Kisah Nyata, Mati Setelah Menyumpahi Ibu

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - Kisah kedurhakaan seorang anak pada ibunya. Padahal bentuk kedurhakaan sekecil apa pun terhadap ibu niscaya berbalas murka Tuhan. Tapi, kisah malinkundang ini selalu saja muncul walau dengan latar berbeda.

Ilustrasi

Seperti biasa, pagi itu perut Darmi (bukan nama sebenarnya), 70 tahun, tak bisa diajak kompromi. Teriak-teriak minta diisi. Namun, wanita renta tak berdaya itu hanya bisa mengelus-elus perutnya. Rasa lapar terpaksa dikalahkan.

Bagi ibu yang sudah bertahun-tahun kena stroke itu, mencari menu sarapan yang sesuai keinginannya lumayah susah. Maklum, anggota tubuhnya yang lumpuh menyulitkannya untuk bergerak. Walau ia duduk di kursi roda. Sementara, meminta bantuan orang lain, ia sungkan.

Padahal sebenarnya Darmi tidak tinggal sendirian. Ia tinggal bersama anak bungsunya, Wawan (nama samaran), 19 tahun. Tapi kepada Wawan pun Darmi kadang enggan menyuruh.  Si bungsu yang masih bujang itu sering ogah disuruh-suruh.

"Pagi ini kok ingin sarapan bubur Mang Sunar ya," batin Darmi.

Bubur Mang Sunar memang terkenal paling enak di kampung. Belum ada di depan mata, kelezatannya seakan sudah menempel di ujung lidah. Tapi Darmi jadi bingung, sebab tidak ada orang yang bisa disuruhnya membeli bubur selain Wawan.

Jikapun harus orang lain, paling-paling Wati, pembantu yang mengurus keperluannya selama ini. Namun Wati pun biasanya datang jam 8 lewat.

Dengan perasaan ragu, Darmi memutar kursi rodanya ke arah kursi tamu. Ia ingin membangunkan si bungsu. Pemuda tanggung itu masih asyik terlelap. Kelihatannya ia habis begadang. Ada puntung rokok, kulit kacang dan segelas kopi di atas meja. Pemandangan yang biasa terlihat jika si bungsu begadang.

"Waann.... banguun...."

Sekali, dua kali, tak juga ada sahutan.

"Naaakkk... bangun Naaakkkk ....." Agak keras Darmi memanggil.

Tidak juga berhasil, Ibu tua itu pun berusaha mengguncang-guncang tubuh anaknya. Tidak lama, barulah mata Wawan sedikit terbuka.

"Ada apa sih, Mak!"

Wawan merespons sambil kembali memejamkan mata. Suaranya pun berat. Menandakan ia masih mengantuk.

"Emak mau minta tolong....." Suara Darmi agak ragu. Dia takut Wawan marah karena tidurnya terganggu.

"Minta tolong apa?"

"Belikan bubur Mamang Sunar ya. Emak pengen banget."

Wawan tidak beringsur sedikit pun. Darmi pun tak juga beranjak dari tempatnya. Terasa sang ibu masih berada di dekatnya, Wawan akhirnya bangun.

"Ganggu orang tidur aja!!" bentaknya tiba-tiba dengan nada kasar.

Sambil menggosok-gosok matanya, Wawan masih ngomel. Tapi sedikit pun Darmi tidak meresponsnya. Apalagi sambil balik memarahi.

"Dasar orangtua, sukanya ngerepotin aja!!!"

Terus saja mulut Wawan berkoar-koar seraya menuju dapur untuk mengambil rantang.

"Capek tau ngurusin Emak !!! Hhhh... mati aja lu!!!"

Muka Wawan memerah. Dengan beringas ia hardik ibunya yang menggigil ketakutan sambil memukul rantang yang dibawanya.

Darmi masih menunduk takut. Matanya mulai berembun. Wawan pun berlalu dari hadapannya. Tapi baru saja kakinya sampai di depan pintu, kakinya kelu. Pandangannya nanar. Seketika Wawan jatuh roboh. Bruukkkkk.

