Balasan Untuk Anak Durhaka

Monday, February 12, 2018
Advertisement
AkuIslam.Id - Meski terlahir menjadi anak dari seorang Nabi, namun Kan'an justru berseberangan dengan ayahnya, Nabi Nuh As. Kan'an menolak beriman kepada Allah seperti yang didakwahkan ayahnya. Akibatnya, Kan'an menerima balasan yang pedih akibat dari kedurhakaannya.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Dengan penuh kesabaran dan ketabahan selama lebih dari sembilan ratusa tahun, Nabi Nuh As berdakwah pada kaum Armenia. Nabi Nus As mencegah mereka dari kemusyrikan dengan mengajaknya beriman kepada Allah SWT. Akan tetapi kaum Aremania tetap menolak Tauhid yang disampaikan Nuh As.

Akhirnya Allah menghukum mereka dengan banjir pertama yang membinasakan mereka yang musyrik, sedangkan mereka yang beriman diselamatkan Allah SWT.

Salah satu orang yang mendapatkan azab itu adalah Kan'an, putra dari Nabi Nuh As. Selama ini Kan'an hanya berpura-pura menyembah Allah, namun di hatinya tetap menganggap patung-patung sebagai tuhannya.

MENOLAK BERIMAN

Ketika kaum Armenia telah sedemikian kafirnya dengan menyembah patung, Nabi Nuh mendapatkan petunjuk dari Allah untuk membuat perahu yang besar. Perahu itu dibuat karena akan ada azab Allah berupa banjir yang sangat besar. Meski mendapatkan cibiran dari orang-orang musyrik atas tindakannya itu, namun Nabi Nus As tak memperdulikannya. Ia melakukan semua petunjuk Allah SWT.

Setelah perahu selesai dibuat, masuklah sekitar 80 orang yang beriman dan beberapa pasang hewan ke dalam perahu besar itu. Akan tetapi dari mereka yang masuk, Nabi Nuh tak menemukan anak serta istrinya.

Lantas dari atas perahu Nabi Nuh justru melihat Kan'an berada di puncak gunung yang tinggi bersama orang-orang kafir.

"Wahai anakku, naiklah (ke perahu) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir," ajak Nuh kepada putranya.

"Tidak, Aku akan mencari perlindungan ke atas gunung yang dapat memeliharaku dari banjir," kata Kan'an mengelak.

Jawaban itu membuat Nabi Nuh bersedih. Selama ini ia menganggap Kan'an telah beriman kepada Allah, tetapi ternyata semua itu hanya kepura-puraan.

"Tidak ada yang bisa melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang," (QS Hud: 43).

Lalu tergeraklah naluri kasih sayang seorang ayah. Maka Nabi Nuh pun berseru kepada Allah.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar, dan Engkaulah hakim yang seadil-adilnya," (QS Hud: 45).

MATI TENGGELAM

Nabi Nuh As ingin berkata kepada Allah SWT, anaknya termasuk dalam keluarganya yang beriman, sedangkan Allah telah berjanji akan menyelamatkan keluarganya yang beriman. Tetapi Allah berkata dan menjelaskan kepada Nabi Nuh keadaan yang sebenarnya. Anak Nabi Nuh hanya berpura-pura beriman di hadapan ayahnya.

"Hai Nuh, sesungguhnya dia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya perbuatannya tidak baik. Sebab itu, janganlah engkau memohon kepadaku, sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikatnya). Aku peringatkan kepadamu, janganlah kamu termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan," (QS Hud: 46).

Nabi Nuh segera sadar setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah mendatangkan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir, termasuk putranya sendiri.

Lalu dari langit turun hujan yang sangat deras. Seketika itu banjir besar terjadi melampaui ketinggian pohon dan puncak gunung. Akhirnya seluruh permukaan bumi diselimuti oleh air dan tak ada satu pun yang selamat, termasuk Kan'an. Kan'an yang durhaka telah menerima balasan dari Allah SWT.