Petunjuk Rasulullah Tentang Pengobatan Sakit Perut

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - "Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, maka sembuhlah si penderita dengan izin Allah Azza wa Jalla." (HR. Jabir r.a.)

Ilustrasi ( Foto @Source )

Beragam makanan yang tersedia di warung atau pun restoran, membuat kita punya banyak pilihan untuk menikmatinya. Namun, terkadang tanpa disadari kita memakan makanan yang tidak cocok dengan kondisi perut kita.

Akibatnya, kita menderita sakit perut. Sakit perut yang diderita pun bermacam-macam. Ada yang hanya masuk kategori ringan, tapi ada juga yang masuk kategori berat.

Dalam kitab hadits Bukhari dan Muslim ada sebuah hadits yang berasal dari Abu Sa'id Alkhudry, "Bahwasannya ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah SAW., lalu ia berkata, 'Saudara laki-laki saya sakit perut dan sering buang air besar.'

Kemudian Rasulullah SAW. menyarankan. 'Beri minumlah ia dengan madu!' Lalu orang itu pulang dan memberi saudaranya minuman madu. Tak lama kemudian ia kembali lagi seraya berkata, "Telah saya berikan minuman madu kepadanya, namun tidak menghasilkan apa-apa.'

"Rasulullah bersabda kepadanya sampai tiga kali, dan ketika laki-lakiu itu datang keempat kalinya, Rasulullah bersabda lagi, 'Suruh dia minum madu!' Kata laki-laki itu, 'Sungguh saya telah meminumnya madu tetapi malah penyakitnya bertambah berat.'

Maka Rasulullah Saw. bersabda, 'Allah Maha Besar, tetapi perut saudaramu yang dusta.' Kemudian Rasulullah Saw. meminumkan madu kepada si penderita tersebut lalu dia sembuh. Sekilas, kita memahami bahwa petunjuk Rasulullah bagi orang sakit perut untuk meminum madu, tidaklah tepat! Apakah benar demikian?

Hadits diatas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. menganjurkan agar orang yang sakit perut itu diberi minum madu, guna membersihkan sisa makanan yang berada di sekitar perut dan usus. Sebab madu itu berfungsi sebagai pembersih perut, terutama bila diminum dengan air hangat-hangat kuku.

Adapun pemberian madu berulang-ulang itu adalah termasuk rahasia pengobatan. Pemberian madu itu kadarnya harus tepat dengan keadaan penyakitnya. Jika kurang maka ia tidak dapat menghilangkan penyakit itu, dan jika berlebihan maka kekuatannya akan hilang dan malah akan menimbulkan efek samping.

OIeh karena itu, Rasulullah memberitahukan tentang tidak berkurangnya penyakit orang tersebut dikarenakan kadar madu yang diberikan masih belum mencukupi untuk mengusir penyakit itu.

Pengertian dari perkataan, "Sungguh benarlah Allah dan perut saudaramulah yang berdusta!", menunjukkan akan kebenaran manfaat madu itu, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, "Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. (An-Nahl: 69)

Pemberian madu pertama dan kedua yang tidak membuat sembuh penyakit orang itu (dustanya perut) disebabkan banyaknya zat-zat yang rusak di dalamnya. Maka Rasulullah menyuruhnya untuk meminum madu kembali.

Pengobatan cara Rasulullah ini tidak dapat disamakan dengan pengobatan para tabib atau dokter. Sebab pengobatan Rasulullah merupakan sesuatu yang pasti dan menyakinkan karena bersumber dari wahyu Illahi, cahaya kenabian dan kesempurnaan akal. Lain halnya dengan pengobatan yang dilakukan oleh tabib atau dokter yang melalui proses pemeriksaan, analisa yang masih berupa persangkaan dan percobaan. Karena itu, pengobatan yang bersumber dari Rasulullah SAW. lebih dapat dipercaya keberhasilannya.

Namun demikian, adakalanya pengobatan nabawy itu tidak memberikan hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan karena kita tidak meyakini kebenarannya dan tidak ada penerimaan secara tulus.

Sebagaimana al-Quran merupakan obat bagi penyakit kalbu (Syifaa'un Limaa Fish-Shuduur) tidak berguna bagi orang-orang yang ingkar. Bukankah orang-orang munafik itu, sekalipun setiap saat mereka mendengar al-Quran, hati mereka tetap sakit?

Jadi, sebagaimana al-Quran tidak sesuai kecuali bagi jiwa-jiwa yang baik, maka pengobatan nabawy pun tidak berguna kecuali bagi badan-badan yang baik pula.

Di dalam Sunan Ibnu Majah disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah yang berbunyi, "Barangsiapa minum madu tiap pagi setiap bulan, maka ia tidak akan tertimpa malapetaka yang besar."

Rasulullah sendiri senantiasa minum madu campur air setiap pagi sebelum makan apa-apa. Hal ini mengandung suatu rahasia yang sangat besar bagi pemeliharaan kesehatan.

Dalam hadits yang lain diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim dalam kitab sahihnya, disebutkan, "Pakailah dua penyembuh; Madu dan al-Quran."

Pengertian lebih jauh mengenai hadits di atas adalah adanya dua macam pengobatan, yakni pengobatan manusiawi (badan) dan pengobatan Illahi (jiwa).

Pengobatan dengan obat bumi, yaitu madu dan pengobatan samawi dengan al-Quran. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari pengobatan ini.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...