MATI SEKETIKA

Darmi tercekat. Ia kaget melihat anaknya yang masih segar bugar itu tiba-tiba roboh. Bergegas ia putar kursi rodanya menuju tubuh Wawan yang tergelak.

"Waaannn....., bangun, Naaakkk!!" teriak Darmi dengan suara parau.

Tapi tubuh Wawan tak bergerak sedikit pun. Darmi malah agak ketakutan sewaktu ia menyadari kalau tubuh anaknya sudah kaku. Bahkan nampak kebiru-biruan. Bengkak. Sebelah biji mata Wawan pun nongol keluar. Lidahnya menjulur (melet).

Menurut sebuah sumber, sebut saja Maemunah, yang menceritakan seluruh kejadian dengan detail, dada Wawan terlihat seperti tersambar petir.

Dalam keadaan setengah ketakutan, Darmi berusaha teriak minta tolong. Ia sadar suaranya tidak bisa kencang. Sebab semenjak stroke lidahnya kelu. Wanita itu pasrah. Untunglah tidak lama kemudian tetangga-tetangga dekat ada yang mendengar suaranya. Mereka akhirnya berdatangan.

Seperti Darmi, orang-orang itu juga kaget. Mereka tidak menyangka kalau Wawan menemui ajal secepat itu. Sebab, selama ini, menurut pengakuan ibunya, jarang sekali pemuda itu sakit. Di mata banyak orang pun pemuda itu nampak selalu segar.

Untuk memastikan apakah Wawan mengidap penyakit ataukah tidak, didatangkanlah dokter dari klinik pengobatan terdekat. Dan ternyata, Wawan dinyatakan sehat. Tidak sedang mengidap penyakit apa pun.

Begitu kepastian sehat tidaknya Wawan didapat, proses pengurusan jenazah pun akhirnya dimulai. Jenazah Wawan yang kaku dan masih memegang rantang itu segera dibaringkan di atas sebuah bale untuk dimandikan. Begitu orang-orang yang akan memandikannya melepas baju Wawan, keanehan kembali terjadi.

Kali ini kaos yang dikenakan Wawan tak bisa dilepas. Begitu juga dengan celana pendek yang dikenakannya. Lengket. "Ditarik paksa juga susah!" Maka tidak ada cara lain kecuali harus dengan mengguntingnya.

TAK BANYAK YANG TAHU

Kematian Wawan yang tragis dan mengenaskan itu tidak banyak diketahui orang. Padahal bisa dibilang, kematian yang tragis itu sempat membuat orang-orang yang ada di rumah almarhum kaget. Jarang sekali ada peristiwa semacam itu. Kalau tak pandai-pandai menyimpannya, bisa jadi peristiwa 'langka' ini jadi buah bibir orang sekampung.

Hal ini sengaja dirahasiakan sesuai permintaan bu Darmi. "Ibunya malu kalau sampai almarhum Wawan jadi berita gosip,"

Seburuk-buruknya perangai anak, tidak mungkin ada orangtua yang menolaknya. Begitu juga Darmi, ia sangat menyayangi Wawan. Karena itulah ibu tua itu berpesan kepada siapa saja yang mengetahui dan kebetulan datang menyaksikan kematian Wawan, agar merahasiakan peristiwa tragis itu.

Tapi terlepas dari itu semua, sebenarnya banyak yang mengatakan bahwa peristiwa kematian Wawan tidak wajar. "Mereka bilang sih kejadian itu hukum karma," terang Maemunah.

Bagaimana tidak. Menurut tetangga-tetangga dekat, apalagi mereka yang mengenal Wawan dengan baik, selama ini almarhum sering bertindak kurang sopan terhadap ibunya. Bahkan bisa dibilang kurang ajar. Membentak, sumpah serapah, bahkan terkadang mengancam untuk membunuh sang ibu sering ia lakukan.

Pemuda itu benar-benar tidak peduli pada ibunya. padahal kondisi sang ibu makin memprihatinkan. Ulah Wawan malah semakin membuat ibunya tertekan.

