru bibi seperti membiarkan keadaan ini terus berlangsung. Dia malah senang jika tidak ada keluarga yang mendekatinya. Sebab, pasti tidak akan ada lagi yang mengusik-usik harta peninggalan nenek yang sudah dikuasainya itu. Karena harta warisan itu pula, bibi menjadi sangat cuek terhadap saudara-saudaranya.

Padahal, sebelumnya, keluarga kami bisa dibilang keluarga yang lumayan terpandang dan diteladani. Nenek termasuk salah satu orang terkaya dikampung. Hanya saja, memang, keluarga kami tidak diikat oleh nilai-nilai agam yang kuat.

Rapuhnya pondasi dasar ini membuat bibiku berpikir cetek soal harta warisan. Entahlah, apa sikap bibiku ini terkait dengan miskinnya nilai-nilai spiritual di dalam dirinya!? yang jelas, di keluarga kami, hanya bibiku yang terlihat sangat rakus terhadap harta peninggalan nenek.

Entah setan apa juga yang merasuk ke dalam pikiran bibiku? Padahal, saat ibunya (nenekku) masih hidup, ia selalu mendapatkan perhatian yang lebih. Ia pernah diberikan modal usaha yang cukup besar untuk berdagang, meski usahanya itu berakhir bangkrut. Tapi, semua perhatian itu seolah sirna seiring kepergian nenek.

Bukannya ia memberikan perlindungan yang lebih kepada adik-adiknya sebagai anak tertua, justru menuai permusuhan dengan mereka.

Bibiku sebenarnya sudah punya rumah sendiri, yang dikasih oleh nenekku saat masih hidup. Sedang jatah rumah untuk ibuku masih ditempati oleh nenek semasa hidupnya. Rumah itu sejatinya akan diberikan kepada ibuku kalau nenek sudah meninggal. Begitu pesan nenek kepada anak-anaknya. Namun, setelah nenek meninggal, bibi justru ingin menguasai semuanya, termasuk tanah yang juga diamanatkan oleh nenek akan diberikan buat ibuku.

Kesalahan yang dibuat nenek hanya satu, yaitu ia tidak membuatkan surat wasiat buat anak-anaknya, hanya berbekal pesan saja. Mungkin di pikiran nenek, anak-anaknya tak mungkin memerebutkan harta warisan sepeninggalannya.

Mereka pasti bisa berbuat adil dengan sendirinya. Tapi, kenyataan di lapangan sangat berbeda. Karena tidak ada surat wasiat secara tertulis itulah, yang membuat bibiku gelap mata dan ingin menguasai seluruh peninggalan nenek.

SAKIT KERAS

Suatu kali, bibiku tergolek tak berdaya di ranjang pesakitan. Awalnya, ia merasakan dirinya terserang penyakit demam yang tinggi. Setelah berobat ke dokter, penyakitnya memang sembuh. Tapi, tak berselang lama, ia kambuh lagi. Kali ini malah lebih parah. Ia merasakan tubuhnya sangat dingin sekali.

Mungkin ia mendekati penyakit yang sekarang lagi ngetren yaitu gejala flu babi (A-HIN1). Namun, karena saat itu, belum ada klaim penyakit semacam ini, maka bibiku pun divonis sedang menderita penyakit demam yang akut.

Berhari-hari bibi berada dalam ketidakberdayaan. Selama itu pula, ia kerapkali pulang pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya. Namun, keadaan tak pernah kunjung membaik. Malah, semakin hari dirasakan kian parah.

Keluarga bibi tidak bisa berbuat apa-apa atas keadaan ini. Mulai dari anak-anak hingga suaminya, bingung mesti apa yang dilakukan.

Ironisnya, dalam situasi seperti itu, bibiku malah tidak ingin bertaubat. Ia malah masih sempat bertanya kepada suaminya, "Apakah adikku masih mengungkit-ungkit lagi masalah warisan?" Sang suami hanya menjawab, "Tidak".

