Ini Dia Sahabat Rasulullah Yang Hobi Berdebat

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - 'Amr bin al'Ash termasuk jajaran orang cerdas Arab yang paling beken. Dia punya segudang alasan dan argumen dalam berdebat. Lawan debatnya bungkam mendengar argumentasinya. Dia juga mampu menerangkan berbagai persoalan dengan lugas sekaligus selaras dengan tujuan dan maksudnya. Siapakah sosok sahabat Rasulullah SAW. yang satu ini?

Ilustrasi

SOSOK SANG 'AMR

Orang yang bernama 'Amr bin Al-'Ash ini memang sudah terkenal sangat cerdas, banyak akal dan jenius. Ia termasuk jajaran orang cerdas Arab yang paling beken. Dia punya segudang alasan dan argumen dalam berdebat.

Argumentasinya mampu membungkam lawan debatnya. Dia juga mampu menerangkan berbagai persoalan dengan lugas sekaligus selaras dengan tujuan dan maksudnya. Dari sinilah, segala keinginannya bisa tercapai dengan mudah, sebab lawan bicaranya secara tidak sadar sudah digiring untuk mengikuti alur pemikirannya.

Sebagai orang yang banyak akal, beliau bisa keluar dari posisi yang sangat sempit dan sulit untuk berkelit atau menghindar. Kalau keadaan sudah demikian mendesak, dia tidak jarang menggunakan keenceran otaknya yang luar biasa itu untuk memecahkan persoalan yang melilitnya.

Kebetulan semua keputusan dan idenya itu bisa efektif dan efisien dalam menyelesaikan persoalan sehingga dia bisa keluar dari kemelut yang ada.

Di sebut jenius karena beliau memang termasuk orang yang sangat pandai dalam pemikiran dan cepat tanggap. Alasan-alasannya masuk akal, pikiran-pikirannya juga bisa langsung terlontarkan ketika dibutuhkan. Terlebih dia banyak belajar membaca dan menulis.

Selain itu, dia juga seorang penyair yang luar biasa. Kefasihan dalam bersyair dan retorika sudah tidak perlu diragukan lagi. Lebih membanggakan lagi dia adalah orang yang paling bisa bicara di kalangan kaumnya.

'Amar bin Al-'Ash termasuk pahlawan Quraisy yang cukup disegani kawan dan ditakuti lawan. Karena dia punya pengetahuan yang luas dalam masalah peperangan serta menguasai segala seni perang. Lebih dari itu, dia juga mahir memainkan semua jenis senjata yang ada pada waktu itu.

Secara fisik, 'Amr tidak terlalu tinggi. Tubuhnya agak kurus. Tetapi kulitnya putih dengan wajah yang selalu dihiasi senyum ceria. Kedua matanya bulat dan lebar. Anehnya, tidak seperti orang Arab kebanyakan, dia malah tidak suka memelihara jenggot bahkan mencukurnya sehingga dagunya bersih dan rapi. Rambutnya pun senantiasa disemir hitam.

SIKAP-SIKAP JAHILIYAH

'Amr bin al-'Ash punya posisi terhormat di kalangan kaumnya. Kedudukannya sebagai pemimpin menjadikannya selalu di taati. Bila bicara tentang para pembesar Quraisy tidak bisa dilepaskan dari dirinya. Menurut cerita, pada waktu itu semua kalangan Quraisy bersepakat untuk membunuh Muhammad bin Abdullah serta membendung arus penyebaran risalah dan penyampaian dakwahnya.

'Amr bin al-Ash banyak terlibat dalam sejumlah pertempuran melawan Rasulullah Saw, baik dalam perang Badar, Uhud atau pun Khandaq.

Karena kuatnya siksaan dan teror terhadap kaum muslimin pada masa itu, terpaksalah mereka hijrah ke Negeri Habsyah (Etopia saat ini) atas perintah Rasulullah Saw. Di sana mereka hidup dengan damai dan sejahtera di bawah payung pemerintahan Raja Najasyi yang adil.

