Ketaqwaan Hati Seorang Istri

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
Pada tahun 1987, saya dan istri menikah. Pada waktu itu, saya menikah dengan terlebih dahulu memeluk agama Islam, yakni agama yang dianut istri saya.

Saat itu, tatkala memeluk Agama Islam, seluruh keluarga saya sangat marah. Namun, karena saya memberi penjelasan dengan baik ke keluarga, akhirnya mereka mau mengerti.

Ilustrasi

Setelah menikah, kami melalui hari-hari penuh keharmonisan dalam membangun mahligai rumah tangga, tanpa ada pertengkaran sama sekali. Walaupun, kami saling mencintai, tapi perbedaan misi yang harus kami jalani.

Pada suatu hari, ketika istri saya sedang melaksanakan shalat Maghrib, saya berusaha mengganggunya agar dia tidak terus menjalankan shalatnya. Akan tetapi, istri saya sama sekali tidak merasa terganggu, malah shalatnya nampak makin khusyuk saja.

Memang, jujur saya akui, ketika saya mau menikahinya, saya membawa suatu misi. Pada tahun 1990, ketika itu anak kami baru satu orang, saya pernah mengajak istri saya untuk pindah agama, lalu istri saya hanya menjawab, "Bila abang pikir dengan menjual iman dan aqidah kita bisa hidup dengan senang? Mengapa dulu abang mau menikahi saya."

Akhirnya, bujukan dan rayuan saya gagal total di tengah jalan. Tapi yang namanya misi, saya tidak langsung menyerah begitu saja. Perjuangan pun saya lanjutkan. Kalau saya tidak lupa, saat itu tahun 1997. Saya, untuk kedua kalinya, mengajak istri saya kembali untuk keluar dari agama Islam.

Ternyata, iman istri saya begitu kuat. Dan ia malah bertanya, "Bila abang menganggap agama yang abang anut dulu adalah agama yang benar, coba jawablah pertanyaan saya ini. Benarkah tuhan yang abang anut dulu adalah Tuhan?" lalu saya menjawab, "Benar, ia adalah Tuhan."

Istri saya kemudian bertanya kembali, "Mengapa tuhan harus menetek? Dan ketika dia masih kecil, kenapa harus dimandikan oleh ibunya?" Ditanya demikian, saya tidak dapat menjawabnya.

Lalu istri saya membacakan al-Qur'an, surat al-Ikhlas dan surat Al-Qalam. Kala itu, betapa sedih hati saya mendengarnya, tanpa terasa air mata saya mengalir mendengar penuturan dan keterangan istri saya itu. Semenjak itu, hati saya menjadi mantap memeluk agama Islam.

Dan orang yang pertama yang menuntut saya adalah istri saya sendiri. Bahkan, sampai sekarang, saya belajar dengan istri saya sendiri. Walaupun kini kami sudah tidak punya anak lagi lantaran ia meninggal saat terjadinya gempa bumi tanggal 28 Maret 2005 lalu, saya dan istri tetap bahagia.

Pesan saya kepada seluruh yang membaca artikel ini, berhati-hatilah dengan memilih pasangan hidup, apalagi yang bukan seiman dan seaqidah sama kita. Walau bagaimana pun, mereka (non muslim) bukan pasangan yang cocok untuk kita sebagai umat Islam.

Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran, ayat 118, yang berbunyi: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar aqidahmu dan berhati-hatilah terhadap tipu daya mereka."

Baca Juga Yang Lainnya: