Gatal Dan Kudisan Karena Bersumpah

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Kisah ini sudah cukup lama yaitu ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Adapun kejadiannya terjadi di sebuah kampung yang cukup jauh dari kota, tepatnya, di daerah pelosok Sulawesi Tenggara.

Ilustrasi

Sudah menjadi tradisi di kampung saya bahwa dalam seminggu hanya ada dua hari pasar. Yakni hari Rabu dan Minggu. Tidak seperti di kota-kota besar yang setiap harinya adalah hari pasar.

Pada jam 04.00 dini hari di saat cuaca masih gelap, pasar sudah dibuka dan mulai ramai. Karena hari pasar dimulai sejak pagi-pagi sekali, maka sekitar jam 10.00 menjelang siang, pasar sudah mulai sepi. 

Begitu cepat memang. Pada hari pasar itu, kebetulan ibuku menyuruh saya ke apsar sebab saya anak tertua. Sebelum hari pasar tiba, pada malam harinya ibu saya sudah mempersiapkan daftar belanjaan sekaligus uang untuk belanja agar esok harinya saya langsung berangkat.

Daftar belanjaan sudah disiapkan dengan dua lembar uang Rp. 20.000,- an diselipkan dalam daftar tersebut. Dengan rasa kantuk dan sedikit malas, pagi-pagi sekali saya langsung berangkat ke pasar.

Setibanya di pasar, pertama kali saya membeli gula pasir. Setelah membayar dengan uang Rp. 20.000,- an, saya segera mencari belanjaan lainnya. Tapi, entah mengapa daftar belanjaan masih banyak namun uang yang tersedia sudah habis.

Setelah saya selidiki, ternyata di saat belanja pertama tadi, saya membayar dengan dua lembar uang dua puluh ribuan sekaligus, sebab uangnya masih baru hingga agak rapat. Saya pun merasa kurang teliti dan hati-hati.

Dengan agak lemas, saya kembali ke penjual gula yang tadi untuk menanyakan hal tersebut. Dengan sopan dan keyakinan yang kuat, saya katakan ke penjual tersebut bahwa uang yang saya bayarkan tadi ada dua lembar, saya pun memintanya kembali.

Namun sayang, si penjual tetap ngotot dan tak mengakui bahwa uang yang saya berikan itu adalah dua lembar dua puluhan. Bahkan dengan beraninya, ia bersumpah dengan menyebut nama Allah dan penjual itu berkata, "Demi Allah, saya bisa mati dan kudisan sekujur badan bila uang belanjaan adik tadi ada dua lembar uang dua puluhan."

Begitulah ucapannya, Akhirnya, ramailah tempat itu. Suasana semakin tegang dan saat itu juga seorang ustadz lewat dan menyelesaikan masalah. Namun, si penjual tetap pada apa yang dikatakan seraya bersumpah.

Dengan sabar dan rasa takut di marahin Ibu, akhirnya saya pulang dengan membawa belanjaan yang dapat saya beli. Satu minggu kemudian, terjadilah peristiwa yang sangat aneh. Si penjual itu mengalami rasa gatal-gatal di seluruh tubuhnya hingga menyebabkan timbulnya kudis.

Dengan cobaan itu pun, si penjual tetap berkata bahwa ini adalah akibat guna-guna atau kiriman orang, masya Allah! Dengan rasa gatal dan kudis yang tidak sembuh-sembuh itu, akhirnya, si penjual menemui ajal.

Demikianlah kejadian kisah yang saya alami ini, semoga, kita tidak terlalu mudah mengucapkan kata sumpah dengan menyebut asma Allah hanya untuk memperjelas dan membenarkan suatu masalah, terlebih lagi bila kita dalam posisi yang salah.

Related Posts

loading...