Meremehkan Kemiskinan Yang Menimpa Orang Lain

Monday, January 8, 2018
Advertisement
AkuIslam.id - Peristiwa ini terjadi setengah tahun lalu ketika aku merantau di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saat itu, aku diperkenalkan pada seseorang yang menurut temanku adalah ahli agama Islam. Namanya Ustadz Hamdan. Karena jiwaku sedang gundah gulana dan merasa jauh dari Tuhan, perkenalan itu pun ku anggap sebagai rahmat Allah untukku.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Suatu hari, aku datang ke rumah Ustadz Hamdan. Namun, betapa terkejutnya aku ketika melihat keadaan rumahnya. Rumahnya benar-benar sudah tidak layak dihuni lagi. Temboknya berupa bata merah berwarna hijau tua penuh berlumut. Di dalamnya, hanya ada satu kamar saja. Atap rumahnya pun hanya berisi plastik bekas. Selebihnya lagi beratapkan langit.

Kedatanganku disambut istrinya yang tinggi dan kurus. Aku pun langsung dipersilahkan duduk di tikar kusam. Sejenak, aku langsung termenung membandingkan rumahnya dengan rumahku.

Sambil menunggu wanita itu ke belakang, aku memikirkan kemiskinan yang menimpa keluarga ini. Sifatku yang sombong dan sok elit tak bisa menerima kemiskinan seperti ini. Bagiku, miskin itu berarti malas untuk bekerja. Titik! Tiba-tiba, lamunanku buyar saat kulihat di depanku seorang anak kecil yang baru bisa berjalan memegang piring berisi nasi kasar di campur dengan air, sedikit garam dan kecap.

Aku sadar bahwa ia pasti anaknya. Setelah itu, anak laki-laki sekitar kelas dua SD muncul di hadapanku, Aku langsung bertanya, kenapa adiknya makan tanpa sayur dan lauk pauk. Dengan detail, ia menjelaskan bahwa ia sudah tidak ada lagi sayur-mayur atau lauk pauk lainnya.

Seketika itu, darahku mendidih antara marah dan menghina. Lebih-lebih setelah istrinya datang dan menerangkan bahwa suaminya sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah. Dalam hati, aku langsung mengumpat, "Dasar si melarat yang malas! Rajinnya cuma beranak, giliran memberi makan kalian sungguh teledor!"

Ternyata Allah Maha Kuasa begitu cepat merubah suatu keadaan. Singkat cerita, karena sesuatu hal, aku mundur dari pekerjaan. Sementara, uang hasil kerjaku yang sekian lama ku kumpulkan hilang ditipu orang yang hendak mengurus pekerjaanku ke Amerika.

Tak pernah kubayangkan dalam mimpi sekalipun, akhirnya aku harus berurusan dengan Ustadz Hamdan. Tiba-tiba, aku di tampung oleh keluarga Ustadz Hamdan untuk tinggal bersama mereka, keluarga yang pernah kumaki dan hina di dalam hati. Kendati begitu, aku masih bersyukur ke hadirat-Nya. Lantaran kejadian inilah, kini aku menyadari segalanya.