Enggan Berbagi, Bisnis Jadi Merugi

Friday, February 9, 2018
Advertisement
AkuIslam.Id - Allah SWT telah memberi peringatan kepada Junaidi. Laki-laki asal Sidoarjo tersebut mengalami kebangkrutan setelah enggan membantu keluarganya yang membutuhkan. Berikut kisahnya.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Sedekah mampu mendatangkan keberkahan bagi orang yang melakukannya. Begitu juga sebaliknya, kurang sedekah dapat berakibat buruk dalam hidup seseorang. Itulah yang tergambar dalam perjalanan hidup seorang warga Sidoarjo. Sebut saja namanya Junaidi, yang memiliki toko busana di sebuah mal di Surabaya.

Mulanya, sosok Junaidi dikenal sangat ulet dalam urusan bisnis, sehingga tidak butuh waktu lama untuk mengumpulkan banyak uang. Usahanya semakin menanjak tajam hingga ia memiliki dua toko busana yang cukup besar. Sayangnya, kesuksesan yang didapatkan tidak diikuti dengan sedekah.

Bahkan seiring dengan perjalanan hidupnya itu, ia seakan lupa terhadap kedua orang tua yang telah memberikan dorongan serta kasih sayang sejak ia dilahirkan. Hal itu mulai tampak saat dirinya melangsungkan pernikahan hingga dikaruniai seorang anak.

ENGGAN BERBAGI

Kesuksesan Junaidi dalam menjalankan roda usahanya tentu juga membuat semua keluarganya ikut senang. Maklum, sejak dulu mereka terbiasa hidup dengan penuh kesederhanaan hingga kehadiran Junaidi di tengah-tengah mereka menjadi kebanggan tersendiri. Paling tidak, Junaidi diharapkan membantunya sedikit demi sedikit.

Namun sayangnya, laki-laki yang akrab disapa Mas Jujun ini seakan tidak peduli dengan harapan itu. Ia seakan melupakan keluarganya begitu saja. Jangankan memberikan bantuan, memberikan pinjaman uang pun seringkali dipersulit dengan alasan yang beragam.

Sebagian keluarganya pun mulai beralih pandangan. Mereka yang semula memberikan apresiasi akhirnya menyayangkan sikapnya.

Sebagaimana yang diakui Afandi, kakak kandung Junaidi, bahwa adik sulungnya itu benar-benar mulai banyak terpengaruh oleh budaya perkotaan yang individualis. Jangankan membantu temannya, terhadap keluarganya sendiri pun ia kurang peduli.

Suatu ketika saudara perempuannya yang tinggal di Madura sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Dalam kondisi itu, tentu saja mereka membutuhkan pinjaman uang yang tidak sedikit. Namun setelah Junaidi dihubungi, ia selalu sibuk dan dengan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menjenguk dan tidak bisa membantu.

"Itu yang paling saya sayangkan. Adik saya itu benar-benar sudah tidak peduli terhadap keluarganya," jelas Afandi

BANGKRUT & SENGSARA

Suatu ketika, keluarga Junaidi mendapat musibah. Rumah yang ditinggali di Madura rata dengan tanah setelah terkena angin puting beliung. Beruntung, kejadian itu tidak mengakibatkan korban jiwa. Namun bagaimana pun juga, orang tuanya itu harus segera membangun kembali rumahnya untuk di tempati.

Mendapatkan kabar yang demikian, Junaidi pun menyatakan siap memberikan bantuan uang yang cukup banyak. Setelah rumah itu jadi, ternyata bantuan yang ia berikan tidak dianggapnya percuma, melainkan dihitung sebagai utang.

Ia pun selalu mendesak orang tuanya untuk segera melunasinya. padahal sehari-hari orang tuanya hanya berjualan gorengan di depan sekolah yang penghasilannya tidak seberapa. "Saat itu tidak ada akad utang, tapi bantuan itu dianggap utang," imbuhnya.

Sejak itulah, nama Junaidi menjadi buah bibir keluarga dan warga sekitar rumahnya. Kesuksesan Junaidi yang mulanya dibanggakan mereka pun akhirnya terbalik. Dalam sekejab, usaha Junaidi bangkrut, hingga rugi puluhan juta dan terpaksa menutup usahanya.

"Dalam kondisi seperti itu, ia tetap enggan bergaul dengan keluarga, padahal kami tidak pernah menganggapnya musuh," pungkas Afandi.