Mayat Preman Berkeringat Darah Di Liang Kubur

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. al-Maidah:90).

Ilustrasi

Telah banyak cerita tentang akibat buruk bagi orang yang senang melanggar larangan-larangan Allah. Begitu pula kisah tragis tentang orang yang tidak pernah patuh terhadap perintah-perintah-Nya. Azab di akhirat telah jelas bagi orang-orang seperti itu, namun azab nyata di dunia bisa dalam rupa berbeda-beda.

Salah satunya adalah yang dialami oleh Embong (bukan nama sebenarnya). Ketika jasadnya hendak dimakamkan, darah mengalir deras dari seluruh lubang pori-pori mayat pemabuk ini. Suatu peristiwa yang menyiratkan pelajaran berharga bagi kita yang masih hidup. Agar tidak terjebak dalam perbuatan nista seperti yang dilakukan Emobong. Demikian kisahnya.

Malam itu, salah satu terminal bus antara kota yang terletak di Jakarta mulai terlihat sunyi. Namun, tiba-tiba kesunyian itu terusik dengan ditemukannya sesosok tubuh seorang pemuda. Pemuda yang dikenal dengan nama Embong, di temukan tergeletak di jalur bus luar kota oleh Memet (bukan nama sebenarnya) dalam kondisi menggelepar-gelepar.

Meski Memet yang sehari-hari bekerja sebagai sopir bus itu mengenal Embong sebagai preman yang sering meresahkan, namun ia tak segan memberikan pertolongan kepadanya. Hal itu ia lakukan semata-mata karena merasa kasihan, apalagi ia tahu bahwa Embong berasal dari kampung yang sama dengan dirinya.

Seraya berusaha memberikan pertolongan awal, Memet mencoba sebisanya memijit-mijit beberapa bagian tubuh Embong, dengan maksud agar meringankan rasa sakitnya. Ia pun tak lupa segera memanggil beberapa orang rekan-rekannya, yang tidak lama kemudian mengerumuni lokasi ditemukannya pria itu.

Salah seorang rekan Memet melapor ke pihak keamanan terminal, tujuannya ingin meminta bantuan agar Embong segera dibawa ke rumah sakit. Namun dengan sinis, salah seorang aparat keamanan ada yang mengatakan, "biarkan saja, tunggu sampai waktu kematiannya," Ungkapan ini keluar, mungkin karena aparat tersebut sudah sangat jengkel dengan perilaku Embong.

Setelah sedikit dipaksa, dan melihat kondisi Embong sangat parah, akhirnya mereka mau membawanya ke rumah sakit dengan menggunakan mobil operasional.

Peristiwa itu tepatnya terjadi pada malam penghujung tahun 2003. Ceritanya, hari itu aparat keamanan melakukan operasi rutin terhadap para preman yang berkeliaran di sekitar terminal. Embong ikut tertangkap dalam operasi tersebut, tapi malam harinya ia dibebaskan kembali dengan tubuh lebam-lebam seperti habis dipukuli.

Suhardi (bukan nama sebenarnya) membenarkan hal tersebut. Ketika itu, Embong menghampiri dirinya yang sedang berpesta ikan bakar bersama teman-temannya di komplek terminal. Mendapati muka Embong lebam-lebam, ia pun bertanya, "Kenapa kamu Bong, muka kamu kok bonyok begitu?." tanya Suhardi.

"Gue habis dipukulin aparat, tapi tidak apa-apa kok, gue cuma butuh istirahat sebentar," jawab Embong seolah tidak merasakan apa-apa.

Tapi setelah itu, Embong mengeluh, merasa seluruh tubuhnya sakit, badannya terasa remuk redam, meskipun dari luar kelihatan tidak ada bekas-bekas penganiayaan yang mencolok. Namun, sejujur kemudian Embong menghilang lagi ditelan kegelapan, tanpa sepengetahuan teman-temannya yang sedang asyik berpesta. Dan tidak lama setelah itu, ia diketemukan sedang sekarat tidak jauh dari tempat pesta itu.

MAYAT EMBONG BERKERINGAT DARAH

Sesampai di rumah sakit, Embong tidak langsung mendapatkan pertolongan. Awalnya, pihak rumah sakit menolak Embong untuk dirawat di sana, alasannya karena tidak ada keluarga yang bertanggung jawab atas pembiayaannya.

Namun karena kasihan, Suhardi, yang juga seorang pengurus koperasi angkutan bus kota, memberikan jaminan akan segera menghubungi pihak keluarganya yang tinggal di sebuah Kampung di Jawa Barat. Baru setelah itu, pihak rumah sakit mau merawat Embong.

