Ustadz Sobri Dan Hobi Mancing

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Ustadz Sobri dikenal sebagai sosok yang berwibawa, pintar dan tidak terlalu akrab dengan para santrinya. Orangnya jaga image betul. Setiap tindakan selalu dihitung-hitung. apakah akan membawa dampak buruk buat dirinya ataukah tidak. Termasuk dengan hoby mancingnya.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Saat itu, di kalangan santri muncul asumsi bahwa hobi mancing bukanlah kebiasaan yang mulia. Karena itu, jarang sekali santri di Pesantren Darul Hikmah yang memiliki hobi pakai kail ini, termasuk para ustadz dan kyainya.

Namun, pantangan ini ternyata dilanggar Ustadz Sobri. Kebetulan, tak jauh dari kawasan pesantren ada balong yang cukup luas. Balong itu sering dipakai orang-orang untuk mancing. termasuk Ustadz Sobri. Tapi, ia tak ingin hobinya itu diketahui oleh santri dan orang-orang. Sebab, orang lain akan melaporkan hobinya itu ke kyai dan ia bisa kena damprat.

Maka diaturlah strategi. Suatu malam, sekitar pukul 02.00 dini hari ia bersijingkat keluar dari rumahnya seraya membawa pancing. Ia pergi menuju balong dengan sebuah lampu pion sebagai penerang. Malam itu, Ustadz Sobri akhirnya bisa melampiaskan hobinya. ia dapat ikan yang banyak. Tapi, di tengah asyiknya memancing, tiba-tiba adzan Shubuh bergema dari masjid pesantren. Ia pun bergegas pulang. Karena tergesa-gesa saat berjalan, ia tersandung batu. Ikan-ikan hasil pancingannya berjatuhan, menimpa badannya. Seketika bau anyir pun menyeruak dari pakaian Ustadz Sobri.

Setibanya di rumah, Ustadz Sobri tidak sempat mengganti pakaiannya karena waktunya tak mencukupi. Selain itu, pakaiannya yang lain juga sedang direndam oleh istrinya untuk dicuci. Akhirnya, berbekal pakaian semula, Ustadz Sobri pun pergi ke masjid guna menunaikan shalat Shubuh berjamaah bersama para santri dan kyai.

Seperti biasa, habis shalat diadakan pengajian kitab kuning. Kebetulan, saat itu yang menjadi pengajarnya adalah Ustadz Sobri sendiri. Maka, tak ayal lagi, Ustadz Sobri pun langsung duduk di depan para santri untuk mengajar kitab kuning. Sementara pak kyai pergi ke tempat yang berbeda untuk mengajar para santri lain.

Belum lama Ustadz Sobri mengajar, tiba-tiba, bau amis tercium para santri. Salah seorang santri senior pun bertanya kepada Ustadz Sobri, "Pak Ustadz, kok bau amis ya!?"

Pura-pura tidak mengerti, Ustadz Sobri pun menjawab, "Masak Sih!?"

"Coba Ustadz rasakan dengan seksama!"

Akhirnya, Ustadz Sobri pun mengakui kalau memang ada bau amis di sekitar masjid. "Tapi, dari mana ya bau ini?" tanya Ustadz Sobri, masih tidak mengaku.

"Dari kondisinya sih kayaknya dari arah Ustadz." jawan santri senior.

"Ah, kamu mengada-ngada."

"Iya, betul Ustadz," serentak santri menegaskan.

Pengajian kitab kuning pagi itu pun akhirnya terlena dan lebih membahas masalah bau amis. Sang santri senior tiba-tiba berani berceletuk, "Ustadz habis mancing ya!?"

"Ah, enggak! Kamu jangan mengada-ngada. Badanku memang agak amis, tapi bukan habis mancing," jawab Ustadz Sobri mengelak.

"Lantas, kenapa?"

"Tadi, sebelum ke masjid saya masak ikan dulu di rumah untuk sahur karena besok saya akan puasa sunnah. Saya tidak sempat mengganti baju ini karena waktunya mepet," ujar Ustadz Sobri yang kelihatan terpojok dan mulai memerdayai santrinya.

Para santri itu akhirnya percaya. Tapi, sang santri senior ini masih tidak percaya. Ia akan membuktikan kepada para santri kalau Ustadz Sobri ini memang hobinya memancing. Soalnya, ia mendengar dari salah seorang warga kalau Ustadz Sobri pernah membawa pancing di suatu malam menuju balong.

Santri senior pun berusaha membuat jebakan. Malam itu sengaja ia tidak tidur. Bersama teman sekamarnya, ia memantau keadaan rumah Ustadz Sobri. Ia yakin bahwa Ustadz Sobri akan keluar untuk memancing. Dugaan santri senior ternyata benar. Setelah dua jam memantau, akhirnya, Ustadz Sobri keluar dari rumahnya dengan membawa sebuah pancing. "Ah, kamu akhirnya kena!" ujar santri senior dalam hati.

Ustadz Sobri pergi menuju balong. Tanpa disadarinya, santri senior itu mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba kaki santri senior terkantuk batu. Ia pun jatuh. Mendengar ada suara berisik di belakang. Ustadz Sobri pun menoleh ke belakang.

Tapi, tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Ia pun melanjutkan perjalanannya kembali. Di tempat lain, sang santri senior merasa plong hatinya karena tidak ketahuan ulahnya.

Ustadz Sobri pun tiba di balong. Sementara santri senior mengintainya dari balik pohon. Tak lama kemudian Ustadz Sobri masuk ke dalam toilet yang ada di sekitar balong. Mereka menduga pasti gurunya itu sedang buang hajat kecil. Tapi, setelah ditunggu-tunggu, sang ustadz belum muncul juga. Tanda tanya pun menyeruak ke dalam pikiran mereka.

Maka muncullah ide untuk melihat aksi Ustadz Sobri di dalam toilet. Dengan bertingkat, mereka mendekati toilet. Namun, betapa kagetnya! Ternyata mereka melihat Ustadz Sobri sedang mancing di bak (baskom besar). Mereka benar-benar terkejut tak percaya.

"Pak Ustadz, mancing kok di bak?!"

Namun, ustadz itu tidak menjawab, hanya cengengesan terntawa. "Ada apa sebenarnya?" tanya mereka. Selidik punya selidik, ternyata orang yang ditemuinya saat memancing itu bukan Ustadz Sobri, melainkan kembarannya. Ternyata Ustadz Sobri sudah mengetahui gelagat santri seniornya yang akan menjebak dirinya. Karena itu, saudara kembarnya pun disuruh untuk menggantikan dirinya memancing malam itu. Saudara kembar Ustadz Sobri memang kurang waras otaknya. Ia dilarang muncul di kalangan pesantren oleh kakaknya tersebut. hingga santri senior dan temannya itu tidak tahu kalau lelaki yang pergi di tengah malam untuk mancing itu ternyata saudara kembarnya Ustadz Sobri. Untuk kesekian kalinya, para santri pun kecolongan.

Begitulah, dengan kecerdasan dan kelihaiannya, hobi mancing Ustadz Sobri tak pernah diketahui oleh santri-santrinya. ia punya banyak cara untuk memerdayai kecurigaan para santrinya tentang hobinya itu.

Related Posts