Akibat Membakar Al-Quran

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
Peristiwa ini terjadi di daerah transmigrasi yang mayoritas penduduknya adalah orang Jawa, tepatnya di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Untuk menjaga nama baik keluarganya, saya sengaja menyamarkan namanya. Sebut saja namanya Pak Sastro. Dia petani yang sangat kaya. sawahnya luas, tanah pekarangannya lebar, dan juga hasil sawahnya berlimpah.

Ilustrasi

Pak Sastro mempunyai satu orang istri dan enam orang anak. Tiga orang anak perempuan yang tertua sudah berkeluarga, sekarang tinggal 3 anaknya yang masih bersamanya. Sebagai seorang muslim, Pak Sastro sebenarnya orang yang sangat taat beribadah.

Ia pernah berniat menjual sebagian sawahnya untuk ongkos menunaikan ibadah haji. Sayangnya, rencana itu tidak terlaksana. Yang lebih ironis lagi, Pak Sastro justru kemudian berniat pindah ke agama lain (murtad).

Karena keinginannya yang sudah kuat untuk berpindah ke agama lain, suatu malam Pak Sastro nekad dan berani membakar semua kitab suci al-Qur'an dan buku-buku Islam. Saat itu hujan cukup deras dibarengi dengan petir yang dahsyat.

Keesokan harinya, Pak Sastro menengok sawahnya yang sudah mulai mengunging, namun dijumpai banyak hamanya seperti tikus dan belalang. Akhirnya, Pak Sastro pun sibuk mengejar-ngejar tikus dan belalang tersebut dari pagi sampai malam hari.

Sehabis dari sawah, biasanya bila menjelang azan Maghrib Pak Sastro selalu menyempatkan pergi ke Mushola untuk menunaikan shalat. Namun, saat itu Pak Sastro tidak seperti biasanya. Sampai jam 19.00 Pak Sastro belum juga kunjung datang ke rumah, sehingga membuat keluarganya cemas.

Setelah cukup lama menunggu, keluarganya mendengar suara di pintu belakang rumah. Begitu pintu belakang dibuka, istri dan anaknya terkejut melihat Pak Sastro dalam keadaan compang-camping dan bersimbah kotoran lumpur. Lelaki itu jatuh di depan pintu masuk dalam keadaan sempoyongan.

Anehnya lagi, ketika istrinya bertanya, Pak Sastro tidak bisa menjawab, Sebab tiba-tiba ia bisu. Keadaan itu tentu saja membuat terkejut anak dan istrinya, sampai-sampai istrinya tak sadarkan diri.

Semenjak kejadian itu Pak Sastro sering sakit-sakitan, badannya kurus ditambah dengan tidak bisa bicara atau bisu. Berbagai cara telah ditempuh untuk menyembuhkan penyakit bisunya, namun tak membawakan hasil hingga sawah dan tanahnya sedikit demi sedikit habis terjual. Kini tinggal tumah yang ditempatinya dan tanah yang hanya tinggal beberapa petak lagi.

Ternyata tak cukup sampai di situ, musibah datang lagi. Pak Sastro terkena penyakit yang berbahaya dan dibawa ke rumah sakit. Untuk biaya perawatannya terpaksa menjual separuh tanah yang masih di tempati itu. Sayang, semuanya itu tidak bisa banyak membantu Pak Sastro untuk menyelamatkan diri dari takdir Tuhan.

"Innalillahi wa innailaihi raajiun", Pak Sastro pergi menemui Tuhan dengan meninggalkan ketiga orang anaknya. Ketiga anaknya yang masih kecil itu dititipkan ke rumah Pak Bondan, karena ibunya pergi bekerja ke Malaysia menjadi pembantu rumah tangga.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...