Mengenai Kehamilan Cesar

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - Awalnya, saya tak mengerti kenapa kaum ibu sering berkata seribu penyakit jadi satu saat mengilustrasikan peristiwa kelahiran. Tapi, begitu saya melewati prosesnya, barulah saya paham dengan adegium tersebut.

Ilustrasi

Sakitnya luar biasa. Nyaris anfal. Betapa tidak. Di saat kontraksi sudah begitu hebat, badan sekuat tenaga harus dipaksakan mengejan. Peluh bak air bah. Sempat saya berpikir, inikah akhir hidup saya.

Karena saat itu saya merasa benar-benar tidak kuat lagi. Dengan tensi darah yang hanya enampuluh, sementara kepala bayi sudah ngongol keluar, saya kehabisan tenaga.

Untuk mengepalkan tangan saja tidak kuat. Mendelikkan mata pun berat. Pandangan nanar. Ngantuk. Lemas. Allahu Akbar. Saya pasrah.

Begitu diinfus, di saat tensi darah mencapai seratus, barulah saya bisa mengejan lagi. Hingga saya tidak menyadari bayi perempuan saya telah keluar. Alhamdulillah. Tetapi, sungguh nalar saya tidak mampu mencerna, dari mana datangnya kekuatan yang tiba-tiba itu. Inikah bukti Allah yang dituangkan dalam surat an-Nahl ayat 78 itu?

"Dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl: 78).

Hampir saja saya memasrahkan semuanya pada dokter dan bidan yang terampil dalam persoalan ini. Bukan pada Allah, Sang Maha Penentu segala sesuatu. Saya lupa, mereka hanyalah perantara.

Ketika kesadaran kembali muncul bahwa melahirkan adalah jihad, saya berpacu dengan waktu, menyiapkan diri untuk berjuang sambil menumbuhkan keyakinan dan tawakal. Yakin bahwa Allah yang akan mengeluarkannya.

Sebab itu pula, saya yakin naluri ibu mana pun pasti ingin melahirkan secara normal. Meski nyawa taruhannya. Hanya saja, ghirah ini makin memudar, seiring menjamurnya fenomena melahirkan dengan cara operasi cesar.

Umumnya, cesar dilakukan jika kelahiran normal akan mengancam hidup si bayi dan ibunya. Atau, dilakukan saat si ibu telah berupaya semaksimal mungkin namun tak mungkin melahirkan secara normal.

Hanya saja, alasan yang mengemuka ini kerap ditunggangi kepentingan tenaga medis dan rumah sakit yang tidak bertanggungjawab, guna mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Atau mungkin, memang ada segelintir ibu yang tidak mau beresiko menahan sakit saat melahirkan. Ironi memang. Meskipun itu hak setiap ibu.

Kalau sudah begini, bukan mustahil, suatu saat kaum ibu malah lebih 'mendewakan' petuag dokter ketimbang menanamkan keyakinan bahwa Allah-lah yang mengeluarkan si jabang bayi.

Nun jauh di sana. Di kampung saya, kaum ibunya tidak mengenal istilah cesar. Yang mereka tahu hanya melahirkan dengan cara normal. Walaupun sampai bertaruh nyawa. Tak berlebihan jika Allah, lewat sabda Rasul-Nya, menghadiahi syahid dunia kepada kaum wanita yang meninggal saat melahirkan.

Jika semangat yang mulai meredup ini kembali menyala, paling tidak, saya tidak perlu terlalu terkejut mendengar celoteh seorang kawan. 'Bagaimana sih rasanya melahirkan?' Padahal baru saja dia melahirkan putri pertamanya, sama seperti saya, meski dengan cara cesar.


loading...