Mantan Non-Muslim yang Selalu Merasa Di Sayang Allah

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Setelah diam-diam memelajari Islam, akhirnya Indriana Purnamawati mantap menjadi Muslimah. Ia pun merasakan banyak perubahan besar. Ia selalu merasa disayang Allah. Berikut kisahnya.

Ilustrasi

Terlahir dari keluarga yang taat pada ajaran Non-Muslim membuat Indriana Purnamawati selalu mengenyam pendidikan agama di sekolahnya mulai dari TK sampai dengan SMP. Perempuan berumur 50 tahun ini baru terbuka hatinya mengenai Islam saat ia duduk di bangku SMA.

Saat itu ia mengenyam pendidikan di sebuah SMA negeri. Kondisi itu membuatnya banyak bergaul dengan teman yang beragama Islam. Di sebuah kesempatan, ia penasaran melihat temannya membawa mukena ke sekolah. Ia juga mulai banyak tahu tentang ibadah-ibadah di dalam Islam. Hanya saja ia berpikir kenapa Islam itu begitu ribet.

Suatu saat ia mulai dekat dengan seorang teman laki-laki Muslim. Laki-laki ini selalu menggiringnya agar mau masuk menjadi Muslimah. Indriana tak menyukai hal itu sehingga ia menjadi benci setengah mati dengan Islam.

Namun, lambat laun ia mulai tertarik dengan Islam. Rasa penasarannya yang sangat tinggi membuatnya banyak belajar hal baru tentang Islam. "Bahkan, saya iseng-iseng ikut pelajaran agama Islam juga," ujarnya.

TERTARIK ISLAM

Saat itu, ketika datang waktu ulangan pelajaran Agama Islam, ia harus mencontek dan belajar mati-matian agar nilainya tidak terlalu jelek. Hingga sampai pada masa kuliah, ia semakin dekat dengan Islam. Teman kos sekamarnya seorang muslim yang taat dan banyak mempunyai buku agama yang menarik perhatian.

"Awalnya ngumpet-ngumpet baca buku agama teman saya ini dan lama-lama tertarik," kata Nina, sapaan akrabnya.

Banyak pengetahuan baru yang didapatnya ketika mempelajari Islam. Salah satunya adalah kenyataan Allah itu bersifat Esa dan tidak diperanakkan. Setelah banyak membaca buku agama Islam, rasa ingin tahunya semakin besar. Ia akhirnya berani membuka Alquran yang di dalamnya ada terjemahannya. Ia tidak menyerah. ia terus membuka Alquran dan membaca buku-buku Agama.

Melalui proses yang panjang, Nina akhirnya merasa mendapatkan hidayah hingga ia minta diajarkan shalat oleh teman. pada 1983, ia akhirnya mantap mengucapkan syahadat di depan teman-teman juga ustadz yang membimbingnya.

Awalnya, Nina menyembunyikan identitas barunya sebagai muslimah, apalagi di depan keluarga. Karena ia tahu keluarganya adalah penganut non-Muslim yang taat. Suatu hari, keluarganya mengetahui juga keislamannya. Saat itu, orang tuanya melihat ia sedang shalat. Bapaknya begitu marah melihat kejadian tersebut.

"Saat dimarahi itu, saya ya diam saja," katanya.

Nina merasa jalan Islam yang ia pilih ini sudah sangat tepat dan ia mantap karena ini muncul dari keinginannya sendiri. Sebelumnya, Nina banyak mendulang informasi dan ilmu dari buku-buku dan bertanya kepada orang-orang yang bisa memberikan jawaban memuaskan untuknya.

Jadi, ia masuk Islam benar-benar karena kemauan sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun dan baru sekedar ikut-ikutan.

BANYAK HIKMAH

Setelah masuk Islam, ia merasakan perubahan besar yang terjadi terhadapnya. Jika mau melakukan sesuatu, ia akan banyak berpikir terlebih dahulu, akibatnya apa nanti dan dihubungkan dulu dengan hukum Islam.

Selain itu, ia selalu mengambil hikmah dalam setiap apa yang telah dilakukannya. "Saya selalu merasa disayang Allah," ucap Nina

Ia merasa seperti terlahir kembali setelah masuk Islam. Nina merasa menjadi orang baru dengan pandangan hidup baru yang lebih nyaman. meski begitu, ia tetap menghormati keluarga dan orang-orang di sekelilingnya yang mempunyai pandangan berbeda.

Meski mendapatkan kecaman dan dihadapkan pada amarah bapaknya karena pindah agama, Nina tetap mantap memilih Islam. Ketika ia dimarahi, ia hanya diam tanpa membantah.

Perilakunya pun tidak berubah, ia tetaplah menjadi Nina yang baik hati, cerdas, dan manis. bahkan, semakin hari akhlaknya semakin baik. Inilah yang membuat keluarganya yang lain tertarik juga pada Islam.

"Alhamdulillah, akhirnya semua keluarga saya jadi Islam. Bahkan, ibu saya memutuskan menjadi mualaf dan langsung giat belajar shalat dan agama di sisa usianya. Ia meninggal saat sedang ingin shalat. Saat itu masih mengenakan mukena, namun tiba-tiba ambruk dan meninggal." kata Nina.

Related Posts

loading...