Akan tetapi kaum Quraisy masih merasa tidak puas dengan keadaan kaum muslimin yang sudah menemukan kedamaian dan ketenangan tersebut.

Untuk menyengsarakan mereka, kaum Quraisy mengutus dua orang duta untuk bertemu dengan Raja Najasyi. Tujuannya adalah untuk membujuknya agar mau mengusir kaum muslimin. Asal tahu saja, ide ini muncul dari otak 'Amr bin al-'Ash.

Mari kita dengarkan cerita dari 'Amr bin al-'Ash sendiri tentang asal-muasal dia bisa mengatur rencana itu sebelum dia masuk Islam :

Ketika kami pulang dari peperangan Khandaq dengan menelan kekalahan pahit, aku mengumpulkan sejumlah sesepuh Quraisy. Mereka meminta pendapatku dan menyimak setiap ucapanku.

'Kalian semua telah mengetahui, demi Tuhan, bahwa risalah Muhammad telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sungguh pesat. Untuk membendung ini aku punya gagasan yang cukup brilian, bagaimana pendapat kalian?" kata 'Amr bin al-'Ash.

Karena pada waktu itu mereka sama sekali tidak punya gagasan, maka mereka hanya saling pandang saja. Mereka pun berujar : "Kalau boleh tahu gagasan seperti apa yang kamu tawarkan kepada kami?"

"Aku punya ide, bagaimana kalau kita mendekati Raja Najasyi sehingga kita bisa menguasai dan mempengaruhinya. Kalau kemudian ada konflik antara kaum Muhammad dengan kuam kita, maka kita bisa minta perlindungan kepada Raja Najasyi. Keberadaan kita di bawah kekuasaan Raja Najasyi dan itu jauh lebih menguntungkan daripada kalau kita berada di bawah kekuasaan Muhammad. Kalau keadaan sudah seperti itu, niscaya kita pasti bisa menebak bahwa hanya keuntunganlah yang bisa kita petik," jelas 'Amr binal-'Ash.

"Ini baru ide yang cemerlang," kata mereka.

"Sekarang cepat kalian kumpulkan apa saja yang bisa kita hadiahkan kepada Raja Najasyi itu untuk meluluhkan hatinya," kata 'Amr bin al-'Ash.

Kami sudah tahu bahwa sesuatu yang paling baik untuk dijadikan hadiah kepada Raja Najasyi adalah lauk dan bumbu. Untuk itu, kami telah menghimpun sedemikian banyak lauk dan bumbu. Selepas itu, kami berangkat ke sana sampai tiba di negeri kekuasaan.

Namun, demi Allah, betapa kagetnya kami ketika mengetahui bahwa di sana sudah ada 'Amr bin 'Umayyah Al-Dhamari. Rasulullah Saw telah mengutusnya untuk sebuah kasus yang ada hubungannya dengan Ja'far dan para sahabatnya.

'Amr bin al-'Ash menjelaskan kepada Raja Najasyi tentang masalah kaum muslimin, terutama kejelekan-kejelekannya. Karena ingin berlaku adil, Raja Najasyi tidak mau menerima begitu saja keterangan dari 'Amr bin al'Ash ini. Karena itu, dia minta agar wakil dari kaum muslimin dihadirkan dihadapannya supaya bisa didengar keterangannya.

Tentang peristiwa ini, Ummu Salamah yang nama aslinya Hindun, istri dari Abdullah bin Abd al-Asad, bercerita secara mendetail pertemuan antara 'Amr bin al-'Ash dengan Raja Najasyi:

Ketika kami telah tiba di negeri itu, kami bertemu dengan tuan rumah yang sangat ramah. Di dalamnya, kita bisa hidup aman sentosa untuk memeluk Islam dan menyembah Allah. Ketika berita tentang keadaan kami sampai ke kaum Quraisy, mereka agak dengki pada kami. Akhirnya, mereka mengutus dua orang duta paling pandai di antara mereka kepada Raja Najasyi: 'Amr bin al-'Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah.

