Menikmati Rida Allah SWT

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - Sungguh nikmat hidup seorang hamba yang hatinya selalu beribadah dengan keridaan. Banyak keutamaan dunia dan akhirat yang bisa dicapainya.


Ibadah rida memiliki buah yang melimpah. Orang yang rida pada takdir Allah akan terangkat derajatnya hingga tempat yang paling tinggi dan melahirkan keyakinan yang kokoh dan mendalam, yang tentunya berpengaruh ada kejujuran berucap, berbuat, dan berperilaku.

Sebaliknya, orang yang mengeluh karena tidak menerima takdir Allah, tidak akan pernah menikmati hidup. Di matanya, yang tampak hanyalah rezeki yang selalu kurang, nasib yang selalu menyedihkan, dan musibah yang menimpanya berturut-turut.

Padahal, dia merasa bahwa dirinya berkah mendapatkan yang lebih. Di matanya, Rabb selalu berbuat tidak adil, selalu menghalanginya dari keuntungan, selalu memberikan ujian, selalu membebaninya, dan seterusnya.

Dalam menjawab hal itu, Rasulullah Saw pernah mengatakan, "Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka."

Sahabat AkuIslam.ID yang dirahmati Allah SWT, semakin hamba ridha kepada Allah, maka semakin bersih hatinya. Keridaan diibaratkan sebagai sebuah pohon yang baik, di sirami dengan air keikhlasan, dan ditanam di kebun tauhid. Akarnya adalah keimanan, dahan-dahannya adalah amal saleh, dan buahnya sangat manis.

Rasulullah Saw bersabda, "Orang yang merasakan manisnya iman adalah orang yang rida kepada Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabinya," (HR Muslim).

Lalu, apa itu Rida? Makna dari keridaan ini sebenarnya hanya mencakup mencintai-Nya semata, beribadah kepada-Nya semata, merasa takut hanya kepada-Nya, berharap hanya kepada-Nya, dan bertawakal hanya kepada-Nya.

Pengakuan keridaan kepada Allah ini juga berarti pengakuan keridaan atas segala perintah-Nya, kesediaan untuk meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya, dan menerima segala takdir dan ketentuan-Nya.

Makna rida kepada Islam sebagai agama ialah benar-benar menjadikannya sebagai pedoman hidup, mengikuti ajaran dan petunjuknya serta berani menolak segala hal yang tidak sesuai dengan ajarannya.

Bila kita sudah rida kepada Allah, Rasulullah dan kepada agama Islam, maka insya Allah kita akan merasakan hikmah keimanan. Rasulullah Saw bersabda, "Orang yang merasakan manisnya iman adalah orang yang rida kepada Allah sebagai Rabb-Nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Nabinya," (HR Muslim).

IKHLAS BERAMAL

Dalam hal perintah, di setiap waktu, ada perintah yang mesti dilaksanakan, baik amalan anggota tubuh seperti shalat, puasa, berlaku jujur, membantu orang lain menundukkan pandangan, menepati janji maupun amalan-amalan hati seperti kasih sayang, setia, yakin, sabar, syukur, dan sebagainya.

Dalam hal larangan, kita juga senantiasa dituntut untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT seperti mencuri, berzina, mengonsumsi makanan dan minuman haram, berbuat kasar, dan lain sebagainya. Selain itu juga menghindari bid'ah, larangan sifat negatif dalam diri seperti iri dengki, buruk sangka, riya, dan lain sebagainya.

Ketentuan Allah, itu selalu melingkupi hidupnya, kapan dan di mana pun. Semua hal yang menimpa, baik atau buruk adalah bagian dari ketentuan Allah.


loading...