Hukum Memakan Daging Babi Dan Berzina

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Saya memiliki masalah pribadi. Dulu saya pernah punya seorang pacar yang berbeda keyakinan agama dan kami terlanjut melakukan zina.

Ilustrasi

Sekarang saya mau bertaubat. Tapi saya pernah mendengar bahwa orang yang melakukan zina harus menerima hukuman cambuk sebanyak 100 kali.

Pertanyaan saya, siapa yang berhak mencambuk orang yang berzina? Apakah semua shalat dan doa saya diterima Allah SWT? Dan kenapa seorang Muslim dilarang makan daging babi?

Diatas adalah pertanyaan dari Sahabat AkuIslam.ID dari Jakarta

Untuk persoalan daging babi, dalam hal ini Allah telah jelas melarang hamba-Nya. Sebagai orang yang beriman tentunya kita wajib mematuhi larangan Allah tersebut.

Kalau tentang taubat, Anda harus menyesali perbuatan buruk yang pernah Anda lakukan. Menangislah untuk memohon ampunan Allah dan jangan dekat-dekat dengan perzinaan lagi.

Mengenai hukum cambuk, mengingat hukum cambuk di Indonesia tidak ada, maka hal ini tidak mungkin bisa dilakukan.

Yang bisa dilakukan adalah terus-meneruslah menangisi dosa-dosa Anda. Agar anda selalu ingat bahwa apa yang telah Anda lakukan itu salah.

Jangan pula dekat dengan laki-laki lagi. Insya Allah, Allah akan mengampuni dosa Anda. Tapi sekali lagi, jangan lupa untuk menyesali semua perbuatan dosa Anda.

Untuk masalah mengapa orang Islam tidak boleh makan babi karena Allah SWT berfirman :

 إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Baqarah: 173).

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...