Orang Baik Dari Keturunan Yang Baik

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Firasat mukmin sejati tak bisa diremehkan begitu saja. Kadang ia bisa 'membaca' tanda yang orang lain umumnya tidak pahami.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Pada tahun 149 hijriyah, Syaqiq al-Bakri, seorang alim berangkat ke Baitullah untuk menunaikan haji. Namun, di tengah perjalanan, ia berhenti sebentar di kota Qadisiyah bersama rombongannya. Dalam hiruk pikuk di tempat peristirahatan, Syaqiq memerhatikan orang-orang hilir mudik yang corak pakaiannya beragam.

Tiba-tiba, pandangannya tertumpu pada seorang pemuda. Wajahnya cerah bercahaya, menampakkan pesona dan kharisma. Padahal seluruh tubuhnya dibalut karung goni yang kasar. Kakinya pun hanya mengenakan terompah kayu. Pemuda ini duduk sendirian tersisih dari keramaian.

Dalam hati, Syaqiq berkata bahwa si pemuda itu pastilah berpura-pura menjadi seorang sufi. Dengan begitu, orang akan iba melihatnya. Terbesit di hati Syaqiq untuk menguji pemuda itu. Jika ketahuan, Syaqiq justru malah akan mencela dan mengkritik tajam atas sikap berpura-puranya pemuda itu.

Namun, tatkala Syaqiq mendekati, tiba-tiba ia mendengar pemuda itu berkata, "Hai Syaqiq! Tidakkah kau tahu bahwa Allah SWT telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, 'Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak buruk sangka (terhadap orang lain) karena setengah dari buruk sangka itu berdosa" (QS. al-Hujurat ayat 12).

Setelah membacakan firman itu, pemuda tersebut bangun dan beranjak dari tempatnya. Tentu saya Syaqiq tersinggung dengan perkataan pemuda tadi. Tapi, ia sendiri bingung, entah dari mana pemuda itu dapat membaca isi hatinya.

Sungguh ajaib. Dia mengetahui nama Syaqiq, padahal Syaqiq sendiri sama sekali tidak pernah bertemu dengannya. Syaqiq yakin, pemuda itu salah seorang saleh yang termasyhur.

Merasa ingin mengenal lebih jauh, Syaqiq segera mengejarnya dari belakang. Tapi rupanya dia lebih cepat dari Syaqiq. Sampai ia pun tidak lagi melihatnya. "Kemanakah ia menghilang di antara kerumunan orang di situ?" batin Syaqiq.

Gagal menemui pemuda tadi, Syaqiq segera melanjutkan perjalanan bersama rombongan dari Qadisiyah menuju ke Arafat. Begitu sampai di sana, tanpa diduga, sekali lagi Syaqiq bertemu dengan pemuda itu. Kali ini Syaqiq melihat kalau dia sedang khusyuk mengerjakan shalat. Sementara anggota-anggota badannya bergoncang dan air matanya mengalir.

Syaqiq terharu. Ia pun berusaha mendekati pemuda tadi dan duduk di dekatnya, menunggu dia selesai shalat. Syaqiq kagum. Dalam hari ia berkata bahwa pemuda itu sangat khusyuk shalatnya.

Begitu shalat selesai, pemuda itu pun lalu menoleh ke arah Syaqiq dan berkata, "Hai Syaqiq, bacalah firman Allah 'Dan sesungguhnya Aku (Allah) adalah Maha Pengampun kepada siapa saja yang kembali kepada-Ku, beriman kepada-Ku, mengerjakan amal saleh, kemudian dia mencari jalan yang benar'," (QS. Thaha : 82).

Dalam hari, Syaqiq terus merenung membaca firman tersebut. Sementara, seperti biasa, kali ini pemuda tersebut telah menghilang lagi. Bahkan Syaqiq sangat kerepotan mencarinya, mengingat begitu ramainya orang hilir mudik.

Tapi begitu Syaqiq ada di Mina, Syaqiq lagi-lagi menjumpainya. Kali ini dia pergi mengambil sebuah teko, di tangannya ada tempat mengambil air. Syaqiq segera mendatanginya. Pemuda itu lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil air.

Sementara air agak jauh sedikit untuk dijamah tangan. Tidak disangka-sangka tempat air itu terlepas dari tangannya lalu jatuh ke tanah. Entah apa yang akan dilakukannya saat itu. Pemuda itu malah langsung mengangkat kepalanya ke arah langit seraya memohon, 

"Kepada Engkau aku kembali bila aku merasakan kehausan
Daripada-Mu juga kuminta makanan bila aku merasakan kelaparan
Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku tidak punya bekas selainnya, janganlah Engkau ambil dia dari tanganku!"
Begitu selesai memanjatkan doa, ajaib, tempat air itu berangsur naik, seolah-olah ada mata air yang sedang mengisinya dari bawah. Pemuda itu lalu menyelupkan tangannya ke dalam tempat air tadi.