Naas benar nasib pemuda ini, setelah seminggu dirawat di rumah sakit, kondisinya tidak semakin membaik, bahkan sebaliknya, ia menemui ajal di usia yang relatif muda belia. Kedua orang tuanya yang sudah berhasil dihubungi, enggan datang untuk menengok kondisinya. Pasalnya, mereka sudah kapok dengan kelakuan anaknya yang selalu merepotkan itu.

Berkali-kali mereka harus merogoh banyak uang untuk mengeluarkan Embong dari kantor polisi. Bahkan, suatu kali ada seorang oknum polisi yang meminta uang puluhan juta dengan alasan untuk menyelesaikan kasus kriminalnya.

Meski demikian, setelah dikabarkan bahwa anaknya meninggal di rumah sakit, kedua orang tua Embong datang untuk menjemput jenazahnya. Dengan ratapan tangis penuh penyesalan, mereka membawa jenazah Embong untuk dikuburkan di kampung halamannya.

Suhardi ikut terlibat mengurus jenazah Embong dari semenjak di rumah sakit sampai mengantar ke kampung halamannya. Ketika di laksanakan proses pemakaman, ia menyaksikan keganjilan. Darah yang semula keluar terus menerus dari mulut dan hidung Embong telah berhenti setelah ia meregang nyawa. Namun, ketika jenazahnya hendak dikuburkan, darah itu keluar kembali. Kali ini bukan dari mulut atau hidung, tapi merembes dari pori-pori sekujur tubuhnya.

Jenazah yang telah dibungkus rapih dengan kain kafan putih itu, akhirnya bersimbah warna merah darah. Setelah diperiksa, darah itu ternyata mengalir deras layaknya keringat yang bercucuran. Orang yang melihatnya terperanjat heran sekaligus merasa ngeri melihat kejadian tersebut. Namun, orang yang tahu sejarah hitam kehidupan pemuda itu, menganggap peristiwa tersebut sebagai azab yang diberikan oleh Allah.


Karena tak henti-henti mengucur, darah di sekujur tubuh Embong tidak dibersihkan terlebih dahulu. Jenazah yang masih bersimbah darah itu langsung dikuburkan saja, serata menyimpan sejuta tanda tanya bagi segenap keluarganya.

LEBIH BAIK TIDAK MAKAN, DARIPADA TIDAK BISA BELI MIERAS

Hampir semua orang yang tinggal di sekitar terminal bus itu, mengenal perilaku Embong yang suka membuat onar. Kebiasaan buruk pria berhidung mancung yang sering memalak para awak dan penumpang bus, menjadikan ia selalu diwaspadai oleh orang-orang sekitarnya, termasuk oleh aparat keamanan. Urat takut pemuda berdarah sunda itu seakan-akan telah putus. Meski telah berkali-kali dijebloskan ke dalam tahanan, namun ia tak pernah kapok.

Seringai senyum Embong sudah tak pernah tampak lagi seperti dulu. Penampilannya lusuh dan wajahnya tidak terlihat berseri lagi. Padahal, dulu semua orang mengenal sebagai pria yang lumayan tampan. Perubahan yang berlangsung cepat tersebut adalah akibat kebiasaan buruk yang tidak mau melepaskan diri dari jeratan kebiasaan minum-minuman keras.

Tiada lagi sahabat setia yang senantiasa menemani hari-hari pria berusia 23 tahun itu, kecuali botol-botol minuman beralkohol dengan berbagai merek. Ketika berbicara, hawa alkohol tercium menyengat dari mulutnya. Matanya selalu merah sayu layu, seperti orang yang kurang tidur. Ia juga sering sekali terlihat berjalan terhuyung-huyung di antara bus-bus kota yang sedang parkir di terminal.

Kalau Embong sedang mabuk berat, bicaranya mulai ngaco, semua orang ia panggil dengan sebutan nama-nama binatang. Tidak hanya itu, ia pun tak segan-segan meminta uang secara paksa dari orang-orang di sekitarnya.

Kalau tidak dikasih, ia mengamuk dan berteriak-teriak seperti kerasukans etan. Ujung-ujungnya terjadilah perkelahian yang tidak jarang mencederai korbannya. Kalau sudah seperti itu, orang-orang yang sudah tahu perangainya itu segera menyingkir untuk menghindari perlakuan kasar Embong.

