Terbenam Sebatas Leher Di Samping Kuburan Ibu

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - "....Kami perintahkan kepada manusia Supaya berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandung serta menyusuinya adalah tiga puluh bulan. (QS. Al-Ahqaf: 15).

Ilustrasi ( Foto @Source )

Apa yang dialami Sarwan, kita sebut saja begitu, sungguh sangatlah memilukan dan mengguncang perasaan siapa saja. Seluruh tubuh Sarwan terbenam semuanya dalam posisi tegak di dalam tanah. Hanya kepalanya saja yang tinggal di permukaan tanah. Orang-orang berduyun-duyun melihat kejadian langka itu.

Sebelumnya beberapa orang sudah berusaha menggali tanah dan berusaha menolong Sarwan. Namun pekerjaan mereka seperti sia-sia karena tanah yang menimbun Sarwan sangat keras seperti semen dan tubuh Sarwan seperti merekat di dalamnya.

Cangkul, linggis, dan peralatan lainnya yang digunakan untuk menggali tanah seperti menimpa batu keras hingga tak sedikit pun tanah yang mengurung dan membenamkan Sarwan dapat dihalau apalagi disingkirkan.

Karena merasa sudah sia-sia berusaha menolong Sarwan, sebagian orang yang iba melihat nasib anak muda malang itu lalu memancangkan batang-batang kayu dan menaruh sepotong terpal diatasnya agar kepala Sarwan terhindar dari panas.

"Beberapa diantaranya juga memberi minum dan menyuapi Sarwan dengan makanan ala kadarnya," ujar Sar, salah seorang warga.

Entah apa yang ada di dalam pikiran Sarwan karena ia hanya memandang kosong ke depan. Matanya seperti menerawang dan tampak guratan penyesalan yang sukar dilukiskan kedalamannya. Orang-orang yang menyaksikannya juga hanya dapat bergetar perasaannya tanpa tahu harus berbuat apa. Beberapa diantaranya hanya dapat beristighfar sebanyak-banyaknya.

Kisah memilukan ini terjadi di sebuah dusun di pulau Sumatera, kita sebut saja desa itu desa Air. Pada masanya kisah ini sangat mashyur dan beredar di sekian banyak orang dan sekian banyak tempat. Hal ini dapat dimengerti karena memang kejadian yang menimpa Sarwan sangatlah langka.

Apa yang dituturkan Dalam kisah ini merupakan hasil dari pengumpulan informasi dari berbagai pihak yang bersentuhan dengan kisah ini. Semoga kisah ini bisa kita ambil pelajarannya dan semoga Allah SWT menghindarkan kita dari kesesatan dan memaafkan segala kekhilafan kemanusiaan kita.

INGIN PUNYA MOTOR

Kehidupan Sarwan sebagai anak muda di kampungnya yang bersahaja, berjalan sebagaimana layaknya. Tak ada yang mencolok dari kehidupan anak desa yang tinggal bersama ibu dan tiga orang saudaranya itu. Ia sering berkumpul dengan teman-temannya dan mulai tumbuh menjadi anak muda yang merespon zamannya.

Karena itulah barangkali ia berkeinginan memiliki sebuah sepeda motor. Di daerahnya memang sangat nyaman memiliki sepeda motor sebab selain untuk gengsi, memiliki motor dapat memudahkan aktivitas sebab tak adanya angkutan umum yang memadai di wilayah tempat tinggal Sarwan, terlebih kampung Air yang berada beberapa kilometer dari jalan utama.

Bukan pemandangan yang aneh jika di wilayah tempat tinggal Sarwan yang masih dikelilingi hutan-hutan lebih banyak sepeda motor yang beroperasi dibanding jenis kendaraan lain. Pada masa itu juga sudah mulai trend anak-anak muda yang bermain kebut-kebutan di jalanan umum yang memang lebih sering lengang karena minimnya mobilitas kendaraan yang menggunakannya.

Namun keinginan Sarwan sebenarnya tak pada tempatnya. Ibunya, Mak Piah, kita sebut saja demikian, hanyalah wanita miskin yang pekerjaannya menyadap karet. Bisa dibayangkan, amatlah sukar bagi seorang yang berprofesi mengumpulkan setetes demi setetes getah karet yang kemudian menjualnya dengan harga murah kepada penadah, untuk memiliki uang sekian juta agar bisa memiliki sepeda motor. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja penghasilan seorang penyadap karet tidaklah mencukupi.

Tapi rupanya keinginan Sarwan adalah keinginan yang bulat. "Mak, belikanlah aku motor," pintanya hampir di setiap kesempatan. Lama-kelamaan ia tak hanya meminta tapi mulai mendesak. Mak Piah hanya dapat mengurut dada dan menarik nafas panjang menanggapi keinginan anak laki-lakinya itu.

Terbesit juga dalam hatinya untuk memenuhi keinginan anaknya itu, tapi ia sangat sadar itu tidaklah sebuah hal yang mudah baginya.

"Sabarlah, dikumpulkanlah uangnya dulu," ujarnya meredam keinginan anaknya yang seperti sudah tidak tertahan itu. Entah, bagaimanakah bayangan mengumpulkan uang itu dalam kepala ibu yang sedang mendapat ujian tersebut.

Mendapat ucapan yang "menghibur" seperti itu rupanya tak baik bagi seorang Sarwan. pada setiap kesempatan membicarakan motor ia jadi seperti seorang debt collector yang menagih hutang, menekan dengan emosional. Ia menagih dan terus menagih ucapan ibunya itu.

"Mak, ayolah, kapan motorku dapat dibelikan," ujarnya pada ibunya.

"Uangnya belum ada, Wan," ujar Mak Piah perlahan.

"Pokoknya aku harus punya motor. Mak sendirikan yang berjanji memenuhinya," ujar Sarwan lagi.

Biasanya jika sudah terlibat obrolan yang tak mengenakkan itu, Mak Piah akan memilih diam dan menghindar. Tentu saja Sarwan menjadi keki dan makin tidak rasional. Ia bahkan mulai memaksa ibunya menjual kebun karet yang selama ini menyangga hidup keluarganya. Kebun itu sendiri tak seberapa luasnya.

Pendaman perasaan Sarwan pun makin tak bisa dikendalikan hingga sampai pada suatu waktu ketika perkara minta sepeda motor itu mencapai titik tragisnya.

MEMUKUL DENGAN BALOK KAYU

Seperti biasa ketika kebetulan berada di rumah, Sarwan kembali mengajukan pertanyaan tentang sepeda motor. Sudah kebal dan terbiasa menanggapi keinginan putranya yang tak tahu diri itu, sang ibu tak terlalu menanggapinya, Mak Piah malahan masuk ke dalam kamarnya.

Ketika sang ibu masuk ke dalam kamar, Sarwan terus-menerus mengoceh tentang motor itu. Ternyata di dalam kamarnya Mak Piah tengah menunaikan shalat. Entah setan apa yang hinggap di hati Sarwan, ia menjadi gelap mata, amarahnya sudah tak terbendung lagi. Ia mengambil sepotong balok kayu dan berjalan pasti ke dalam kamar ibunya. 

Tak terpikir lagi di kepalanya bahwa ia adalah seorang anak dan perempuan yang tengah menunaikan shalat itu adalah ibu yang telah mengandung dan menyusuinya. Nafsu amarah sudah demikian merasuki hati dan pikirannya. Hingga tanpa ampun Sarwan mengayunkan balok kayu itu dengan keras ke tengkuk ibunya....Bukkkkkkk!

Terdengar teriakan tertahan dari perempuan yang tengah menghadap Tuhannya itu. Tubuh ibu malang itu pun tersungkur ke atas sajadahnya dan diam tak bergerak lagi.

Kampung Air pun gempar mendengar kematian Mak Piah. Tentulah tak ada yang menyangka Mak Piah yang tak terdengar mengidap sakit itu dikabarkan meninggal dunia. Tetangga dan kerabat pun berkumpul di rumahnya dan memulai persiapan untuk menguruz jenazahnya.

Namun terjadi keanehan ketika jenazah Mak Piah akan diangkat untuk dipindahkan ke dipan, Jasadnya terasa berat dan sulit untuk diangkat. Namun ketika Sarwan yang maju untuk mengangkatnya, jenazah sang ibu dapat diangkat dan dipindahkan.

Begitu pula saat akan dipindahkan untuk dishalatkan. Tak ada yang mampu mengangkat kecuali Sarwan. Orang-orang pun mulai curiga dan berbisik-bisik kenapa hal yang tak biasa itu dapat terjadi.

Hingga sampailah jasad akan dimasukkan ke dalam liang lahat. Lagi-lagi karena seperti tak ada yang kuasa memasukkan tubuh ibu malang itu ke lubang persemayamannya, Sarwan Lah yang mengangkat dan meletakkannya ke dalam liang lahat. Ketika ituylah tiba-tiba saja tanah bekas galian itu seperti longsor dan menimbun tubuh Sarwan sampai sebatas leher. Sarwan pun meronta berusaha membebaskan diri. Tampak urat-urat di kepalanya mengeras dan keringat mulai membanjiri pipinya. Namun semuanya sia-sia, tanah itu seperti mengurungnya dengan sangat kuat.

Orang-orang yang menyaksikan kemudian berusaha menolong. Alat-alat yang ada di lokasi seperti cangkul dan linggis digunakan mengorek tanah di sekitar tubuh Sarwan. Tapi usaha orang-orang itu sia-sia karena tanah yang ada di sekitar kepala Sarwan seperti semen yang keras.

Lalu sadarlah semua orang yang ada di situ, bahwa apa yang dialami Sarwan terhubung dengan kematian ibunya. Akhirnya mereka pun tahu Sarwanlah yang telah membunuh Mak Piah dan apa yang tengah menimpa Sarwan merupakan ganjaran dari perbuatan mahadurhaka itu. Karena merasa yang terjadi merupakan satu hal yang di luar jangkauan manusia, mereka pun pasrah dan hanya dapat memandangi kepala Sarwan yang ada di permukaan tanah dengan perasaan campur aduk.

Orang-orang pun gempar hingga dalam waktu singkat berita menghebohkan tentang anak durhaka itu menyebar cepat. Untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan, daerah sekitar kejadian kemudian dijaga. Sarwan sendiri hanya dapat menyesali perbuatannya.

Orang-orang yang menyaksikan bagaimana dahsyat ganjaran yang harus diterima Sarwan juga tersentuh hatinya dan merasa iba atas tragedi yang menimpa anak muda itu. Mereka lalu berinisiatif membuats emacam pondok ala kadarnya untuk melindungi kepala Sarwan. Beberapa diantaranya juga memberi makan dan minum dengan cara menyuapi pelan-pelan. 

Demikianlah, selama tiga hari Sarwan terpendam dengan tragis seperti itu sampai akhirnya ia meninggal. Setelah meninggal, tubuhnya baru dapat diangkat dari timbunan tanah. Wallahu A'lam.....

HIKMAH YANG BISA DIDAPAT DARI KISAH SARWAN DI ATAS

Banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dari kisah ini. Kita ketahui bahwa Nabi telah menyatakan bahwa seorang ibu adalah orang yang paling berhak mendapat bakti seorang anak, berlipat tiga dibanding ayah, sebagaimana dijelaskan sebuah hadist masyhur dari Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah. 

Kisah Juraij yang tertimpa fitnah berat karena mengabaikan panggilan ibunya juga menjadi contoh. Juraij yang merupakan orang saleh difitnah telah menghamiliki seorang pelacur hingga si pelacur itu melahirkan. Hanya dengan pertolongan Allah-lah Juraij selamat setelah si bayi tersebut menyebut siapa ayahnya yang sebenarnya. Padahal Juraij tak menyahut panggilan ibunya itu saat ia sedang shalat.

Nabi juga pernah melarang seorang laki-laki pergi berjihad fi sabilillah karena ia memiliki orangtua yang masih hidup, karena berbakti kepada orangtua lebih berpahala di sisi Allah dibanding berjihad. Hadits dari Mughirah bin Syu'bah juga menegaskan bahwa Nabi menyebut, Allah melarang durhaka kepada ibu.

Kita juga sudah sangat hapal ayat ke-23 suray Al-Israa: "...Hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari mereka atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' saja sudah dilarang apa lagi menyakiti secara fisik dan membunuhnya.

Kisah Sarwan ini juga mengajarkan kita untuk mawas diri dan tak menuruti hawanafsu. Nafsu duniawi yang tidak pada porsinya untuk dituntut hanya akan membuat setan masuk dan leluasa menjerumuskan diri kita dalam kehinaan. Semoga Allah menjadikan kita orang yang dapat berbakti pada ibu dan ayah kita.

Related Posts