Kesabaran Yang Selalu Terjaga Meski Menghadapi Cobaan

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Semasa hidupnya, Ali bin Abi Thalib, selain dikenal sebagai sosok yang alim dan bijaksana karena keluasan ilmunya, ia juga dikenal sebagai khalifah yang tegas dan penyabar, walaupun berbagai hujatan datang menghampirinya.

Ali bin Abi Thalib ( Foto @Source )

Ali mulai bertindak sebagai pengawal Nabi Muhammad Saw sejak usianya masih 14 tahun. Para pemuda Quraisy, atas anjuran orang tua mereka, sering melempari Nabi dengan batu. Ali memenuhi tugas sebagai pembela Nabi, dia melawan para pemuda itu.

Selang beberapa hari, dia mendapat nama panggilan Qadhim (pembanting) dan tidak seorang pun berani melempar sesuatu kepada Nabi ketika Ali mendampinginya dan dia tidak akan pernah membiarkan Nabi Muhammad pergi sendirian.

Bahkan, pada suatu ketika Ali benar-benar menunjukkan keikhlasannya untuk menjadi tameng Rasulullah Saw saat beliau hijrah. Ali rela menggantikan tempat tidur Rasulullah yang pada saat itu beliau sedang berada dalam ancaman pembunuhan oleh orang-orang Quraisy.

Ali pun mau sehingga dia dijuluki sebagai pahlawan Islam yang pertama. Ali tidak hanya tumbuh menjadi pemuda cerdas, namun juga berani dalam medan perang. Dengan pedangnya yang diberi nama Zulfikar, Ali banyak berjasa membawa kemenangan di berbagai medan pertempuran umat Islam ketika itu.

SOSOK PEMIKIR

Ketika Rasulullah masih hidup, Ali memang senantiasa selalu mendampingi sosok yang selama ini ia cintai. Namun, kehidupan Ali berubah drastis ketika Rasulullah Saw wafat. Ia lebih suka menyepi, bergelut dengan ilmu, dan mengajarkan Islam kepada murid-muridnya. Di fase inilah, Ali menjadi sosok dirinya yang lain, yaitu seorang pemikir.

Sejak saat itulah Ali bin Abi Thalib yang awalnya dikenal sebagai ahli pedang menjadi kalam (pena). Hal itu ia lakukan hingga ia akhirnya dinobatkan sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan yang telah wafat. Ali masuk menjadi khalifah di saat umat Islam sedang dalam kondisi perpecahan, lahirnya berbagai macam kelompok dalam Islam sendiri merupakan tantangan bagi Ali untuk kembali membenahi kehidupan umat Islam ketika itu.

Pada saat menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib berkonsentrasi membenahi kondisi umat. Terutama, pada sisi administrasi pemerintahan, ekonomi dan stabilitas pertahanan. Beberapa reformasi fundamental, seperti penggantian pejabat dan pengambilan kembali harta yang pernah diberikan oleh khalifah sebelumnya (Utsman bin Affan) menyulut kontroversi. 

Pusat pemerintahan pun dipindahkan ke Kuffah. Dari sini kemudian ia mengendalikan wilayah Islam yang ketika itu sudah meluas termasuk Syam. Kondisi ketika itu benar-benar membutuhkan ketegasan. Sebagai khalifah terakhir dalam bingkai Khualafa Ar-Rasyidin, Ali bin Abi Thalib dihadapkan pada masa pelik.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...