Akibat Tidak Amanah Terhadap Barang Temuan

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Ketika itu saya masih remaja, menjadi pedagang asongan, karena tidak bisa meneruskan sekolah. Aku berdagang di sekitar Harmoni, Pecenongan dan Pasar Baru, kira-kira tahun 1985.

Dompet Jatuh ( Foto @Source )

Seperti umumnya para pemulung dan pedagang asongan saat itu, jika mandi dan buang hajat selalu di pinggir kali Ciliwung yang kotor. Siang itu, saya habis buang hajat di tempat yang disediakan di pinggiran kali. Saat mau pergi, saya melihat dompet tergeletak di atas tembok. Karena tidak ada orang, saya mengambilnya.

Sampai di tempat yang sepi, sambil istirahat, saya membuka dompet itu. Ternyata, isinya KTP dan uang sekitar Rp. 27.000,- Jumlah itu besar nilainya saat itu, lebih-lebih untuk ukuran saya, seorang pedagangan asongan.

Tanpa beban dan pikiran apa-apa, saya mengambil uang itu, sementara KTP dan dompetnya saya buang. Uang itu saya pergunakan untuk keperluan pulang mudik ke kampung halaman, di daerah Kuningan, Jawa Barat. Saya tidak cerita kepada siapapun, termasuk orang tua saya. Mereka menganggap uang yang saya bawa berikut oleh-oleh, adalah hasil dagang selama ini.

Selang beberapa tahun, tidak ada kejadian apa-apa. Namun, saat usia saya menginjak dewasa dan mempunyai kios rokok sendiri, saya sering kehilangan dompet. Dan posisi hilangnya, rata-rata di WC umum.

Dua kali dompet saya hilang di tempat yang sama. Saat itu saya masih anggap hal biasa, akibat alfa. Isinya pun hanya KTP dan uang yang tidak begitu besar jumlahnya.

Namun, yang ketiga kalinya, saya sangat terpukul, karena dompet yang hilang itu berisi uang yang cukup besar, uang yang pada mulanya untuk membayar tukang karena saya habis membangun rumah. Saya sampai menjual sawah di kampung untuk menutupi biaya tukang bangunan karena sudah terlanjut janji mengenai waktu pembayarannya.

Yang keempat kali, lebih parah lagi. Saat itu, saya mau belanja dagangan, uangnya pun minjam dulu dari teman, karena saya baru datang dari kampung. Sebelum belanja, saya mampir ke WC umum di pasar, untuk buang hajat. Dompet saya letakkan di tembok atas. 

Namun, waktu keluar, saya lupa mengambilnya lagi. Saat mau belanja, uang berikut dompetnya tidak ada. Saya baru ingat, dompet ketinggalan di WC umum tadi. Saya langsung lari menuju WC, tetapi dompet itu sudah tidak ada di tempat saya menaruhnya. Padahal waktunya hanya berselang sebentar.

Saya pulang dari pasar dengan perasaan lemas sekali. Hati dan pikiran saya kalut. Tidak dapat belanjaan dan harus mengganti uang teman saya yang jumlahnya cukup besar.

Dari situ saya berpikir dan merenung. Sampai akhirnya saya ingat, waktu masih remaja, menemukan dompet berikut isinya, tetapi tidak berusaha mengembalikan kepada yang punya. Saya berpikir, inilah pembalasan atas kelakuan saya dulu. Menemukan dompet sekali, kehilangan empat kali.

Sampai saat ini, saya ingin minta maaf kepada si pemilik dompet yang dulu saya temukan. Tetapi kepada siapa dan dimana? Saya bingung. Sebab, dulu tidak memperhatikan KTP-nya. Saya hanya bisa memohon ampun kepada Allah SWT. atas semua kesalahan dan kelakuan saya.

Sekarang, jika menemukan uang atau barang, saya tidak berani mengambilnya. Ini berlaku juga, kalau belanja ada kelebihan barang karena kealfaan agen, saya mengembalikannya. Besar ataupun kecil nilainya.

Mudah-mudahan pengalaman ini menjadi hikmah dan pelajaran berharga buat yang membacanya dan terutama menjadi pelajaran yang begitu berharga untuk saya sendiri.

Kisah diatas dikirim oleh Sobs hanyatauaja.com bernama Rosidi dari Jakarta. Buat Sobs yang mau berkirim-kirim kisah silahkan kirimkan kisahnya melalui email kami hanyatauaja@yahoo.com dengan subject "KISAH SAHABAT" kita akan segera mempublish kisah Anda disini.

Related Posts