Kunci Menjadi Suami Yang Shaleh

Tuesday, February 6, 2018
Advertisement
AkuIslam.Id - Sepintas potongan ayat ini sederhana, akan tetapi sebenarnya sangat dalam maknanya. Kata "ma'ruf (patut)" di dalamnya menyimpan banyak arti, seperti : berlaku adil dalam mengatur waktu untuk istri, memberi nafkah, berbicara lemah lembut dan berbagai kewajiban suami kepada istrinya.

Ilustrasi Keluarga Harmonis ( Foto @Source )

Oleh karena itu, peran suami dalam kehidupan rumah tangga sangatlah viral. Bagaimana pun, ia harus berperan secara optimal bersama istri dalam mengarungi kehidupan rumah tangga yang penuh tantangan.

Suami yang baik sudah semestinya berpegang teguh kepada syariat agama dalam segenap urusan kehidupan. Menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik yang berhubungan dengan Tuhannya, keluarga, maupun orang-orang yang menjadi tanggungannya dengan ketulusan hati dan penuh rasa tanggung jawab. Ia pantang menyia-nyiakan kewajiban, bahkan ia tunaikan kewajiban itu terlebih dahulu sebelum menuntut haknya.

Beberapa pilar penting yang dapat menyangga bangunan kebahagiaan hidup rumah tangga, yang bisa dilakukan seorang suami di antaranya :

1. MEMBERIKAN SAMBUTAN HANGAT

Langkah awal untuk menciptakan kebahagiaan keluarga adalah sikap manis yang ditunjukkan seorang suami tatkala pulang ke rumah, baik dari tempat kerja maupun dari bepergian karena kepentingan lain. Rasulullah SAW. telah memberi petunjuk kepada para suami tentang bagaimana etika menemui istrinya, yaitu :

a). mengucap salam, 
b). menunjukkan wajah yang berseri, 
c). jabat tangan, karena bisa mengokohkan ikatan perasaan serta jalinan cinta.

2. BERBICARA DAN MEMANGGIL YANG MENYENANGKAN

Dalam bertutur, seorang suami seharusnya memilih kata-kata yang baik dan ungkapan menarik. Seperti sabda Rasulullah SAW. "Kata-kata yang baik itu sedekah" (mutafaq alaih). Tidak terpuji, bila suami berbicara dengan istrinya, atau dengan orang lain, menunjukkan sikap tak peduli, congkak, sombong, sebagaimana layaknya seorang majikan berbicara kepada hamba sahayanya di jaman Jahiliyah dahulu.

Demikian pula ketika memanggil. Seyogyanya seorang suami memanggil dengan panggilan kesukaan, karena hal itu merupakan ungkapan kasih sayang dan penguat jalinan cinta. Dalam al-Qur'an, Allah SWT mencegah orang beriman memanggil sesamanya dengan nama-nama buruk dan julukan-julukan yang melukai perasaan. Adalah perilaku yang tidak Islami jika seseorang memanggil istrinya dengan panggilan yang melukai hati, seperti : Hai Bodoh, hai ceking, dan sebagainya.

Bahkan kalau perlu dengan ungkapan manja, sebab dapat membangkitkan kebahagiaan dan melapangkan dada. Sikap seperti ini adalah bagian dari hiburan yang menyenangkan hati dan dibenarkan Islam sebagaimana perilaku Rasulullah yang selalu memanggil Aisyah dengan suara lembut untuk memanjakannya.

3. MEMBANTU PEKERJAAN

Satu sikap mulia, jika suami mampu menciptakan perasaan senang hati istrinya dengan membantu melaksanakan tugas-tugasnya. Betapa indahnya, jika suami mau membantu mengerjakan tugas-tugas keseharian istrinya dengan penuh tulus ikhlas.

Sebaliknya, betapa menyebalkan suami yang tidak peduli dan tidak bersimpati kepada istrinya yang siang malam mengerjakan pekerjaan rumah yang begitu berat. Membantu melakukan pekerjaan rumah akan semakin tinggi nilainya apabila datang situasi darurat, seperti sakit yang menyebabkan fisik lemah, atau saat-saat hamil dan melahirkan.

4. BERMUSYAWARAH DAN SALING MENGINGATKAN

Seorang suami seyogyanya menjaga prinsip musyawarah. Dengan bermusyawarah, akan menciptakan ketenangan hati istri, di samping ia merasa dihargai. Ketika ia menempatkannya pada kedudukan yang sepadan, semakin hangatlah hubungan cinta kasih mereka. Musyawarah menjadikan istri merasa ikut memiliki tanggung jawab, sehingga akan menumbuhkan kemampuannya berpikir dan mengatur urusan yang lebih besar.

Urusan yang dimusyawarahkan adalah urusan yang dipahami dan menjadi tanggung jawab istri, seperti: pengaturan anggaran belanja, pendidikan anak, tata ruang rumah, serta urusan eksternal keluarga.

Islam menganjurkan kepada pasangan suami-istri untuk saling mengingatkan jika salah satu pihak bersalah. Dengan cara seperti itu, letupan-letupan kecil bisa didinginkan sesegera mungkin. Rasulullah Saw ketika berada di rumah, membagi waktunya menjadi tiga bagian: sebagian untuk ibadah, untuk keluarga, dan sebagian lagi untuk umat. Bagian keluarga itu ia manfaatkan untuk memberi pengajaran kepada istri-istrinya.

5. MENCUKUPI NAFKAH

Nafkah adalah tanggung jawab utama seorang suami (baik nafkah lahir maupun batin). Nafkah lahir adalah segala kebutuhan rumah tangga dan istrinya baik yang menyangkut sandang, pangan dan papan. Nafkah apa bila diberikan kepada istri dengan lapang dada, tanpa sedikit pun unsur kikir, merupakan kontribusi utama yang dapat mendatangkan keseimbangan dan kebahagiaan rumah tangga.

