Nikmat Sehat

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.Id - Benar kata orang bijak bahwa 'Sehat itu mahal harganya'. Sehat tak bisa dinilai dengan rupiah. Berapa pun banyaknya kekayaan yang kita miliki, agaknya tak bisa menggantikan nikmat sehat.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Sehat menjadi hal yang penting dalam kehidupan kita. Pasalnya, aktivitas apa pun yang menumpuk bisa terselesaikan selama jiwa dan raga sehat. Sebaliknya, pekerjaan sekecil apa pun, jika kondisi tidak fit bisa menjadi pekerjaan besar yang sangat berat. Jangan heran, puluhan juta hingga ratusan juta rupiah bisa melayang demi membayar sebuah nilai kesehatan.

Mahalnya sebuah kesehatan itu bisa kita lihat dengan banyaknya orang kaya yang berobat ke luar negeri. Meski tarif pengobatannya selangit, mereka tidak peduli. Dalam kondisi bingung dan panik, orang yang berobat memang tidak lagi berpikir soal nominal rupiah yang akan dikeluarkan, tapi bagaimana ia bisa kembali sehat.

Wajar jika kemudian banyak orang menilai bahwa apalah artinya punya banyak uang, jika tak bisa menikmatinya lantaran ada penyakit yang menggerogoti; apalah artinya gelimang harta dan kemewahan, sementara kita hanya bisa memandangi tanpa bisa memanfaatkannya karena sakit? Semuanya menjadi tidak berarti, semuanya menjadi tidak ada.

Mungkin ada sebagian orang berdalih bahwa uang bisa mengubah segalanya. Dengan uang, orang yang sakit bisa kembali sehat; toh ada dokter dari berbagai spesialisasi yang siap membantu. Tapi siapa bisa menjamin bahwa upaya dokter bisa mengembalikan kesehatan seseorang?

Dokter hanyalah perantara, sedang pembuat sakit dan penyembuh yang sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata.

Jika tahu sumber segala sesuatu berasal dari Allah SWT, rasanya kita tak perlu risau lagi. Sembari berikhtiar mendapat kesembuhan, introspeksi diri lebih penting, karena kondisi beban yang tidak fit merupakan isyarat bahwa Allah sangat mengingat dan menyayangi kita. Mungkin juga hal itu cara Allah menegur kita; apakah mau mensyukuri dan tetap ingat kepada-Nya atau tidak?

Tak salah bila dalam pengajian dimana pun berada, khatib atau ustadz selalu wanti-wanti mengajak jamaah untuk selalu bersyukur terhadap nikmat yang telah dianugerahkannya Allah SWT dalam kondisi apa pun. Maka selagi sehat, kita manfaatkan nikmat sehat itu untuk jalan yang diridhai Allah SWT.

Dengan mata, kita bukan saja bisa melihat sesuatu yangbaik dan menjauhkan diri dari hal-hal yang berbau dosa, tetapi juga tidak tutup mata saat melihat banyaknya orang yang kelaparan karena kemiskinan. Dengan tangan, bukan saja digunakan untuk belajar, mengkaji al-Qur'an, tetapi juga ringan tangan mengulurkan bantuan kepada siapapun yang membutuhkan bantuan.

Demikian pula dengan kaki, punggung, dan kepala; bukan saja dipergunakan untuk hal-hal yang sifatnya ibadah yang sangat personal, melainkan juga untuk kemaslahatan umat yang jauh lebih besar. Otak bukan saja digunakan untuk memikirkan bagaimana memutar usaha pribadi, tetapi bagaimana gagasan dan sumbangsih kita bisa berarti bagi banyak orang.

Syukurilah nikmat sehat, karena orang yang pandai bersyukur disukai Allah. ia akan diberikan bonus tambahan dari yang sudah ada. Sebaliknya orang yang bersikap masa bodoh dan mengingkari pemberian-Nya akan mendapat sangsi berat.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...