Akibat Dari Gurauan

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Peristiwa ini terjadi pada bulan Nopember 2004 yang lalu. Saat itu, saya adalah seorang satpam di sebuah instansi rumah sakit swasta.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Sudah menjadi kebiasaan kami (saya dan seorang rekan) dalam setiap menjalankan tugas untuk duduk-duduk santai di depan pos satpam guna memantau pengunjung yang keluar masuk rumah sakit.

Waktu itu, ketika, kami sedang asyiknya berbincang-bincang dengan tukang parkir yang ada di depan rumah sakit, seorang pengunjung yang jalannya pincang (kakinya panjang sebelah) lewat di depan kami. Begitu melihat si pincang tadi, secara spontan temannya saya si tukang parkir langsung nyeletuk dengan usil, "Wah, lihat orang itu!. Dia menghina yang buat jalan rupanya."

Saya yang kurang respon dengan ucapannya langsung balik bertanya, "Menghina bagaimana Pak?" Tanpa banyak penjelasan seraya tertawa terbahak-bahak tukang parkir itu menunjuk ke arah si pincang sambil berkata, "Lihat saja jalannya itu! Ha..Ha...Ha..." kemudian, obrolan serta gurauan berlanjut dengan topik-topik lain, sampai akhirnya kami harus kembali disibukkan dengan tugas-tugas masing-masing.

Keesokan harinya, ketika saya kembali bertugas, saya tidak menemukan si tukang parkir itu bekerja seperti biasanya. Yang ada hanya temannya saja yang menjaga sendirian. Keadaan ini berlangsung sampai 3 hari, dan pada hari ke 4nya si tukang parkir masuk kerja kembali. Betapa terkejutnya saya melihat mukanya yang lebam dan jalannya yang pincang-pincang.

Belum habis keterkejutan saya, dia terus bercerita bahwa sepulang kerja 4 hari yang lalu, saat dia mengendarai sepeda motor, ia menabrak tumpukan pasir yang ia tidak tahu ada di hadapannya. Apalagi, sepeda motor itu dikendarinya dengan kencangnya. Akhirnya terjadilah apa yang sekarang ini dialaminya.

"Subhanallah Pak! Yang sabar ya, mungkin ini peringatan dari Allah akibat gurauan kita tempo hari," hibur saya padanya. Dan setelah kejadian itu kami tidak pernah lagi menggunjing orang-orang yang cacat maupun orang-orang lain yang melintas.

Kami berusaha untuk ngobrol yang bermanfaat saja, atau kalau tidak lebih baik kami diam dan membaca koran atau majalah yang ada.

Semoga kisah ini bisa diambil hikmahnya agar kita jangan sekali-kali menghina ciptaan Allah walaupun itu hanya gurauan saja.

Related Posts