Pelajaran Dari Sebuah Batu

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Ibnu Hajar, begitulah ulama yang satu ini dikenal. Awalnya ia adalah sosok orang yang kebodohannya luar biasa. Tetapi setelah mendapatkan pelajaran dari batu, akhirnya ia menjadi ulama yang terkenal.

Batu ( Foto @Source )

Al Haitami, begitulah nama pemuda itu dikenal di sebuah desa terpencil di Jazirah Arab. Anak ini memang dikenal sebagai anak yang bebal otaknya sangat sulit menangkap dan mengingat pelajaran sehingga ia pun merasa kesulitan untuk belajar apapun. Namun, ia tetap punya semangat yang tinggi untuk terus belajar.

Hingga pada suatu hari ia disuruh guru sekaligus bapaknya untuk merantau mencari ilmu. Maka ia pun berangkat pagi-pagi buta sehabis shalat Subuh. Setelah sehari penuh berjalan melewati gurun pasir, masuk kampung keluar kampung, dan naik turun bukit, sampailah ia di sebuah pesantren yang diasuh oleh seorang guru tersohor bernama An Nawawi.

Dan di sanalah ia akhirnya memutuskan untuk menima ilmu. Selama proses belajar ia sering sekali dimarahi oleh gurunya karena sangat bebalnya otak dan sangat bodoh. Sehingga, lama kelamaan Al haitami mengalami kebosanan karena tak satupun ilmu yang dia peroleh dari gurunya tersebut.

PUTUS ASA

Setelah beberapa tahun berlalu dan keadaan masih tetap sama tanpa ada peningkatan sedikit pun, maka remaja kecil bernama Al Haitami itu memutuskan untuk pulang ke rumah, ia merasa lebih baik pulang membantu orang tuanya bertani daripada di sana tak belajar apapun.

Maka, pada suatu sore ia menuju ke rumah gurunya untuk mohon pamit. Permohonan Al Haitami untuk pulang dari kembali ke kampung halamannya tersebut direstui oleh gurunya. Akhirnya pada pagi harinya setelah shalat Subuh dan setelah berpamitan kepada gurunya dan sahabat-sahabatnya, Al-Haitami pulang sambil berjalan ia selalu ingat akan nasehat gurunya, "Hikmah itu ada dimana-mana muridku", dan mungkin itu adalah satu-satunya pelajaran gurunya yang berhasil menempel erat dalam ingatannya.

Di tengah perjalanannya pulang, tiba-tiba hujan deras turun sehingga ia pun berlari mencari sebuah tempat untuk berteduh, akhirnya ia melihat sebuah gua, maka bergegas ia berlari menuju mulut gua yang cukup besar dan panjang tersebut. Di dalam gua itu ada sungai kecil yang airnya sangat jernih. Setelah membersihkan dirinya, lalu ia shalat.

Pada saat Al-Haitami khusyuk berzikir setelah shalat, telinganya menangkap sebuah suara tetesan-tetesan air yang mengenai batu dengan teratur, suaranya sangat jelas dan menggema. Setelah ia teliti ternyata tetesan air itu mengenai batu hitam legam didekat ia duduk.

BELAJAR PADA BATU

Lama sekali Al Haitami memperhatikan tetesan air yang mengenai batu itu. Lalu, ia perhatikan batu itu, ternyata batu itu adalah batu yang terkenal sangat keras. Beberapa saat kemudian, Al Haitami baru sadar ternyata batu itu terkikis menjadi cekungan akibat tetesan-tetesan air yang jatuh dari atap gua.

"Batu saja yang sangat keras dapat terkikis dan berlubang hanya oleh tetesan air yang sangat kecil yang mengenainya terus-menerus, apalagi otak manusia yang sangat lunak," renungnya lama sekali. "Aku yakin, apabila aku belajar terus-menerus dengan penuh keuletan dan kesungguhan pasti aku akan berhasil," kata Al Haitami dalam hati.

"Yah..., aku harus kembali ke pesantren lagi," tekadnya dalam hati penuh semangat. Maka, dengan langkah yang sangat tegap dan mantap ia berjalan dengan cepat dan lincah kembali ke pesantrennya. Kemudian dengan penuh kesungguhan dan keuletan, akhirnya Al Haitami menjadi murid yang paling pandai dan cerdas di antara murid-murid An Nawawi lainnya.

Dan karena ia mendapatkan hikmah atau pelajaran dari batu, maka ia diberi julukan "Ibnu Hajar" yang berarti putra batu. Maka, setelah ia tamat dari pesantrennya namanya terkenal dengan Ibnu Hajar Al Haitami. Dan ia pun akhirnya banyak mengarang kitab-kitab yang hingga kini masih dijadikan rujukan oleh umat Islam.

Related Posts