Dada Jenazah Terukir Sabung Ayam

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - Seperti dalam sebuah pertunjukan sulap. Sebuah gambar tiba-tiba terukir begitu saja di dada jenazah seorang pemuda. Dua ekor ayam jago sedang beradu. Beringas. Hanya saja, sang penyulapnya tidak ada. Entah ini pertanda apa. Yang pasti, selalu ada hikmah di balik keganjilan yang tak bisa dicerna akal manusia. Keganjilan di balik kematian pemuda yang 'mengamalkan' wangsit.

Ilustrasi

Senja baru saja tiba di dusun XX. Namun suasana hari itu berbeda dari biasanya. Kegaduhan nampak dari sebuah gubuk yang tak terawat. Warga terlihat berkerumun di pintu depan gubuk reot tersebut. Kabarnya, si empunya rumah tergeletak tak bernyawa di dalamnya. Ya, pemuda tanggung yang hanya hidup seorang diri itu kini meregang nyawa dir umahnya sendiri tanpa diketahui penyebab kematiannya.

Apakah dia dibunuh? Mati akibat overdosis? atau ada penyakit lain yang menyerangnya hingga menemui ajal?

Untungnya warga segera melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Meskipun tadinya mereka enggan bertindak apa pun demi Jali (24 tahun), nama si pemuda tadi. Maklum, keberadaannya selama ini disebut-sebut sering meresahkan warga. Setelah pihak berwajib turun tangan, barulah didapat kesimpulan bahwa kematian Jali diakibatkan karena overdosis.

SEMPAT DITOLAK WARGA

Pak Gandi, kepala dusun XX yang baru saja datang ke kerumunan warga mengusulkan agar jenazal Jali segera diurus. "Bapak-bapak, sebaiknya jenazah Jali ini segera kita mandikan," usulnya.

Tapi apa tanggapan warga? "Saya menolak pak! Saya benar-benar sakit hati kalau ingat kelakuannya. Ternak ayam saya pernah dicolong sampe abis!" sergah Pak Dul.

Selain Pak Dul, rupanya beberapa warga lain yang pernah tersangkut kasus dengan Jali pun ikut-ikutan menolak mengurus jenazah pemuda sebatang kara itu. Alasannya sama, sudah terlampau sakit hati dengan kelakuan si Jali.

Namun sebagai kepala dusun, Pak Gandi dengan bijak berusaha menenangkan emosi warga. Bagaimanapun, sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk mengurus jenazah saudaranya.

"Hukumnya fardhlu kifayah bapak-bapak....Artinya, kalau tidak seorang pun diantara kita mau mengurus jenazah ini, maka semua orang di kampung ini akan berdosa," terang Pak Gandi dengan nada membujuk.

GAMBAR MENGEJUTKAN

Begitu Pak Gandi berhasil membujuk warganya, mereka pun mulai menyiapkan segala keperluan prosesi pemakaman. Mulai dari persiapan memandikan, mengkafankan, sampai pemakaman di Tempat Pemakaman Umum setempat.

Atas inisiatif Pak Gandi pula semua biaya prosesi tersebut diambil dari kas organisasi desa, selain ada juga beberapa warga yang sukarela menyumbang.

Mulanya, prosesi itu berjalan lancar. Dari mulai memandikan jenazah Jali, lalu mengkafankannya. Tapi, begitu jenazah Jali akan di bungkus dengan kain kafan, saat orang-orang tengah disibukkan dengan tugasnya masing-masing, ketika Pak Gandi dan Pak Dul hendak menaruh kain kafan di dekat jenazah Jali, tiba-tiba, sebuah gambar aneh muncul di dada jenazah Jali.

Tergambar dua ayam jago yang sedang diadu. Gambar itu demikian jelas, memenuhi seluruh bagian dada jenazah Jali.

Kokom, 23 tahun, seorang tetangga yang pernah sekelas dengan Jali, memberi kesaksiannya. "Sampai sekarang, orang yang kebetulan ada di dalam gubuk Jali, menjelaskan dia akan dikafankan, masing kebingungan, siapa yang menggambar dua ayam jago di dada Jali."

Bahkan, lanjut Kokom, gara-gara peristiwa itu dusun XX di buat geger. Pasalnya saat jenazah Jali di mandikan, tidak ada gambar apa pun di dada jenazah pemuda itu.

"Saya dapat keterangan dari orang yang memandikan jenazah, bahwa mereka sama sekali tidak melihat gambar dua ayam jago di dada Jali," ujar Kokom

Kokom menambahkan, Jali hanya memiliki tato di kakinya. Itu pun kecil, tidak begitu terlihat jelas.

Sementara itu, pelayat yang berani, yang kebetulan ada di dekat jenazah Jali mencoba menghapus gambar itu. Namun hasilnya nihil. Gambar itu melekat, jelas, seperti gambar sebuah foto. Cuma agak buram.

Sayangnya, kemunculan gambar dua ayam jago itu sempat pula membuat sebagian warga yang mudah dihinggapi penyakit tahayul berburuk sangka. Kemunculan gambar dua ayam jago itu merupakan bukti bahwa Jali ulung dalam nyabung ayam. Wallahu a'lam.

DIANGGAP PUNYA INDERA KEENAM

Kepiawaian Jali dalam urusan nyabung ayam tidak diragukan lagi. Menurut Kokom, aksinya selalu mendapat pujian dari kawan-kawannya. Hampir tidak ada orang di kampung yang benar-benar berhasil menandinginya. Kalaupun ada, pasti Jali dapat menyusul ketertinggalannya.

Sampai-sampai kawan-kawanya bilang, Jali punya indera keenam. Memang terdengar berlebihan. Tapi tidak di kalangan preman dusun XX. Makanya, Jali selalu tahu kapan dia harus bertaruh, kapan dia menang, dan kapan dia kalah. Jali pandai mengatur strategi dan 'mendidik' ayamnya dalam menaklukan ayam lawannya.

