Akibat Meninggalkan Rumah Suami

Friday, February 2, 2018
Advertisement
AkuIslam.Id - Peristiwa ini terjadi dua tahun yang lalu. Tapi sampai kini saya masih terus mengingatnya dan menjadikannya sebagai sebuah pelajaran berharga.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Sebagai seorang muslim yang dididik ketat sejak masih sekolah, saya sudah mengetahui bahwa hak suami atas istri adalah sangat besar. Rasulullah SAW bersabda: "Dua golongan yang shalatnya tidak bermanfaat bagi dirinya, yaitu hamba yang melarikan diri dari rumah tuanya sampai ia pulang, dan istri yang melarikan diri dari rumah suaminya sampai ia kembali." (HR Hakim, dari Ibnu Umar).

Saya pun mengalaminya. Sebagai suami istri yang sama-sama bekerja pada instansi pemerintah, terkadang terlintas dalam pikiran saya bahwa sebenarnya saya bisa makan dan memenuhi kebutuhan hidup sendiri tanpa tergantung pada suami. pikiran semacam itulah yang terkadang membuat saya berani membantah bahkan melawan pada suami. Meski dalam hati saya tahu kalau itu sangat berdosa.

Suatu hari, karena sebab yang sangat sepele, saya marah dan melancarkan aksi mogok bicara. Seperti biasa, suami saya tetap bersabar dan berusaha menegur saya dengan kata-kata manis. Entah mengapa, saya bukannya tersentuh, malah semakin jengkel.

Dan sepulang kantor, dengan masih memakai seragam dinas, saya berkata hendak pergi ke tempat orang tua saya yang letaknya sekitar 50 km dari kediaman saya dan suami.

Suami saya tahu kalau saya cuma ingin memancing kemarahannya. Dengan sabar pula, dia menanyakan keperluan saya dan menawarkan untuk mengantar dengan mobil keluarga. Mendengar hal itu, betapa setan makin merajalela di hati saya.

Dengan ketusnya, saya menolak tawarannya. Saya puas bila melihat wajah suami yang kecewa dan sedih saat itu.

Saya lalu pergi naik kendaraan umum. Namun, saya tidak mampir ke rumah orang tua. Saya cuma ngeluyur dari toko ke toko, membeli barang-barang yang tidak perlu hanya untuk melampiaskan nafsu saja. 

Setelah puas, saya mengunjungi rumah salah seorang teman sewaktu masih bersekolah dulu dan menginap semalam di sana. Karena esoknya Minggu, maka saya masih bisa mengulur-ulur waktu dengan berjalan-jalan bersama teman lama saya itu.

Sesudah shalat Ashar, saya pun berpamitan. Itupun karena saya teringat pada putri bungsu saya yang masih berusia dua tahun. Setelah hampir 2 jam dalam perjalanan, akhirnya saya sampai di depan rumah. 

Hari hampir gelap. Suami saya tampak duduk menunggu di kursi teras sambil memangku putri bungsu kami. Senyumnya mengembang melihat kedatangan saya.

Saat itu saya baru menyadari betapa sabarnya suami saya itu. Ketika hendak membuka pintu pagar halaman, entah bagaimana tiba-tiba saya terpeleset dan jatuh terduduk. Yang lebih aneh lagi, jatuh yang menurut saya tidak berarti apa-apa itu menyebabkan saya tidak bisa bangkit sendiri. Pergelangan tangan kanan saya terasa sangat sakit. Suami saya terkejut dan memapah saya untuk ke dalam rumah.

Ternyata pergelangan tangan saya patah. Hampir tiga bulan lamanya saya tidak bisa menggunakan tangan kanan saya itu. Sampai sekarang, saya merasa malu dan takut bila teringat peristiwa itu. Jelas itu adalah teguran Allah pada saya, karena saya tega menyakiti hati suami dan pergi meninggalkannya.