Kehidupan Yang Didapatkan Usai Menyakiti Hati Ibu?

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Menyedihkan hidup Nurdin. Bukannya berbakti kepada ibunya, ia justru membuat hati ibunya teriris dengan ulahnya. Nauzubillah, sang Ibu pun terlanjut mendoakan dengan keburukan untuknya. Ternyata, sumpah sang Ibu menjadi kenyataan. Hidup Nurdin pun berakhir tragis.

Ilustrasi

Pintu tobat akan tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Begitulah pesan baginda Rasul Saw. "Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung menerima tobat seseorang sebelum nyawanya sampai di tenggorokan," (HR. Tirmidzi).

Namun, tak sedikit orang yang tetap dalam maksiat, padahal ajal akan tiba sewaktu-waktu. Begitulah akhir hidup Nurdin (bukan nama sebenarnya).

Pria yang tinggal di utara Jawa Timur itu masih terkesima dengan dunia kejahatannya. "Orangnya suka merampas harta orang, belum lagi kebiasaan mabuknya yang selalu meresahkan warha," ujar Hasan, tetangganya memulai kisah perjalanan Nurdin.

Puncak kebengalan pria itu terjadi saat ia mengganggu istri tetangganya, empat tahun silam. Warga yang marah pun mengepungnya. Merasa terdesak, Nurdin pun melarikan diri dengan memacu motornya sekencang-kencangnya.

DISUMPAH IBU

Tapi nahas, motor yang di kendarainya oleng dan menghantam pembatas jalan. Tak ayal, ia pun terjatuh. Belum sempat ia bangkit untuk melarikan diri, warga yang marah lebih dulu mengeroyoknya. Meski berhasil lari, Nurdin pun terluka cukup parah.

"Suaminya juga marah sekali, dia juga ikut "menghakimi"," lanjut Hasan mengurai kisah waktu itu.

Meski sudah terdesak, Nurdin berhasil melarikan diri meski dengan luka serius. Setiba di rumahnya, baru masuk pekarangan, kata Hasan, Nurdin yang sudah terluka berteriak-teriak meminta tolong kepada ibunya.

"Buuuuu, tolong, Bu.....," teriak Nurdin

Tapi, sang ibu yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di dalam rumahnya tak menggubris. Justru berteriak lantang, "Mati wae, Le, (mati saja Nak)!"

Tak ayal, akibat luka dideritanya, tubuh Nurdin pun ambruk di depan rumahnya. Nyawanya pun tak bisa tertolong. "Cukup lama di tergeletak di depan rumahnya, sebelum warga berbondong-bondong mengangkat tubuhnya yang sudah tak bergerak," jelas Hasan.

Mengetahui apa yang terjadi, warga bukannya simpati, tapi seolah lega karena sosok yang meresahkannya sudah tidak ada lagi.

"Banyak yang kasak-kusus begitu," imbuh Hasan mengamini hal itu.

TELANTARKAN ISTRI

Kesimpulan warga mungkin saja beralasan. Nurdin dikenal sebagai sosok yang keras kepala dan mudah tersinggung. Di wilayahnya, ia sangat ditakuti. Tak ada orang yang berani menasihatinya sebab pasti menjadi musuhnya. Bahkan, suatu ketika ia pernah bertengkar dengan seorang tokoh agama di kampungnya.

"Kejadiannya memang sangat lama, waktu itu dia masih remaja, belum punya istri," ulas Hasan lagi.

Ketika sang kiai menasihatinya, karena sering membuat resah warga dengan mengajak anak-anak muda minum-minuman keras, sang kiai justru dimusuhi.

"Padahal Pak Kiai itu ingin agar dia tobat, tapi malah di musuhi," terangnya.

Perilaku Nurdin semakin tak terkendali, meski sudah berumah tangga. Bukannya bertanggung jawab kepada istrinya, ia justru menelantarkannya. Akibat ulah suaminya, istrinya pun pulang ke rumah orang tuanya.

"Dia selalu pulang malam dan mabuk," tegas Hasan.

Tak hanya itu, selama berumah tangga, ia masih bergantung kepada ibunya. "Bahkan, istrinya pernah minta cerai," ungkap Hasan.

Hal lain yang disayangkan Hasan, meski sudah beribu nasihat, Nurdin tak pernah mau ke masjid atau musala. "Bahkan, shalat Idul Fitri dan Idul Adha saja tidak mau, apa lagi Jumatan (shalat Jumat)," Pungkas Hasan.

Bahkan, nasib tragis Nurdin pun bagi warga tak lepas dari kedurhakaannya pada sang ibu. Tak terhitung Nurdin membuat ibunya menangis.

"Sama ibunya, dia kasar, perbuatannya sudah keterlaluan," ujar warga lain menguatkan.

Menurut warga, kasih sayang dan kesabaran sang ibu, ia balas dengan tamparan rasa malu. Ibunya sendiri, kata Hasan, seperti malu mengakuinya sebagai anak karena dinasihati tak pernah diindahkan.

"Bisa jadi itu semua akibat sumpah ibunya itu," pungkas Hasan.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...