Jalan Ruhani

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Sudah hampir lima tahun, pemuda itu nyantri di pesantren salaf milik kyai tersohor di sebuah kampung terpencil. Selama itu pula, ia mencecap pelajaran yang diajarkan sang kyai. Ia bahkan nyaris tidak pernah melewatkan pelajaran. Tapi, ia setengah hati mempraktekan prinsip-prinsip dan jalan yang ditunjukkan oleh kyai itu. Wajar, ia tak mengalami perubahan dan, karena itu, ia mulai merenung.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Suatu malam, ia menemui kyai, "Wahai kyai," ia membuka percakapan, "Sudah bertahun-tahun saya tinggal di pesantren, mendengarkan nasehat dan pelajaran dari kyai. Tapi saya merasa tak mengalami perubahan."

"Terus," kata sang kyai kalem." apa yang ingin kau tanyakan?"

"Selama saya tinggal di sini, sudah banyak santri yang datang dan pergi. Sebagian berhasil dan saat pulang bisa meniru jejak kyai; hidup damai secara batin. Tapi tak sedikit yang pernah belajar di sini tak mengalami hal yang sama lantaran sebagai santri, termasuk saya, ternyata tidak mengalami perubahan sejak datang ke sini. Kenapa kyai tidak mengerahkan kekuatan yang kyai miliki untuk membantu atau membimbing saya dan sebagian dari mereka agar kelak bisa meniru jejak kyai?"

Kyai tak kaget dengan pertanyaan itu. Tetapi kyai menjawab pertanyaan santri itu dengan sebuah pertanyaan. "Di mana rumahmu?"

Jelas, santri itu bingung, sebab pertanyaan diacuhkan sang kyai. Tapi santri itu tetap menyebutkan kota asalnya dan bahkan bercerita panjang lebar tentang desanya yang asri dan masih murni.

"Apa kamu masih sering pulang ke rumahmu?"

"Sering, kyai," jawab santri tersebut, tanpa ragu.

"Jika kamu sering pulang, berarti kamu hapal jalan pulang?"

"Saya hapal di luar kepala, kyai! Bahkan seandainya saya pulang dengan mata terpejamkan sekali pun, saya pasti tak akan tersesat."

"Jika kamu hapal jalan ke rumahmu, dapatkan kamu menggambarkan kepada orang lain yang ingin menempuh jalan yang sama denganmu?"

"Tentu saja, kyai! Saya sering menjelaskan pada siapa saja yang hendak menempuh perjalanan ke rumah saya dengan gamblang. Sebab bagi saya, tak ada gunannya menjelaskan sebuah jalan yang menyesatkan!"

"Lalu dari sekian banyak orang yang pernah bertanya padamu," tanya kyai, "Apa semuanya menindaklanjuti dengan menempuh perjalanan itu?"

"Tidak," jawab santri itu. "Tak jarang, bahkan mereka sekedar bertanya."

"Dari mereka yang bertanya, lalu menindaklanjuti dengan satu tindakan, ada berapa yang bisa berhasil mencapai jalan yang kamu gambarkan itu?"

"Hanya bisa dihitung jadi, kyai! Karena hanya mereka yang memiliki tujuan dan niat teguh saja yang kemudian sampai ke sana."

"Nah, jawaban itulah penjelasan yang sebenarnya kamu tanyakan. Kita memiliki pengalaman yang mirip. Tak sedikit orang yang datang dan belajar di pesantren ini sekedar mendengarkan apa yang saya jelaskan, tetapi tidak mau melangkah untuk meraih tujuan itu."

"Maka, hanya mereka yang menindaklanjuti dengan tindakan dan yang tidak menyerahlah yang bisa mengikuti jejakku. Aku senang bisa berbagi pengalaman denganmu. Oleh karena itu, kalau kau ingin menempuh jalan yang pernah saya alami itu maka kau harus menempuh sendiri jalan yang telah saya jelaskan itu!"

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...