Syariat Islam tidak memberikan standar pasti tentang jumlah nafkah lahir yang harus diberikan kepada istri. Namun syariat mewajibkan suami untuk memberikan nafkah semampunya.

Sementara nafkah batin adalah kebutuhan biologis demi memupuk rasa cinta dan bahagia dalam keluarga. Dalam konteks ini, jumhur ulama berpendapat bahwa melakukan jima' (hubungan seksual) bagi suami, apabila tidak ada halangan, hukumnya wajib. Sebab ia merupakan manifestasi dari rasa kasih-sayang di antara keduanya.

Rasulullah SAW telah mencela orang-orang yang menjauhi istri-istrinya. Juga melarang mereka meninggalkannya terlalu lama meskipun untuk tujuan dzikir, ibadah, dan jihad. Barang siapa yang mengabaikan kewajiban jima', akibatnya berbahaya bagi istri, ia merasa tertekan batinnya dan gelisah sehingga tak dapat merasakan kebahagiaan.

6. BERDANDAN

Berdandannya suami untuk istrinya tak pelak menambah rasa cinta, sehingga menjadikannya betah untuk selalu memandang dan berada di sampingnya. Dengan demikian semakin kokohlah jalinan cinta kasih. Islam menghimbau kepada kaum muslimin untuk selalu dalam keadaan rapi, bersih, indah serta berbau harum. Itu semua termasuk tradisi fitrah dan petunjuk Rasul. Dari Ayyub berkata, Rasulullah bersabda: "Rasa malu, berminyak wangi, siwak, dan nikah adalah tardisi para Rasul" (HR. Tirmidzi).

Keengganan suami untuk berdandan, dapat menyebabkan istri menjauhinya dan enggan untuk berada di sampingnya.

7. MENGOBATI HATI

Seorang suami hendaknya memiliki hati lembut dan perasaan peka, serta dapat memahami perasaan istri. Ia merasakan penderitaan istri, lalu berusaha untuk meringankannya tanpa diminta. Ia obati luka derita itu dengan kata-kata yang indah serta senyumnya yang tulus.

Akhlak ini wajib dimiliki oleh suami untuk menciptakan kebahagiaan dalam rumah tangga. Kehadiran yang disertai dengan senyumnya yang tulus dan kata-katanya yang menghibur, itu semua diperlukan untuk meringankan beban perasaan yang ditanggungnya agar suasana duka bisa berubah menjadi suka, sedih menjadi gembira, dan derita menjadi bahagia.

8. MENJAGA RAHASIA

Seorang suami harus pandai menyimpan rahasia rumah tangga mereka termasuk urusan jima'. Menceritakan tentang keburukan rumah tangga kepada orang lain sama artinya menurunkan kehormatan diri mereka. Wajar, dalam keluarga terjadi percekcokan dan salah paham. Oleh karena itu, jika terjadi persoalan dalam rumah tangga yang melahirkan celaan, umpatan, bahkan perilaku buruk lain yang tak terkendali, semua itu adalah rahasia rumah tangga yang seharusnya dijaga.

Persoalan yang mencuat harus dilokalisir untuk diselesaikan berdua dengan pikiran yang jernih, hati yangd ingin, dan sikap arif bijaksana. Salah satu kondisi berbahaya yang dapat menghancurkan bangunan rumah tangga, mengoyak tirai kehormatan, dan menyebarluaskan rahasia suami-istri adalah saat-saat hati sedang terbakar api emosi dan kemarahan.

9. BERSIKAP SANTUN DAN SABAR

Sabar termasuk kunci yang dapat menyejukkan suasana dalam kehidupan rumah tangga. Ketenangan keluarga, seberapa pun kadarnya, pasti pernah mengalami goncangan, baik penyebabnya dari luar maupun dari dalam sendiri. Tapi itu bukanlah air yang tercela, Ia menjadi aib apabila tak kunjung redam atau bahkan semakin berkembang.

Suami seharusnya tetap sabar dan tahan diri menghadapi itu semua, jangan terpancing emosi dan terburu-buru memvonis. Tahanlah perasaan dan selesaikan masalah tanpa menggunakan kekerasan. Hadapi dengan tenang dan sikap lemah lembut, yakinkan dahulu persoalannya dan tempatkanlah ia pada tempatnya dengan kebesaran jiwa.

10. MAAFKAN DAN MENEGUR

Sifat ini harus dimiliki suami yang shaleh dan menjadi hiasan bagi dirinya dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Suami mesti memiliki perangai suka memaafkan. Dengan demikian ia dapat menjalankan roda kehidupan rumah tangga secara baik. Sebaliknya, rumah tangga yang dimpimpin oleh suami yang tak memiliki jiwa pemaaf akan menimbulkan banyak masalah. JIwa pemaaf dan lapang dada sangat dibutuhkan, karena suami bisa saja keliru ketika membenci sesuatu pada istrinya.

Watak pemaaf adalah salah satu dari perangai Rasulullah yang telah diwujudkan dalam kehidupan rumah tangganya beserta para istrinya.

Riwayat-riwayat yang menceritakan bagaimana beliau menghadapi sikap Aisyah karena dikuasai emosi dan rasa cemburu, merupakan bukti kongkrit keteladanannya selain merupakan mutiara agung yang mesti kita pungut.

Semoga dengan mengetahui beberapa pilar di atas bisa menjadikan para suami lebih arif dan bijaksana. jika dirasa postingan ini bisa bermanfaat juga untuk yang lain jangan lupa untuk dibantu dishare ya.