Mamaku Sophaholic

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Mempunyai orang tua kaya memang menyenangkan. Tapi, sebesar apapun kekayaan akan sia-sia jika dipakai belanja barang mewah yang tidak perlu. Itulah sikap salah seorang wanita ini. Beruntung ia dinasihati dan diruqyah sehingga sadar dari kesalahannya. Berikut penuturan anaknya.

Ilustrasi

Kami memang hidup berkecukupan, tinggal di kota metropolitan. Bisnis papa di bidang modifikasi otomotif. Dengan kondisi seperti itu, pengaruh pergaulan high class terus menerus memengaruhi perangai Mama.

"Mama kok belanja terus sih dari kemarin?" protesku.

"Sayang, ini semua barang-barang branded yang lagi diskon, sayang kan kalau nggak diambil," bela Mama.

Suatu ketika aku diajak Mama ke perkumpulan mereka, sempat kudengar perbincangan mereka. "Jeng, gimana bisnis suaminya?" tanya salah seorang dari mereka.

"Oh, sekarang sedang ramai-ramainya," jawab Mama bangga.

Alangkah perihnya hatiku karena dibalik itu aku tahu bahwa bisnis papa saat ini dalam keadaan terpuruk. Astagfirullah, mengapa mama harus berbohong hanya untuk menjaga Image.

"Kok mama ngomong gitu?" tanyaku.

"Ah, kamu ini, gengsi fong kalau mereka tahu yang sebenarnya," kilahnya.

BANGKRUT

Siang itu ada seorang petugas bank datang untuk menyita rumah karena ternyata mama telah menjaminkan sertifikat rumah kami di bank.

Mengetahui hal itu, papa sangat kaget. Papa baru sadar kalau ternyata mama banyak melakukan hal yang berisiko.

Dengan berat hati kami harus pindah ke rumah yang lebih sederhana di pinggiran kota, Sedang mama masih saja dengan hobinya yang suka menghambur-hamburkan uang.

Aku dan papa yang merasa prihatin dengan keadaan ini berusaha menyadarkan mama, namun tak juga mempan.

Ingin rasanya kutinggalkan rumah karena tak tahan dengan sikap mama. Tetapi, melihat papa yang begitu sabar dan sayang kepada kami, kuurungkan niat itu.

Sampai suatu ketika papa mengajakku menemui seorang Ustad di Semarang untuk meruqyahkan mama agar segera sadar dari perbuatannya. Selain itu papa juga ingin mengonsultasikan bisnisnya yang sedang terpuruk.

Setelah kami jelaskan panjang lebar masalah kami, akhirnya diputuskanlah bahwa mama harus segera diruqyah untuk menghilangkan aura negatif yang melekat dalam diri dan jiwanya.

Lebih dari itu, Ustad juga memberikan arahan-arahan serta tips-tips praktis kepada kami agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan cara berbisnis yang baik. Terus terang, saat itu kami merasa tenang dan berpikir positif untuk menyadarkan mama. Atas izin Allah SWT, kerja keras dan usaha kami tidaklah sia-sia.

Sedikit-semi sedikit perilaku mama mulai berubah ke hal yang positif dan berusaha menjadi sosok yang lebih baik. Kegiatan kumpul-kumpul dan menghamburkan uang perlahan-lahan mulai berkurang dan lebih sering mengikuti acara pengajian-pengajian di lingkungan tempat tinggal kami yang baru.

Kami merasa bersyukur karena selain mama yang mulai berubah sifatnya, bisnis papa juga perlahan-lahan mulai membaik.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...