Uang hasil memeras, ia gunakan untuk membeli minuman keras. Menurutnya, lebih baik tidak makan daripada tidak minum-minuman yang memabukkan itu. Oleh karena itu, tubuh pendeknya semakin hari semakin terlihat keropos. Menurut teman-temannya, ia jarang sekali makan. "Kalau dapet duit di cepet-cepet beli minuman, makam mah tidak pernah dia pikirin." tutur Suhardi

DIGEBUKI KARENA KEPERGOK MENCURI MOTOR

Sebenarnya, kalau sedang tidak mabuk, Embong adalah orang yang baik, cepat akrab dengan orang lain dan suka bercanda. Namun, sulit sekali menemukan ia dalam kondisi tidak mabuk. Kebiasaan teler itulah yang membuat ia tak bisa mengendalikan perilakunya. Alkohol telah meracuni otaknya, sehingga kadang-kadang ia melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.

Pernah suatu hari ada kejadian yang menggelikan. Dalam kondisi teler, Embong kepergok sedang mencuri sepeda motor. Wajar saja ia tertangkap, menurut teman-temannya ia tidak bisa mengendarai sepeda motor. Karena otaknya yang tidak berfungsi maksimal lagi, ia nekat mencuri barang yang tidak bisa ia bawa.

Akhirnya, ia digebuki masa beramai-ramai, untung saja aparat keamanan segera datang dan langsung menggelandangnya ke kantor polisi. Kalau tidak, mungkin waktu itu sudah menjadi mayat.

Tidak lama setelah keluar dari sel, Embong lagi-lagi terlibat tindak kriminal. Kali ini ia memukuli penumpang yang akan menggunakan jasa bus kota. Seperti biasa, awalnya ia meminta uang kepada penumpang itu. Karena tidak dikasih, Embong pun naik pitam, penumpang tersebut babak belur dihajarnya.

Akhirnya, atas peristiwa itu ia kembali menjadi buronan polisi, dan tertangkap, kemudian dijebloskan kembali ke sel. Ruang tahanan, baginya telah menjadi teman akrab, aparat keamanan juga sudah bosan melihat tampang pria yang sering keluar masuk bui ini.

ANAK ORANG KAYA

Pantas, kalau ada orang yang bilang bahwa dulu Embong adalah anak yang bersih dan berwajah ganteng. Karena menurut kabar dari para awak dan calo bus yang sekampung dengannya, ia adalah anak seorang pengusaha kaya di salah satu daerah di Jawa Barat.

Bapaknya adalah pengusaha yang lumayan sukses. Namun karena kehidupan rumah tangga kedua orangt uanya tidak harmonis dan sering cekcok, kehidupan Embong semakin tidak terurus. Hari-harinya kerap ia habiskan untuk nongkrong di pinggir jalan bersama teman-teman sekampungnya. Ia pun mulai jarang pulang ke rumah, sampai akhirnya ada seorang teman yang mengajaknya pergi ke Jakarta.

Jakarta ternyata bukan kota seperti yang Embong bayangkan sebelumnya. Teman yang mengajaknya ke kota itu hanya bekerja sebagai pengamen bus kota. Akibatnya, Embong juga terpaksa ikut mengamen bersama temannya itu. Semua itu harus ia lakukan, kalau ia mau tetap tinggal di Ibu Kota.

Semakin hari, Embong semakin terbiasa dengan kehidupan jalanan. Keengganannya untuk pulang ke rumah orang tuanya, semakin membuat ia betah hidup bebas. "Daripada di rumah pusing lihat orang tua berantem, mendingan di jalanan, makan nggak makan tetap senang," demikian kilahnya. Mulai saat itulah ia mulai berkenalan dengan dunia jalanan yang penuh kekerasan dan kriminalitas.

Sejak masih tinggal di kampung, Embong sudah mencoba-coba minuman keras. Teman-temannyalah yang mengajak, terutama ketika ia sedang suntuk melihat kedua orangtuanya ribut. Setelah tinggal di Jakarta, kebiasaan buruknya itu kembali berlanjut, bahkan semakin menjadi-jadi. Bersama teman-temannya sesama pengamen, ia sering menghabiskan hari-harinya untuk berpesta miras. Meski hasil mengamen tidak seberapa, namun membeli miras seperti telah menjadi hal yang wajib.

Demikian, kisah petualangan seorang preman bernama Embong yang berakhir dengan kematian tragis. Keluarganya tidak tahu menahu ihwal sebab musabab kematiannya, karena memang keduanya sudah tidak mau peduli dengannya.

Mayatnya yang mendadak mengeluarkan darah ketika hendak dikuburkan, menunjukkan kepada kita bentuk lain azab Allah kepada seorang pemabuk yang suka menzalimi orang lain. Semoga kisah ini dapat dijadikan pelajaran bagi kita, karena telah menunjukkan kebenaran firman Allah bahwa meminum minuman keras (khamr) adalah bagian dari perilaku setan. Wallahu a'lam.


loading...