Bakhil Pangkal Kemiskinan

Advertisement

loading...
AkuIslam.ID - "Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan-kebaikan, maka kelak kami akan memudahkan baginya dalam kesulitan-kesulitan." (QS. Al-Lail: 8-10.)

Ilustrasi

Mengapa manusia seringkali begitu sulit menafkahkan rezekinya di jalan Allah? Atau kenapa kita seringkali khawatir esok tidak akan punya uang ketika hendak membelanjakan harta yang kita miliki? atau mungkin yang lebih menukik: kenapa  di antara kita selalu takut menjadi miskin?

Berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan ini, saya teringat kisah kecil yang ditulis Faridudin Attar, penyair Persia abad XII, dalam satu buku yang bertajuk Musyawarah Burung (Mantiqut Thair):

Seorang pemabuk menyembunyikan seperti emas. Emas itu ia jaga dengan rapi sekali, sehingga tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, termasuk semua anggota keluarganya. Malangnya, ia pun kemudian meninggal dunia, tanpa menikmati harta itu sedikitpun.

Setahun kemudian anak laki-lakinya dalam satu mimpi melihat sang ayah menjelma menjadi seekor tikus. Kedua matanya tampak sembab dengan air mata. Tikus itu berlari maju-mundur di tempat emas itu disembunyikan.

Si anak bertanya, "Mengapa bapak di sini?"

Jawab si ayah, "Dulu aku menyembunyikan emas disini dan kini aku datang hendak melihat apakah ada orang yang telah mengetahuinya."

"Mengapa bapak menjelma jadi tikus?" tanya si anak kembali.

Ayahnya berkata, "Jika orang yang telah mengorbankan segalanya demi cinta akan emas maka ia akan menjelma seperti ini. Ingat baik-baik tentang diriku, wahai anakku, dan ambillah manfaat dari apa yang kau lihat ini. Tinggalkan cinta akan emas itu!"

Sengsara dan nelangsa. Itulah akhir hidup orang yang bakhil alias kikir dalam cerita tersebut. Karena takut miskin, ia sengaja menimbun hartanya. Akibatnya, ia tidak hanya menjadi tikus tapi juga terpenjara di tengah-tengah hartanya sendiri.

Dan harta itu telah menjadi pintu penutup sang tikus untuk keluar dari keterjepitan. Harta itu telah membunuh dirinya sendiri. Atau lebih tepat seperti yang ditegaskan Allah dalam firman diatas," Maka... kelak Kami akan memudahkan baginya dalam kesulitan-kesulitan."

Meskipun cerita itu mungkin hanya ada dalam angan-angan penulisnya, tetapi gambaran 'takut miskin' itu bukan hanya milik 'tokoh' fiksi tadi. Sifat itu sudah menjadi watak setiap orang, baik yang berkecukupan maupun yang tidak punya sekali pun. Watak itu bahkan sangat kuat mengurung pikiran kita, sehingga ketakutan kita begitu terasa.

Kita begitu terkurung penjara oleh pikiran-pikiran yang membuat diri kita selalu was-was:

'Bila kuberikan uang ini untuk anu, besok aku makan apa?' Atau juga 'Bagaimana aku mau sedekah kalau aku sendiri masih miskin?' dan seterusnya.

Bahkan yang lebih mengherankan, kadangkala manusia sering berpikir demikian dalam memenuhi kebutuhan hidup dirinya sendiri. Ia telah berlaku kikir terhadap diri sendiri. Kalau untuk dirinya sendiri saja manusia bisa jadi kikir, bagaimana kepada orang lain?

Wajar benak manusia dipenuhi kecamuk pikiran-pikiran demikian, karena memang Allah sendiri dengan jelas-jelas menyatakan bahwa manusia dihiasi dengan cinta harta benda untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Firman Allah SWT. "Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada aneka syahwat, yaitu wanita, anak-anak lelaki, harta benda yang melimpah dari emas dan perak, kuda-kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan kepada Allah tampak kembali yang baik.," (QS. Al-Imran: 14).

Namun kenapa kita tidak pernah menyadari pula dengan keyakinan yang bulat bahwa Allah pun mengatur rezeki kita, Ia memberi dan menahan rezeki kita, ia memberi dan menahan rezeki kita. Bukankah ketika kita khawatir besok tidak makan, secara tidak langsung kita telah meniadakan Allah dalam diri kita. Kita telah menjadi musyrik atau menduakan Tuhan cuma karena hal sepele.

Bukankah Allah sendiri berjanji bahwa siapapun yang bertakwa ia akan selalu membuka pintu rezeki-Nya melalui jalan yang tidak diduga-duga. (QS. At-Thalaq: 2-3).

Jadi kenapa harta mesti disimpan dan ditahan-tahan karena takut besok tidak makan atau khawatir esok tidak mendapatkan rezeki lagi? Toh nantinya, cepat atau lambat, hukum waktu akan membawa sifat bakhil pada kesulitan-kesulitannya sendiri.

Selama kita memberi dan membelanjakan untuk kepentingan yang baik, percayalah harta benda itu tidak akan surut, bahkan bisa jadi rezeki kita terus mengalir.

Tidak hanya itu, Allah SWT pun memasukkan kategori 'orang-orang yang beruntung' kepada orang-orang yang tidak bakhil tersebut. "Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. At-Taghabun: 16).


loading...