Keduanya membawa sejumlah hadiah yang mewah untuk Raja Najasyi dan para punggawanya. Hadiah-hadiah itu dibawa dari negeri asal Hijaz. Mereka berdua dipesankan bahwa kalau ingin berbicara dengan Raja Habasyah hendaknya sebelumnya mereka mempersembahkan hadiah kepada raja sebagai cara untuk membuka pintu hatinya.

Ketika sampai di negeri Habsyah, keduanya bertemu dengan para punggawa raja. Setiap kali berjumpa dengan punggawa raja, mereka langsungs aja melimpahkan hadiah. Hadiah-hadiah itu dibagikan secara merata kepada semua punggawa. Tidak ada satu pun punggawa yang ketinggalan. Setelah itu, baru 'Amr bin al-'Ash mengungkapkan maksud dan tujuan mereka datang ke Habsyah kepada punggawa tersebut:

"Begini ceritanya wahai tuan punggawa sekalian. Di negeri kami (Quraisy), ada seorang anak kemarin sore yang berani-beraninya keluar dari agama nenek moyang sehingga memecah belah kesatuan kaum. Kami minta kalau nantinya tuan berbicara di hadapan raja tentang mereka, hendaknya tuan punggawa sekalian mau memudahkan jalan agar sang raja bersedia untuk menyerahkan mereka kepada kami tanpa bertanya tentang agama mereka. Karena para ulama kaum Quraisy mestinya lebih tahu dan memahami tentang keliruannya keyakinan anak kemarin sore (Muhammad) dan sahabat-sahabatnya itu."

"Baiklah kalau itu permintaanmu. Itu sih gampang, bisa diatur," kata salah satu punggawa.

Tidak ada yang lebih dijengkeli oleh 'Amr bin al-'Ash dan rekannya kecuali kalau Raja Najasyi memanggil salah satu dari keduanya dan ingin mendengar secara langsung apa yang ingin mereka sampaikan. Tetapi sang raja sudah memanggil, sehingga terpaksa mereka berdua harus hadir.

Keduanya menghadap Raja Najasyi sekaligus mempersembahkan sejumlah hadiah. Sang Raja agak terkejut tetapi cukup menghargai penyajian hadiah itu. Kemudian keduanya mengajukan perminyaan :

"Paduka yang mulia," ucap 'Amr bin al-Ash memulai tuduhannya. "Sesungguhnya di negeri paduka ini telah tiba sekelompok pemuda yang paling bejat dari kaum kita. Mereka membawa agama yang tidak kami kenal ataupun Anda kenal. Mereka memecah belah agama kita dan tidak masuk agama paduka."

"Untuk menanggulangi hal itu", kata 'Amr menjelaskan permintaannya, "Para sesepuh kaum Quraisy telah mengutus kami sebagai delegasi kepada paduka agar kiranya paduka berkenan mengembalikan mereka kepada kaumnya. Karena para sesepuh itu terdiri dari bapak, paman dan rekan-rekan senior para pemuda tersebut. Kiranya seperti paduka ketahui, sesepuh pastilah lebih mengetahui bahwa para pemuda tanggung itu datang untuk menebar kekacauan di mana-mana."

Sang raja menatap punggawanya. Sang punggawa yang sudah disuap hadiah ini pun menjelaskan:

"Keduanya benar paduka. Sesungguhnya kaum mereka lebih mengerti dan paham dengan apa yang mereka lakukan. Hendaknya paduka bersedia mengembalikan mereka kepada kaumnya agar mereka sendiri yang memutuskan masalah ini."

Alangkah murkanya sang raja mendengar ucapan punggawanya ini. Dengan keras dia menghardik:

"Tidak, demi Allah. Sekali lagi tidak! Akut idak akan menyerahkan satu orang pun sampai aku memanggil mereka dan menanyai mereka satu persatu apa yang dituduhkan ini. Kalau memang mereka itu seperti yang di laporkan dua delegasi ini niscaya aku akan menyerahkan mereka. Tetapi kalau sebaliknya, maka aku akan melindunginya dan berlaku bijak kepada mereka."

Kemudian sang Raja Najasyi memerintahkan ajudannya untuk memanggil kaum muslim menghadap.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...