MULANYA ANAK YANG PEDULI

Walau bandel, setidaknya Darmi tidak merasa terlalu kesepian dan sebatang kara. Darmi masih punya si bungsu Wawan. Ia berharap, bungsu laki-lakinya ini bisa menjaganya dengan baik. Maklumlah, anak-anaknya yang lain sudah berkeluarga. Mereka semuanya tinggal di luar kota.

Lagi pula si ibu mungkin tidak mau menyusahkan anaknya yang sudah berumahtangga. Karenanya dia ingin tinggal di rumah dan di urus oleh anaknya yang bungsu dan belum kerja.

Sebagaimana keinginan bu Darmi dan kakak-kakak Wawan, pemuda itu mulanya bersedia menjaga ibunya. Hal itu terlihat dengan sikap Wawan yang hormat dan santun pada sang ibu. Terutama ketika ibunya baru-baru saja terserang penyakit.

Apa saja yang diinginkan ibunya, Wawan selalu menuruti. Bahkan saat bu Darmi selesai buang hajat pun pemuda itu mau membersihkannya.

Bisa dikatakan, ini merupakan hal langka. Sebab bagi pemuda kebanyakan sebaya Wawan, jarang sekali ada yang betah tinggal di rumah. Apalagi harus mengurus orangtuanya yang sakit-sakitan, bahkan lumpuh.

Tapi siapa sangka, semuanya berubah. Cerita manis itu hanya terekam sesaat. Kini Wawan ingin seperti anak muda pada umumnya. Menghabiskan waktu bersenang-senang. Nongkrong sambil begadang di pojokan gang kampung. Pusing rasanya jika harus mengurus perempuan tua dan pesakitan.

Keinginan sang ibu kini sudah tidak dipedulikannya lagi. Paling-paling hanya sekali saja ia penuhi permintaan ibunya. Itu pun, jika suasana hatinya sedang enak.

Lalu, dimulailah babak baru berubah sikap Wawan. Lelaki itu mulai tidak suka pada ibunya. Ia kerapkali menunjukkan sikap yang tidak pantas dilihat dan didengar. Kalau disuruh malah membentak.

Kata Maemunah, "Namanya anak muda, emosinya mudah meledak-ledak. Maunya enak-enakan. Tidak mau susah, Memang sih, menghadapi orangtua yang makin lanjut umurnya kayak menghadapi anak kecil. Rewel. Apalagi ibunya sakit-sakitan dan lumpuh. Mungkin dari situlah Wawan tidak tahan."

Sampai tibalah kejadian tragis atas buah perangai buruk almarhum. Ia mati sesaat setelah menyumpahi ibunya.

"Kejadiannya belum lama," cerita Maemunah.

Secara rasio, sikap emosional yang ada pada Wawan bisa dimaklumi. Di usianya yang masih muda, Wawan belum mampu mengendalikan emosinya. Apalagi selama ini, tidak ada orang yang menuntunnya. Ditambah lagi pemuda itu berkawan dengan pemuda kampung yang pengangguran dan senang bikin onar.

Tetapi seyogyanya Wawan belajar melatih kesabarannya. Itulah saat dimana dia membuktikan baktinya kepada sang ibu. Orang yang melahirkan dan membesarkannya dengan cinta dan penuh kasih selama ini.

Toh dia masih memiliki saudara. Meskipun mereka tinggal berjauhan. Apalagi sebenarnya dia anak yang baik. Kalau dia merasa sudah tidak mampu, setidaknya Wawan berpikir bahwa apa yang dihadapinya harus dikomunikasikan pada kakak-kakaknya. Sehingga mereka bisa memberikan masukan dan jalan keluar.

Sayang, rasa jemu lantaran mengurus orang sakit itu dibiarkan mengembang. Virusnya makin menjadi tatkala Wawan terjerambab dalam salah pergaulan. Inilah yang kemudian menariknya ke luar garis kewajaran.

Kisah ini setidaknya mengingatkan kita pada pesan Luqman Hakim pada Al-Qur'an untuk selalu berbakti kepada orangtua. Terutama ibu, hingga Nabi Saw pun menggambarkan surga di bawah telapak kakinya.

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah dan melahirkan dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (al-Ahqaf: 15).


loading...