Mengkonsumsi Daging Ayam Yang Tak Jelas Cara Memotongnya

Sunday, February 4, 2018
Advertisement
AkuIslam.Id - Di pasar di Jakarta ini, rata-rata penjual daging ayam menjual daging ayam potong yang cara memotongnya tidak sesuai dengan aturan Islam. Saya perhatikan cara memotongnya bukan memakai pisau tajam, melainkan dengan alat khusus yang terbuat dari besi lancip seperti paku, hingga hasilnya pun jelas tidak baik.

Ayam Potong ( Foto @Source )

Dilihat dari cara memotongnya yang tak sesuai aturan agama Islam, hasilnya bisa dipastikan menjadi bangkai. Yang ingin saya tanyakan:

1. Apakah umat Islam boleh memasak/memakan daging yaam yang bisa digolongkan bangkai?

2. Apa betul, memotong ayam yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan ekor itu tanpa didoakan asal si pemotongnya Islam biar pun hanya Islam KTP?

Di atas adalah pertanyaan dari Sahabat AkuIslam dari Pulogadung

1. Kalau dari awal sudah mengetahui bahwa pemotongan itu tidak benar, maka jelas tidak boleh membeli apalagi mengonsumsinya. Orang yang tak tahu, tapi kalau meragukan hasil pemotongan itu, juga ada keharusan meninggalkan keraguan tadi.

Diragukan saja sudah harus menghindari, apalagi sudah tahu dari awal. Jadi tidak bisa dilanjutkan apalagi dimasak dan dimakan.

Cara yang aman yaitu beli ayam yang hidup, dan menyembelih dihadapannya pada waktu membeli. Atau beli ayam hidup, lalu kita sembelih sendiri di rumah.

Allah SWT berfirman dalam QS. al-Baqarah: 173, "Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain nama Allah..."

2. Tidak boleh menggunakan alat seperti besi lancip (paku), harus menggunakan pisau yang tajam dan memotong leher. Orang Islam sudah maklum tentang hal ini. Memang ada pendapat, sebagian madzhab Islam, walaupun orang yang memotong dengan pisau tajam, tidak pakai bismilah atau dzikir yang lain tapi orangnya Islam itu sudah cukup.

Namun yang paling sempurna adalah orangnya Islam, menyebut asma ALlah (dzikrullah) minimal dengan bismillahirrahmanirrahim. Adapun menghadap kiblat termasuk sunnah.