Dia lalu meminum air itu sepuas-puasnya, bahkan air itu bisa digunakan untuk berwudhu. ia pun langsung menunaikan shalat empat rakaat.

Usai shalat, dia lantas menggenggam pasir dari tempat itu, dan dibubuhkannya ke dalam wadah itu serta dikocok-kocokkannya dengan air yang ada di dalam wadah itu, lalu dia pun meminumnya.

Sungguh Syaqiq terkagum-kagum oleh ulah si pemuda tadi. Takjub bukan main terhadap apa yang telah diperbuat pemuda itu. Dia minum apa yang ada dalam bekas itu setelah Syaqiq melihat pemuda itu membubuh segenggam pasir di dalamnya.

Syaqiq lantas memutuskan untuk mendekatinya dan berkata, "Berilah aku sedikit rezeki yang diberikan Allah kepadamu!"

Syaqiq penasaran, ingin tahu banyak apa yang sebenarnya di dalam wadah yang dimakan pemuda itu. Pemuda itu pun lantas menoleh ke arah Syaqiq. Namun tatapannya seolah berkata bahwa sesuatu tengah terjadi pada diri Syaqiq.

"Wahai Syaqiq! Nikmat ALlah itu terlalu banyak yang diberikan pada kita, baik yang nampak maupun tidak. Bersihkanlah hatimu dan jangan suka menduga apa-apa!"

Pemuda itu lalu memberi Syaqiq wadah itu dan Syaqiq pun meminumnya. Rasanya seperti bubur sawiq yang manis dan enak serta baunya harum pula. Syaqiq senang bukan main. Apalagi rasa bubur sawiq yang dimakannya itu lezat tak terkira.

"Demi Allah, aku belum pernah merasakan bubur sawiq yang begitu lezat seumur hidupku seperti yang sedang kumakan ini. Aku terus mencium bubur itu sampai aku merasa kenyang. Bahkan rasa kenyang di perutku bisa tahan berhari-hari, sampai-sampai aku tidak menginginkan makanan lain saat itu," batin Syaqiq.

Setelah kenyang dan puas, Syaqiq pun mengembalikan wadah pemuda itu. Si pemuda lalu pergi. Seperti yang sudah-sudah, kali ini pun tak kelihatan lagi batang hidungnya sampai berada di Mekkah.

Pada salah satu malam di Mekkah, Syaqiq sekali lagi melihat pemuda itu di pinggir kubah air zamzam. Dia sedang berdiri menunaikan shalat penuh khusyuk. Rentang waktu shalatnya lama sekali. Hingga Syaqiq mendengar suara keluh-kesah dan suara tangisannya yang sungguh memilukan siapa saja yang berada di sampingnya.

Pemuda itu pun terus shalat, rakaat demi rakaat. Sampai muncul waktu fajar, barulah dia berhenti. Kemudian disambung pula dengan bertasbih dan berzikir.

Tatkala waktu Shubuh tiba, pemuda itu turun berjamaah dengan rombongan Syaqiq. Selepas Shubuh, dia lalu thawaf mengelilingi Ka'bah tujuh kali putaran. Kemudian dia menepikan dirinya dari tempat thawaf menuju ke suatu tempat di pinggir masjid.

Syaqiq penasaran dan mengikutinya dari belakang untuk melihat apa yang akan di perbuatnya sesudah itu. Syaqiq melihat dia duduk dan orang-orang banyak mengelilinginya. Syaqiq menduga, mereka mungkin para pengikut dan pengawal-pengawalnya.

Orang-orang tersebut ternyata datang dari berbagai tempat dan mereka bertemu setiap tahun di sana. Sebab dalam perjalanan menuju Baitullah, Syaqiq tidak melihat seorang pun dari mereka dalam rombongan.

Syaqiq lalu ikut duduk di situ mengelilinginya. Sementara orang-orang semakin ramai berdatangan membanjirinya dari berbagai arah di masjid itu. Rasa penasaran Syaqiq akan siapa sebenarnya pemuda itu semakin menjadi. Selama ini Syaqiq telah menjumpai bermacam-macam keanehan terjadi pada pemuda itu. Namun tidak terlintas sedikit pun dalam benaknya untuk bertanya siapakah gerangan dirinya.

"Wahai saudaraku, boleh aku bertanya sedikit?" Syaqiq menghampiri salah seorang yang mengerumuni pemuda itu. 

"Boleh"

"Siapa pemuda ini?" tanya Syaqiq.

"Kau belum tahu?"

Syaqiq menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia adalah Musa bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib," jawab lelaki yang ditanya Syaqiq seraya tersenyum.

"Oh, dari keturunan Ali Zainul Abidin bin Husain."

Orang yang di sebelah Syaqiq itu tersenyum seraya berujar, "Orang yang baik dari keturunan yang baik!"

Semoga Allah menurunkan rahmat dan berkah dari mereka sekalian serta mengaruniakan manfaat bagi kita di dunia dan akhirat. Amin.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...