Pernah suatu hari, cerita Kokom, ayam Jali sakit. Sementara waktu itu ada perhelatan adu ayam di ujung kampung. hadiahnya lumayan besar.

Banyak pemuda-pemuda yang tertarik ikut lomba. Walaupun mereka tahu harus berhadapan dengan ayam Jali yang kuat dan tak terkalahkan. Tapi kabar sakitnya ayam Jali menjelang pertandingan adu ayam tentunya menjadi berita baik bagi mereka. Semoga ayam Jali kalah.

Tapi yang terjadi justru7 sebalinya. "Ayam Jali menang walaupun kelihatannya lemes," terang Kokom

Dari peristiwa inilah julukan indera keenam itu muncul. Sejak itu bahkan banyak yang enggan beradu dengan ayam Jali. Mereka mengaku takut kalah.

DIKEROYOK ORANG SEKAMPUNG

Jali terbilang nekat dalam menyalurkan hobi jeleknya ini. Apa saja berani dia lakukan asalkan kebiasaan nyabung ayam tidak pernah absen.

Akan hal kenekatan Hali, Kokom mengaku malah pernah melihat Jali dikeroyok orang sekampung gara-gara maling ayam di siang bolong. "Dia memang nekat, walaupun sekujur badannya bonyok akibat dipukuli warga," imbuh Kokom

Lagi pula Jali terlalu konyol. Siang hari biasanya waktunya orang melakukan aktivitas. Ini berarti, segala gerak-gerik yang mencurigakan akan mudah diketahui lantaran banyak warga hilir mudik.

Tapi dasar Jali. Waktu tidak pernah menjadi hambatannya. "Kalau sudah urusan nyabung ayam, kapan dan apa pun resikonya, jadi pantang mundur," terang Kokom, gadis yang rumahnya agak berjauhan dari gubuk Reot Jali.

Kokom juga bercerita bahwa Jali pun pernah mendekam di penjara beberapa bulan akibat hobi jeleknya itu. Jali cuek. Betapapun resiko berat harus ditanggungnya, Jali tidak peduli. Nyabung ayam tetap dilakoninya.

SERING MENYEPI KE HUTAN DAN PEGUNUNGAN

Satu lagi kebiasaan buruk yang Jali lakukan semasa hidupnya. Menurut kabar yang didapatkan, pemuda itu kerap pergi ke hutan-hutan dan gunung-gunung. Biasanya, gunung dan hutan yang ditujunya itu dikenal ada tempat pusat pesugihannya.

Mungkin Jali ingin mengubah nasibnya lebih baik dengan waktu singkat. "Dia pingin cepet kaya tapi ogah kerja," Kokom memberi alasan.

"Dari kabar yang beredar, Jali dapat wangsit setelah ia pergi ke tempat pemandian di sebuah gunung. Kata temannya, Jali harus 'mengamalkan' keahliannya," lanjut Kokom.

Karena Jali merasa ahli dalam soal nyabung ayam, maka dia memutuskan untuk 'menekuni' hobinya itu sebagai salah satu persyaratan untuk menjadi kaya.

Soal kebiasaan Jali pergi ke hutan-hutan dan pegunungan, sebelumnya, tak banyak warga yang tahu, sampai akhirnya tersingkaplah semua tabir tentang kehidupannya setelah dia meninggal dunia.

Sepulang dari 'pengembaraannya' di gunung dan hutan-hutan, biasanya Jali mengurungkan diri di gubuknya sampai seminggu lebih. Tidak seperti kebiasaannya yang kerap menghabiskan hari-harinya di ujung kampung dengan para preman.

TAK ADA YANG MEMBIMBING

Sebagai rejama pada umumnya, sudah sepantasnya Jali menerima perhatian penuh dari keluarga. Tapi Jali tidak. Kasih sayang yang sedianya tercurah dari kedua orangtuanya tak mungkin ia peroleh. Sebab sejak masih duduk di bangku SMP, Jali sudah ditinggal mati kedua orangtuanya.

Bak sebuah pepatah, sudah jatuh harus tertimpa tangga pula. Setelah ditinggal mati orangtuanya, Jali harus berusaha sekuat tenaga menghidupi dirinya. Padahal usianya masih belia.

Dalam kondisi seperti ini, Jali sempat berpikir mau jadi gelandangan. Sampai akhirnya ada seorang warga yang mau mengangkatnya sebagai anak. Tapi Jali tidak enak hati. Pemuda itu merasa rendah diri. Numpang, hidup dalam tatapan mata iba dari orang lain.

Jali ingin bebas. Dia ingin bekerja. Namun perkenalannya dengan preman pasar yang sering bikin onar membuatnya salah arah. Tanpa sadar, Jali malah lebih memasrahkan hidupnya dikendalikan preman. Walhasil, mentalnya pun jadi rusak.

***************************************************************

Apa yang dialami Jali semoga saja tidak menimpa remaja-remaja yang bernasib sama dengannya, ditinggal orangtuanya tanpa ada seorang pun yang membimbingnya ke jalan yang baik. Semoga, dalam masa transisi itu, banyak pihak yang peduli pada nasib remaja.

Namun bagaimana pun, di saat usia Jali sudah bisa membedakan perbuatan baik dan buruk, semestinya dia menyadari kekeliruannya. Sesulit apa pun, tidak dibenarkan mengais rizki dengan jalan yang tidak halal. Apalagi sampai menyekutukan Allah, dengan jalan menaati perintah wangsit ketimbang perintah Allah. Wallahu a'lam bi al Shawab.

".....Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (Al-Hajj: 31).


loading...