Hak Mulut Manusia Tak Hanya Untuk Makan Dan Minum?

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
Di tempat perantauan, keberadaan teman kerap menjadi harta berharga yang tidak ternilai. Betapa berharganya keberadaan teman itu, saya buktikan sendiri. Lulus SMU, saya ingin melanjutkan kuliah ke Yogya.

Hati saya sempat ciut, bukan lantaran dihantui kesulitan untuk mengerjakan soal-soal ujian yang nanti akan saya kerjakan, namun semata-mata hanya terbayang pertanyaan, "Dimana saya akan tinggal selama ujian, sementara saya tak punya sanak famili di Yogya?"

Ilustrasi

Untung, saat saya SMU dan tinggal di pesantren, punya kakak kelas yang lebih dahulu kuliah di Yogya. Jadi, kost kakak kelas saya itu menjadi tempat tubuh saya tidur sebanyak 3 hari, selama menjalani ujian. Ia bahkan memberikan semacam kunci dalam memecahkan soal-soal ujian sehingga saya lolos seleksi.

Sampai kini, masih saya ingat kebaikannya itu meski sudah lama berlalu. Apalagi ia sempat membuat saya sadar akan fungsi mulut untuk berdoa.

Masih saya ingat, malam pertama saat datang ke kost-nya, rasa capak membuat saya ditikam kantuk. padahal, saat itu malam sudah memasuki waktu untuk menunaikan shalat Isya'. Akhirnya, saya putuskan untuk tidur dahulu dan berencana bangun malam hari untuk shalat Isya' sekaligus belajar.

Meski mengantuk, saya masih melihat ia shalat Isya' di sebelah saya. Usai salam, saya nyeletuk, "Tolong, saya didoakan agar lolos seleksi, ya!"

Tak terbayangkan di benak saya, kalau ia langsung menoleh kepadaku dan dengan nada sumbang berucap, "Hei, Allah itu Maha Mengetahui. Tanpa aku berdoa pun, Allah sudah tahu apa yang ada di dalam benakku. Jadi untuk apa aku mengutarakan dengan mulut lagi meminta kepada Allah agar kamu lolos seleksi?"

Saya melongo! Hati kecil saya berpikir kalau apa yang diucapkan itu memang tidak salah. Usai shalat Isya', dia tak berdoa dengan mulutnya untuk mengutarakan kepada Tuhan akan apa yang saya minta. Ia langsung melipat sajadah, melipat sarung dan mendekap selimut. Dengkur di malam yang sunyi, lalu memecah kekelaman. "Apa ia benar telah berdoa dalam hatinya untuk diriku?" saya tak tahu!

Usai ujian, saya pulang. Tatkala saya kembali ke Yogya, setelah dinyatakan lolos ujian, saya tak lagi bertemu dengannya. Dia pindah kontrakan. Jejaknya tak bisa saya endus. Bahkan tiga tahun kemudian, setelah saya diajak seorang teman nonton film di bioskop, saya kembali mencarinya ke penjuru Yogya. Tapi tak ketemu juga. Saya dengar ia sudah lulus dan pulang ke kampung halamannya.

Padahal misi saya mencarinya ke penjuru Yogya semata-mata ingin menceritakan tentang kisah percintaan dalam film yang saya lihat di biskop. Yang saya lihat itu. Dikisahkan Romeo-Juliet saling jatuh cinta dan tak mungkin bisa dipisahkan. Karena itulah, perbedaan kelas tak membuat Romeo "patah arah".

Ia nekat meloncati tembok rumah Juliet untuk menjumpai sang pujaan hati. Setelah Romeo berhasil melompati tembok, ia pun ingin segera menumpahkan isi hatinya untuk mencium bibir Juliet.

Tapi apa yang dilakukan Juliet? Sungguh di luar dugaan! Dengan hari telunjuknya, dia justru menutupi bibir Romeo dan berucap, "Tuhan menciptakan mulut bukan untuk mencium, melainkan untuk berdoa."

Saya tak tahu; apa kakak kelasku sempat menonton film Romeo & Juliet atau tidak. Sebenarnya, saya mencarinya ingin bercerita tentang hal itu dan mengatakan bahwa mulut itu merupakan satu organ ciptaan Allah yang tak hanya untuk makan, minum dan bicara melainkan juga punya hak untuk mengagungkan nama Allah. Mulut pun memiliki hak untuk berdoa.

Baca Juga Yang Lainnya: