Ummu Salamah, Wanita Cerdas Yang Dilamar Rasulullah

Wednesday, January 10, 2018
Assalamualaikum, Jangan lupa selalu Like juga ya fanspage kami (FANSPAGE AKU ISLAM), agar lebih mudah terkoneksi dengan kami tentunya.

Advertisement
AkuIslam.Id - Ummu Salamah menghadapi ujian dengan sabar. Ia sedih dengan kepergian suami tercintanya. Namun ia tetap pasrah dengan ketetapan Allah dan qadar-Nya. Ia yakin Allah akan memberikan yang terbaik bagi umat-Nya.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Ketika telah habis masa iddahnya, ada beberapa sahabat-sahabat ulama yang bermaksud untuk melamar beliau. Inilah kebiasaan kaum muslimin dalam menghormati saudaranya, yakni mereka menjaga istrinya apabila mereka terbunuh di medan jihad.

Akan tetapi Ummu Salamah menolaknya. Rasulullah turut memikirkan nasib wanita yang mulia ini. Beliau melihat tidak bijaksana rasanya apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping.

Pada suatu hari, pada saat Ummu Salamah sedang menyamak kulit, Rasulullah datang dan meminta izin kepada Ummu Salamah untuk menemuinya. Ummu Salamah mengizinkan beliau. Beliau ambilkan sebuah bantal yang terbuat dari kulit dan diisi dengan ijuk sebagai tempat duduk bagi Nabi.

Maka Nabi pun duduk dan melamar Ummu Salamah. Tatkala Rasulullah selesai berbicara, Ummu Salamah hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tiba-tiba beliau ingat hadis yang diriwayatkan oleh Abu Salamah, yakni, "Wakhlufli khairan minha" (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya).

Maka hatinya berbisik, 'Dia lebih baik daripada Abu Salamah.'

DILAMAR RASUL

Hanya saja ketulusan dan keimanannya menjadikan beliau ragu, beliau hendak mengungkapkan kekurangan yang ada pada dirinya kepada Rasulullah. Dia berkata, "Marhaban ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku tidak mengharapkan Anda ya Rasulullah, hanya saja saya adalah seorang wanita yang pencemburu, maka aku takut jika engkau melihat sesuatu yang tidak Anda senangi dariku maka Allah akan mengadzabku. Lagi pula saya adalah seorang wanita yang telah lanjut usia dan saya memiliki tanggungan keluarga."

Maka Rasulullah bersabda, "Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita yang telah lanjut usia, maka sesungguhnya aku lebih tua darimu dan tiadalah aib manakala dikatakan dia telah menikah dengan orang yang lebih tua darinya. Mengenai alasanmu bahwa engkau memiliki tanggungan anak-anak yatim, maka semua itu menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita pencemburu, maka aku akan berdoa kepada Allah agar menghilangkan sifat itu dari dirimu."

Maka beliau pasrah dengan Rasulullah. Dia berkata, "Sungguuh Allah telah menggantikan bagiku seorang suami yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah."

CERDAS & MATANG

Ummu Salamah adalah seorang wanita yang cerdas dan matang dalam memahami persoalan dengan pemahaman yang baik dan dapat mengambil keputusan dengan tepat pula. Hal itu ditunjukkan pada peristiwa Hudaibiyah manakala Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk menyembelih qurban selepas terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika itu, para sahabat tidak mengerjakannya karena sifat manusiawi mereka yang merasa kecewa dengan hasil perjanjian Hudaibiyah yang banyak merugikan kaum muslimin.

Maka Rasulullah masuk menemui Ummu Salamah dalam keadaan sedih dan kecewa. Beliau ceritakan kepada Ummu Salamah perihal kaum muslimin yang tidak mau mengerjakan perintah beliau. Maka Ummu Salamah berkata, "Wahai Rasulullah apakah Anda menginginkan hal itu? Jika demikian, maka silahkan Anda keluar dan jangan berkata sepatah katapun pada mereka lalu Anda menyembelih unta Anda, kemudian panggillah tukang cukur Anda untuk mencukur rambut Anda (tahallul)." Rasulullah menerima usulan Ummu Salamah. Manakala para sahabat melihat apa yang dikerjakan oleh Rasulullah, maka mereka bangkit dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah.

Setelah Rasulullah telah meninggal, maka Ummu Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan kecerdasannya dalam setiap persoalan untuk menjaga lurusnya umat dan mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih lagi terhadap para penguasa dari para Khalifah maupun para pejabat.

Tatkala tiba bulan Dzulqa'dah tahun 59 setelah hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta sedangkan umur beliau sudah mencapai 84 tahun. Beliau wafat setelah memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.