Tafsir Poligami Lebih Dari Empat Istri

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Tafsir tentang surah An Nisa ayat 3 tentang poligami ternyata berbeda dengan tafsir pada umumnya. Ada yang menafsirkan bahwa ayat itu menunjukkan bahwa menikah lebih dari empat diperbolehkan. Berikut penjelasannya.

Ilustrasi Poligami ( Foto @Source )

POLIGAMI (polygynia) adalah ikatan pernikahan, di mana seorang suami mempunyai beberapa orang istri. Walaupun dalam tataran sosial kemasyarakatan poligami ini dianggap 'tercela' oleh kebanyakan orang, terutama kaum wanita.

Namun yang wajib disadari oleh semua umat Islam, pria-wanita, adalah bahwa Allah SWT Yang Mahatahu membolehkan poligami. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: "Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap hak-hak wanita yatim (jika kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita lain yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja...." (QS An-Nisaa' ayat 3).

DIPERBOLEHKAN

Kebolehan Poligami ini juga diperkuat oleh riwayat mutawatir (aklamatif, pasti benar), bahwa Rasulullah Saw melakukan poligami, bahkan dengan banyak istri dalam kurun waktu yang sama. Istri-istri Rasulullah Saw adalah: Khadijah binti Khauwailid ra (sampai wafat beliau menjadi isteri tunggal Rasulullah Saw selama sekitar 25 tahun). Sepeninggal Khadijah ra, Rasulullah Saw menikahi Saudah binti Zam'ah ra, 'Aisyah binti Abu Bakar ra, Zainab binti Khuzaimah ra, Zainab binti Jachsy ra. hindun Ummu Salamah al-Makhzumiyyah ra, Ummu Chabibah binti Abu Sufyan ra, Juwairiyyah binti al-Charits ra, Shafiyyah binti Chuyaiy ra, dan Maimunah binti al-Charits ra.

Oleh karena itu jangan ada umat Islam, khususnya wanita, yang menentang poligami, karena sama artinya menentang Allah dan Rasul-Nya. Tetapi kalau tidak mau berpoligami atau tidak sudi dipoligami, itu adalah hak asasi yang dibenarkan dan dihargai Islam. Jadi poligami itu ibarat sate kambing, yang halal dan berdosa bagi yang mengharamkannya, tetapi orang boleh tidak mau memakannya.

Terkait berapa jumlah wanita yang boleh dipoligami oleh seorang laki-laki, maka hampir selufuh fuqaha' (ulama ahli fiqih) sepakat bahwa dalam satu kurun waktu yang sama seorang laki-laki hanya boleh menikah maksimal 4 (empat) orang wanita.

Hal ini didasarkan antara lain pada pemahaman ayat 3 surah An-Nisaa' di atas, bahwa kalimat matsnaa wa tsulaatsa wa rubaa' itu dimaknai dua dua, tiga tiga, dan empat empat, sehingga maknanya dua saja atau tiga saja atau empat saja. Juga didasarkan pada hadis dari Ibnu Umar, bahwa Ghailan ats-Tsaqafiy masuk Islam sedang dia mempunyai 10 (sepuluh) orang isteri.

Maka Rasulullah Saw menyuruhnya untuk memilih empat orang saja sebagai isteri dan menceraikan yang lainnya (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan at-Turmudziy).

Dalam riwayat lain diceritakan, bahwa Qais bin al-Charits sebelum masuk Islam memiliki 8 (delapan) orang isteri. Kemudian setelah masuk Islam. Rasulullah Saw menyuruhnya memilih empat orang saja sebagai isteri, sedang yang lain agar diceraikan secara baik-baik (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah). Hal ini diperkuat oleh tidak adanya sahabat yang beristeri lebih dari 4 (empat) orang pada masa Nabi Saw dan sesudahnya, tidak juga dari kalangan tabi'in.

TAFSIR LAIN

Tetapi ada segolongan ulama Syi'ah Rafidlah dan Dhahiriyyah yang berpendapat bahwa jumlah maksimal wanita yang boleh dinikahi adalah 9 (Sembilan) dengan alasan, bahwa huruf 'wa' dalam kalimat matsnaa wa tsulaatsa wa rubaa' itu berarti "dan" sehingga maknanya dua dan tiga dan empat yang berarti sembilan. hal ini diperkuat oleh pelaksanaan poligami Rasulullah Saw yang dalam satu kurun waktu memiliki istri 9 (sembilan) orang.

Mencermati argumentasi para fuqaha' dari dua kubu di atas harus saya akui bahwa secara argumentasi akademis historis, kebahasaan dan kenyataan sejarah, ulama yang memahami bahwa jumlah maksimal isteri yang diperkenankan adalah 9 orang, tidak dapat disalahkan, karena di mana pun dan kapan pun "wa" dalam bahasa Arab itu artinya memang "dan", apalagi pemaknaan ini didukung oleh pelaksanaan poligami Rasulullah Saw yang dalam satu kurun waktu memiliki istri 9 (sembilan) orang, dan ini jelas mutawatir, semua orang tahu. Lebih-lebih semua hadis yang menceritakan tentang keharusan memilih istri hanya empat dan menceraikan yang lain itu tidak ada di shahih al-Bukhariy atau Muslim, dua kitab hadis yang paling kredibel kesahihannya, bukan pula hadis mutawatir yang amat mustahil urusan umum secara pernikahan, tidak banyak sahabat yang tahu.

Tetapi ketika membaca referensi dalam kitab-kitab fiqih dan tafsir, baik dari kalangan Sunniy maupun Syi'iy ternyata seluruhnya berpendapat bahwa batas maksimal istri yang boleh dimiliki seorang laki-laki dalam satu masa adalah 4 (empat) orang dengan argumentasi pemahaman seperti tersebut di atas. Dengan demikian hal ini dapat dinyatakan sebagai ijma'ul ummah (kesepakatan aklamatif umat Islam) yang nilai kehujjahannya paling tinggi.

Penyimpangan dari ijma'ul ummah dalam hal waajibaat (yang diwajibkan) atau mucharramaat (yang diharamkan) berarti sesat. Wallaahu a'lam.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...