Kisah Nyata : Akibat Makan Harta Anak Yatim

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - Pengalaman ini terjadi sekitar tahun 1989. Saat itu aku masih duduk di kelas 1 SMP Negeri di Jakarta. Dengan tiba-tiba kami harus pindah dari rumah yang telah kami tempati selama kurang lebih empat belas tahun. Ayahku menjual rumah yang cukup besar itu dengan harga murah, karena terdesak membayar hutang kepada rentenir.

Ilustrasi

Kami sekeluarga pindah ke sebuah rumah di daerah pinggiran Jakarta. Ayahku membeli tanah itu melalui seorang temannya dan mulai membangunnya sedikit demi sedikit. Belum rapi rumah itu dibangun, ternyata tanah itu adalah tanah sengketa, rupanya temannya telah menipu ayahku, sehingga kami terpaksa harus meninggalkan tanah itu.

Entah bagaimana sebabnya, mulai saat itu ada saja masalah dan kesulitan ekonomi sehingga sedikit demi sedikit harta benda kami terjual sampai kami benar-benar tidak punya apa-apa.

Akhirnya keluarga kami pindah kembali hidup di Jakarta mulai dari nol, dengan tidak mempunyai tanah, rumah atau harta benda apa pun.

Rumah kami hanya terbuat dari triplek dan sengseng bekas yang dibangun seadanya, cukup untuk melindungi kami dari panas dan hujan.

Itu pun hanya dibangun menumpang diatas tanah orang. Sungguh aku tak menyangka sama sekali bahwa hanya dalam waktu dua tahun, kami yang tadinya tinggal di sebuah rumah yang cukup layak tiba-tiba kini tinggal dalam sebuah rumah yang bisa dibilang sebuah rumah gubug.

Aku selalu brtanya dalam hati, kenapa Allah menguji keluargaku begitu berat. Setelah beranjak dewasa, aku baru mulai mengerti. Ternyata, ayahku telah berbuat salah karena memakan harta anak yatim. Itu menurut kesimpulanku sendiri.

Seingatku, tanteku pernah bercerita kepadaku, bahwa dia pernah memberikan sejumlah uang kepada ayahku untuk dibelikan tanah di pinggiran Jakarta. Menurut tanteku, ayahku telah membeli tanah itu dan telah memperlihatkan surat-surat tanah itu kepada tanteku tetapi tidak memberikan surat tanah itu dengan alasan belum selesai mengurusnya. Padahal tanteku adalah seorang janda.

Hingga sekian lama surat tanah itu tak pernah diberikan oleh ayahku. Ayah juga selalu mengelak dan mencari alasan lain bila ditanya oleh tante mengenai surat tanah itu. Karen tak mau bertengkar dengan saudara sendiri, tanteku melupakan surat itu.

Bagi tante, lebih baik persaudaran tetap utuh daripada mempersoalkan tanah itu. Sampai kini pun tanteku tak tahu apakah tanah itu dijual lagi oleh ayahku atau bagaimana.

Kini Allah telah menghukum ayahku dan kami sekeluarga. Aku yakin, semua itu karena perbuatan ayah yang telah memakan harta anak yatim, harta yang seharusnya menjadi hak saudara-saudara sepupuku yang telah yatim.

Pelajaran ini menjadi hikmah yang sangat dalam bagiku. Aku berharap pengalaman ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua yang membaca kisah ini. Amin.


loading...