Renungan : Kehilangan

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Bu Yanti Panik. Ia berjalan kesana-kemari seperti mencari sesuatu. Orang-orang di pasar tentu saja memperhatikannya. Ia berjalan setengah berlari ke tukang cabe, bicara seperti meracau, lalu balik arah ke tukang ketimun, baru sebentar, lari lagi ke tukang kentang, dan balik lagi ke tukang cabe.

Ilustrasi ( Foto @Source )

"Uang saya, uang saya satu juta di dalam tas gak ada...!" ujar bu Yanti panik yang kali ini sudah berada di tukang wortel.

Orang-orang pun paham apa yang terjadi pada Bu Yanti. Perempuan kurus yang selalu tampak lelah itu rupanya kehilangan uang. Mendengar itu, Pak Edi yang juga sedang belanja kebutuhan warungnya, menjadi kasihan, "Duh... uang sejuta, ilang... gini hari, nyesek boo," ujarnya pada diri sendiri.

Karena sering ikut pengajian dan dianjurkan selalu menolong orang kesusahan, Pak Edi lalu mendekati Bu Yanti. Dengan kalimat selembut mungkin Pak Edi pun berujar.

"Tenang Bu... tenang dulu... duduk dulu. Ibu ini kenapa sebenarnya?," ujar Pak Edi yang suaranya sudah berubah seperti pemeran utama sinetron yang super baik.

"Uang saya Pak... eh, bukan, itu bukan uang saya, itu uang arisan, ilang....," ujar Bu Yanti sambil teriak karena tak kuat lagi menahan tangis.

Pak Edi yang tak kuat mendengar perempuan menangis jadi ingin menangis pula. "Ibu tawakal saja. Musibah itu namanya. Baca saja Inaa lillahi wa inna ilaihi rojiun, ini barangkali ujian, ibu harus sabar ya..." ujar Pak Edi sambil berkaca-kaca dan menatap lurus ke arah Bu Yanti, lagi-lagi persis adegan sinetron.

Tampak Bu Yanti mengangguk-angguk. Melihat itu Pak Edi gembira, ia pun lebih semangat untuk menghibur Bu Yanti.

"Kata Ustadz saya Bu, kalau kita paham makna inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, kita sebenarnya gak perlu sedih kalau kena musibah. Lha wong semuanya datang dari ALlah, maka wajar saja kalau semua itu kembali lagi kepada Dia. Artinya kita harus ikhlas, tenang, sabar, dan rida kalau kena musibah. Dulu ya Bu, ada shabat Nabi yang kalau gak salah namanya Abu Thalhah dan istrinya sampai mendapat doa dari Nabi karena mereka ikhlas dan tenang menerima kematian anaknya. Itu anak loh bu yang ilang, bukan duit, duit mah bisa dicari," ujar Pak Edi dengan semangat.

Ajaib. Entah karena kelembutan suaranya atau karena omongan Pak Edi yang kali ini memang rada bener, Bu Yanti menghentikan tangisnya. "Iya Pak, ngapain sedih ya, saya mau menelpon suami saya saja biar dia nganter uang lagi untuk belanja," ujar Bu Yanti sambil beranjak.

Pak Edi menarik nafas lega, "Akhirnya...." ujarnya dalam hati. Ia pun ingin segera pulang karena belanjanya sebenarnya sudah selesai. Namun saat tangannya merogoh ke kantong, muka Pak Edi berubah. Sejujur kemudian matanya tajam menatap ke sekeliling toko bumbu tempat ia belanja hari itu. Bang Masdi, pemilik toko, yang melihat itu langsung paham.

"Kunci motornya ilang lagi ya Pak Edi? Ya sudah, Inna lillahi wa inna ilahi rojiun aja, baru tiga kali ini," ujar Bang masdi menahan tawa melihat Pak Edi yang cemberut kuda.

Related Posts