Kenyataannya memang demikian. Sejak seluruh harta warisan peninggalan nenek telah diaktakan oleh Bibi, ibuku sudah tidak lagi memerebutkannya. Ibu pasrah sepenuhnya kepada Allah. Ibu hanya yakin bahwa Allah tidaklah buta. Ia Maha Tahu atas apa yang dilakukan hamba-hamba-Nya.

Ibuku tidak pernah mencela bibiku. Ibuku hanya bisa berdoa semoga bibi disadarkan oleh Allah atas segala kekhilafan yang dilakukannya.

Begitulah keadaan bibi, yang semakin hari kondisinya kian parah. Malah, keanehan baru kemudian muncul di perutnya. Perutnya semakin hari terlihat kian membesar.

Apakah ia terkena penyakit gula? Dokter memvonisnya tidak demikian. Dokter tetap memvonisnya sebagai penderita penyakit dalam. Namun, kenapa perutnya membesar? Tidak ada yang tahu jawabannya, termasuk dokter sendiri. Mungkinkah ini terkait dengan perbuatannya saat masih sehat? Hanya Allah Yang Maha Tahu.

Perut bibi terus membuncit setiap saatnya, hingga sebesar baskom (bak). Anak-anak dan suaminya sangat terkejut dengan keadaan ini. Namun, mereka tidak berdaya. Mereka tidak tahu apa yang mesti dilakukannya. Dokter sendiri sudah angkat tangan dan hanya bisa memvonis bahwa ia terkena penyakit demam.

Setelah hampir setahun bergelut dengan penyakit yang memilukan, bibiku akhirnya tak kuasa menahan takdir Tuhan. Ia meregang nyawa dalam kondisi yang mengenaskan. Perutnya membuncit hingga melebihi batas wajahnya. Subhanallah! Anak-anak dan suami menangis atas kepergian bibi. Tidak halnya dengan ibuku dan saudara-saudaranya yang lain. Mereka tak terlalu bersedih, sebab bibi memang kelewatan batas sikapnya saat masih hidup.

PELAJARAN PENTING

Jenazah bibiku pun segera dikuburkan. Nyaris tak ada tangisan atas kepergian bibi, kecuali hanya anak-anak dan suaminya yang terlihat sangat terpukul. Kalaupun ibuku dan saudara-saudaranya yang lain bersedih, itu lantaran karena bibiku belum bertaubat dan terlalu banyak kesalahan yang diperbuatnya. Misalnya saja, kuburan ibunya (nenekku) tak pernah dijenguknya untuk sekedar dibacakan doa, tahlil atau dibersihkan kuburannya, selain tentunya masalah warisan.

Usai meninggal persoalan itu masih belum selesai. Dengan kata lain, hak-hak warisan yang semestinya buat ibuku masih dipegang oleh suami bibiku dan anak-anaknya. Ibuku sendiri sudah mengikhlaskannya meski sebenarnya masih ada waktu untuk diperjuangkan karena bibi sudah meninggal dunia.

Namun, suami bibiku sepertinya juga tampak sama rakusnya. Sebenarnya dalam hatinya sangat sadar bahwa rumah dan tanah yang dikuasainya itu bukanlah hak sejatinya, tapi hak bagi ibuku. Tapi, kerakusan itu tetap menyelimuti pikiran dan kalbunya.

Aku hanya bisa bilang di sini bahwa kematian bibiku yang cukup mengenaskan itu, semestinya bisa dijadikan pelajaran penting buat suaminya khususnya. Dan juga untuk para sahabat yang membaca kisah ini pada umumnya bahwa mengambil harta orang lain yang bukan haknya adalah perbuatan yang sangat dicela Allah.

Bisa jadi, balasannya pun akan langsung ditimpakan oleh-Nya, seperti yang terjadi oleh bibiku itu. Akibat perbuatannya, ia harus setahun bergelut dengan rasa sakit yang mengerikan dan perut yang kian membesar hingga ajal menjemputnya.

Baca Juga Yang Lainnya: